Makelar Pilkada



Tanggal 26 September 2014 pagi, DPR berhasil mengesahkan RUU Pilkada menjadi UU Pilkada. seharian dari tanggal 25 september 2014 DPR RI membahas hal ini dengan berbagai intrik yang terjadi. semua itu adalah bagian dari peran yang memang biasa dalam lembaga DPR untuk mengesahkan sebuah UU. 

Dalam proses pengesahan UU, pasti ada yang namanya Pro dan kontra. tapi bagaimanapun itu, pada akhirnya setelah diputuskan semua pihak harus menerima. kalau tidak mau menerima, kenapa mekanismenya mau diikuti? sejak awal saja tolak mekanisme itu. jangan mekanisme diikuti tapi ketika kalah mencak-mencak. itu namanya pengecut. 

Hasil sudah didapatkan sesuai dengan mekanisme, UU Pilkada sudah sah dan opsi yang diambil adalah Pemilihan Kepala Daerah di pilih oleh DPRD. 

Orang-orang yang tidak setuju dengan Pilkada melalui DPRD, ungkapkan ketidakpuasannya. itu hal yang biasa didalam iklim demokrasi Indonesia. tapi yang menjadi tidak biasa ketika mereka bilang bahwa keputusan itu TIDAK DEMOKRATIS dan MERAMPAS HAK RAKYAT. Ini namanya tindakan para pengecut. 

Kenapa tindakan pengecut??

Karena mereka menggunakan kata DEMOKRATIS, Tapi mereka tidak MENERIMA cara-cara DEMOKRATIS! Proses pengesahan RUU menjadi UU itu adalah Proses DEMOKRATIS! dan Proses itu adalah proses yang sah didalam mekanisme lembaga yang bernama DPR. kalau mereka anggap Mekanisme dan Proses didalam pengesahan RUU menjadi UU tidak Demokratis, Kenapa mereka ikut didalam proses itu? kan konyol namanya!

Mereka juga menggunakan kalimat MERAMPAS HAK RAKYAT! Tapi ketika ditanya sebutkan dimana HAK RAKYAT yang dirampas yang diatur didalam KONSTITUSI Negara kita? tidak ada yang bisa menjawab! 

SIFAT PENGECUT itu adalah ketika dia menang dia akan mengatakan ini sesuai dengan MEKANISME, Ini DEMOKRATIS dan MENYELAMATKAN HAK RAKYAT. ketika dia kalah maka dia teriak ini TIDAK FAIR, TIDAK DEMOKRATIS dan MERAMPAS HAK RAKYAT.

Dan ternyata bukan hanya sekelompok anggota DPR yang tidak setuju dengan PILKADA MELALUI DPRD walaupun secara konstitusi pola ini adalah pola yang benar, tapi ada orang-orang diluar dari Partai Politik yang ikut-ikutan teriak kencang, malah terlalu kencang teriaknya. 

Teriakan orang-orang diluar Partai Politik sebelum dan sesudah pengesahan ternyata banyak juga, dan teriakannya sama yaitu TIDAK DEMOKRATIS dan MERAMPAS HAK RAKYAT. walaupun sudah dijelaskan berkali-kali dan ditanyakan dimana hak rakyat dirampas tidak bisa dijawab, tetap saja mereka teriakkan hal tersebut. 

Ternyata usut punya usut, PILKADA LANGSUNG ini adalah Makanan Gurih! banyak sekali uang disana dan banyak sekali orang-orang cari nafkah didalam Pilkada! banyak orang yang ketika PILKADA Melalui DPRD (Yang sesuai dengan konstitusi) di wacanakan, mereka takut akan kehilangan LADANG PENCAHARIAN dan MATA PENCAHARIAN! 

Banyak sekali Para MAKELAR POLITIK dan MAKELAR PILKADA berteriak. jika mereka terus terang berteriak bahwa mereka akan kehilangan mata pencaharian tidak mungkin, maka para pengecut itu menggunakan Kalimat TIDAK DEMOKRATIS dan Kalimat MERAMPAS HAK RAKYAT. Tujuan mereka sebarkan KEBOHONGAN ini Jelas sekali agar MEREKA BISA DAPAT MAKAN dari Pilkada Langsung! 

Untuk mendapatkan MAKAN dari PILKADA LANGSUNG yang sudah terbukti menggadaikan Sumber daya alam, mereka rela menyebarkan kebohongan dan rela menggadaikan negara! para MAKELAR inilah yang selalu membuat suasana Pilkada menjadi tidak nyaman, terjadi saling hantam antar sesama rakyat, terjadi saling gesek antar calon dan mereka yang terus memanaskan suasana agar supaya masalah terus terjadi. dengan ada masalah maka disanalah mereka bisa bermain untuk mendapatkan uang! 

Bagi mereka masalah adalah uang. bagi mereka semakin panas kondisinya maka semakin banyak uang yang bisa mereka dapatkan. soal efek dari masalah itu, sudah tidak lagi mereka perdulikan. yang penting bagaimana mereka bisa MAKAN! 

Menyetujui Pilkada Langsung sama saja dengan Merampas Hak Rakyat atas keamanan, kenyamanan dan merampas kekayaan yang dimiliki oleh NEGARA REPUBLIK INDONESIA.

Ada yang bisa membantah??

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.