Terima Kasih Sifat buruk


Orang tua, Guru disekolah umum, Guru agama, pemerintah dan lain-lain selalu mengajarkan bahwa kita harus selalu melakukan kebaikan, melakukan kebaikan dan kebaikan.

Bagaimana mereka bisa tahu bahwa itu baik kalau tidak ada PELAKU untuk keburukan?
Bagaimana mereka bisa tahu dingin jika tidak ada yang namanya panas? 
Bagaimana mereka bisa tahu berani kalau tidak ada ketakutan?

Hal buruk memang jangan diikuti, tapi jika tidak ada yang melakukan hal buruk, maka kita tidak bisa belajar bagaimana hal baik. Misalnya begini, dimasyarakat kita dan termasuk saya juga, entah ini perlakuan fair atau tidak fair terhadap seseorang, ketika melihat ada orang yang memakai ganja kita katakan sama anak, saudara, keluarga atau kawan bahwa itu perbuatan yang tidak baik.

Kenapa saya masih mempertanyakan, apakah perlakuan itu fair atau tidak? 

Karena dari aroma dan bentuk ganja, kita akhirnya bisa tahu dari orang-orang yang menggunakan hal tersebut. Dari awalnya kita tidak tahu menjadi tahu. Dari awalnya hanya mendengar-dengar kini kita bisa melihat langsung. Dan dari mengetahui itulah kita bisa memperingati keluarga kita, sahabat kita dan diri kita sendiri. 

Kalau bicara soal agama, maka apapun yang diciptakan oleh Tuhan di muka bumi ini ada manfaatnya. Artinya sifat burukpun ada manfaatnya. 

Saya tidak membahas lebih dalam tentang bagaimana sikap kita terhadap orang yang MEMERANKAN keburukan sehingga PERAN mereka itu menjadi CONTOH bagi kita semua untuk melakukan KEBAIKAN. Karena kalau bicara soal menjadi PEMERAN buruk maka kita juga tanpa kita sadari MEMERANKAN keburukan. Dan keburukan kita menjadi pelajaran berharga bagi orang lain sesuai dengan prespektifnya. 

Atau bisa jadi saya lebih banyak menjadi PEMERAN buruk daripada PEMERAN baik di dunia ini. Tapi bisa jadi karena saya MEMERANKAN sifat buruk maka ada ribuan orang yang tadinya akan melakukan hal buruk atau sudah menyentuh sedikit-sedikit hal buruk tiba-tiba mengurungkan niat mereka karena mendapatkan CONTOH buruk yang saya PERANKAN. Bisa jadi kalau dihitung-hitung apa yang saya lakukan lebih banyak menyadarkan orang dari pada para tokoh agama yang dari dulu mengajarkan kebaikan. Bukankah pengalaman adalah guru yang paling berharga?

Siapa yang tahu? Bisa sajakan?

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.