Breaking

Tuesday, 21 October 2014

Jangankan Iwan Fals, Malaikat pun pasti disalahkan ! (Presiden RI)



Ekspektasi masyarakat terhadap Jokowi cukup besar. harapan dan pujian dilontarkan kepada jokowi. Berbagai elemen masyarakat mendukung. Euforia terjadi dimana-mana, seakan-akan Jokowi adalah jawaban dari semua masalah bangsa ini. padahal jokowi sebagai Presiden belum bekerja.

Ini adalah Euforia kedua terhadap Jokowi dan juga kesempatan kedua baginya untuk memenuhi ekspektasi tinggi masyarakat terhadap dirinya. Pada awalnya Euforia Jokowi terjadi disaat dia akan mencalonkan sebagai Gubernur DKI. Kepopulerannya melewati batas daerah dan batas Negara. Ketika menjabat ternyata ekspektasi masyarakat tidak sebanding dengan apa yg dilakukan Jokowi. 

Tapi ini bukan sepenuhnya salah Jokowi, Karena harapan yang berlebihan tanpa tahu dan mengukur kemampuan seorang Jokowi membuat masyarakat berimajinasi melewati batas.

Bisa jadi Jokowi hanya bisa mengangkat 10 bata sehari. Tapi masyarakat bermimpi dia bisa mengangkat 500 bata sehari. Ketika Jokowi mengangkat hanya 10 bata, masyarakat berteriak, kok cuma 10 bata? Paling tidak 100 bata yang harus diangkat jokowi!

Masyarakat tidak sadar bahwa yang menentukan 100 atau 500 bata itu kan mereka? Parameternya kan menjadi tidak jelas. Dan kini terjadi lagi pada Jokowi. tapi mudah-mudahan ekspektasi masyarakat sudah lebih realistis bahwa Jokowi bukan manusia super yang bisa melakukan segalanya.

Sejarah Euforia dan Ekspektasi berlebihan terhadap Presiden ternyata bukan barang baru di Indonesia. Dan ini terjadi berulang-ulang. 

Pada masa Presiden Soekarno, begitu besar harapan terhadapnya sehingga dia diangkat menjadi Presiden seumur hidup. Bayangkan bisa diangkat menjadi presiden seumur hidup! Kalau bukan harapan yang berlebihan apa namanya kalau begitu?

Tapi apa yang terjadi? Ternyata harapan tidak sesuai kenyataan. Soekarno hanyalah manusia biasa. Lalu apa yg terjadi? hak Soekarno sebagai Presiden seumur hidup dicopot!. Sampai akhirnya terjadi pelengseran terhadap Soekarno. Dan dia digantikan oleh Soeharto. Lalu bagaimana harapan terhadap Soeharto?

Hal yang sama terjadi lagi! Soeharto begitu dipuja-puji. Harapan besar soeharto bisa memperbaiki Kondisi negara pasca rezim soekarno. Euforia dan ekspektasi yang berlebihan membuat Soeharto menjadi sangat berkuasa. Sehingga beliau terpilih berkali2 menjadi presiden. Setelah serangkaian ketidakpuasan dari tahun 80-an, akhirnya Soeharto dilengserkan juga tahun 1998. Masyarakat berharap pemimpin baru!

Saat itu Megawati adalah icon perlawanan terhadap orde baru. Masyarakat menyanjung megawati sebagai org yg mampu membawa perubahan. Setelah Habibie mengambil alih sementara kekuasaan dan membebaskan pembuatan parpol, rakyat tetap berharap megawati menjadi presiden.

Begitu populernya megawati sampai untuk membantu kampanye saja, masyarakat mengeluarkan dana mereka sendiri. Harapan besar pada megawati

Pada kenyataannya, karena sistem pemilihan presiden saat itu tdk langsung, Gus dur yg akhirnya di pilih MPR menjadi presiden. Mega menjadi wakilnya. Siapa yg tidak kenal Gus dur? Hampir sama seperti megawati. Gus dur walau dgn keterbatasannya, beliau dianggap org yg sgt mumpuni.

Gus dur dikenal orang yg sangat demokratis. Tertutupnya demokrasi zaman Soeharto, membuat masyarakat berharap besar kepada Gus dur. Lagi-lagi Harapan masyarakat terlalu berlebihan, berjalannya waktu Gus dur mulai dikritik sana-sini. Hingga akhirnya gusdur dilengserkan.

Megawati akhirnya menggantikan Gus Dur! Masyarakat lagi-lagi berharap besar! Simbol perlawanan Orde baru kini menjadi Presiden RI ! Belum lagi masyarakat pecinta Soekarno, mereka berharap besar bahwa mega yang anak soekarno menerapkan pemikiran-pemikiran soekarno.

Ekspektasi besar terhadap icon perlawanan orde baru yang anaknya soekarno akhirnya menjadi kekecewaan juga. Karena tidak seperti yang diharapkan. Terbukti ketika menjelang pemilu 2004, dimana sistem pemilihan Presiden untuk pertama kalinya secara langsung, PDIP bukan lagi pilihan masyarakat seperti di tahun 1999

SBY menjadi orang yang sangat populer saat itu. karena dia dianggap berani. Mega ikut bertarung pada Pilpres 2004 dan kalah telak oleh SBY yang mantan menterinya. Setiap SBY tampil di TV untuk kampanye, baik tua, muda dan anak-anak sangat menggandrunginya. Kaum hawa suka dengan sosok SBY yang gagah, kaum adam menggandrunginya juga karena selain gagah juga berwibawa. Semua prestasi SBY menjadi bahan pembicaraan dimana-mana. Setiap kampanye dilapangan, berbondong-bondong masyarakat datang. Mereka datang dari berbagai penjuru hanya untuk melihat dan syukur-syukur bisa bersalaman. SBY sudah diprediksi bakal memenangkan pertarungan Pilpres 2004. Karena antusiasme masyarakat dan harapan besar terhadap presiden yang tegas berwibawa. SBY belum menjadi Presiden, tapi masyarakat sudah sangat yakin bahwa SBY bisa mengobati kekecewaan mereka terhadap pemimpin sebelumnya. 

Lagi-lagi setelah SBY menjadi presiden dan mengeluarkan berbagai kebijakan yang dianggap tidak populer, masyarakat kecewa! 


Kenapa?

Karena masyarakat termakan dengan Euforia dan termakan dengan pikiran mereka sendiri. Mereka yang membentuk sendiri image PRESIDEN SUPER. Kekecewaan terhadap SBY yang disebabkan imaginasi dan Ekspektasi berlebihan akhirnya mencari sosok super lain. Ternyata mereka menemukan orang yang secara fisik dan pola berbeda! Orang itu tampak lugu dan sederhana, itu Jokowi!

Dengan sosok yang sederhana, lagi-lagi masyarakat menaruh Ekspektasi besar kepada Jokowi. Mereka anggap Jokowi orang yang lugu, tidak neko-neko, suka musik rock dan orang seperti Jokowi menurut masyarakat PASTI lebih merakyat daripada SBY!. 

Dulu masyarakat berharap besar dan suka dengan sosok yang gagah tegap seperti SBY, kini masyarakat berharap besar dan jatuh hati dengan sosok sederhana. Sosok SBY yang tegap-tegas ternyata mengeluarkan kebijakan yang mereka ANGGAP tidak populer dan tidak sesuai dengan Imaginasi. Mereka beralih sosok SUPER.

Sejarah mencatat bahwa Presiden di Indonesia itu dianggap "Presiden" saat sebelum dilantik dan dianggap bukan "presiden" setelah dilantik. Soekarno, Soeharto, Habibie, Gusdur, Megawati, SBY mereka dianggap sudah menjadi presiden sebelum dipilih dan dilantik. Ini yang terjadi di kita!

Sudah 3 Generasi sejak Indonesia merdeka, tapi masyarakat kita tidak pernah belajar dari pengalaman, dan selalu bersikap berlebih-lebihan. Memuja seseorang begitu berlebihan sehingga mereka menciptakan sosok pujaannya itu lebih dari kemampuan riil sang pujaan itu sendiri.

Memuji, Berharap, senang berlebihan, membela mati-matian lalu kecewa. itu alurnya, dan konyolnya hal ini terjadi terus menerus dan berulang-ulang!

Lihat saja nanti ketika Jokowi membuat kebijakan yang dianggap tidak populer, maka habislah semua pujian dan harapan, yang tinggal hanya memaki-maki karena kecewa.

Sebegini parahkan mental rata-rata masyarakat Indonesia? mudah senang, mudah lupa, mudah terpengaruh, selalu berfantasi tapi ujung-ujungnya kecewa karena tidak sesuai dengan fantasi mereka dan fantasi media. kemana logika?

Ada pepatah menyatakan "Keledai pun tidak akan jatuh di lubang yang sama". artinya yang bodoh saja tidak mungkin melakukan kesalahan yang berulang-ulang. Tapi kenapa kita menyikapi dan memilih pemimpin malah lebih bodoh daripada Keledai? Ini ada yang salah dengan kita! kok lebih pintar keledai?

Kalau begini terus, maka Iwan Fals pun ngeri untuk maju menjadi Presiden! Iwan Fals dari muda dipuja, ketika tua menjadi presidenm maka dia bakal dihina dan dimaki oleh rakyat!. Siapapun Presiden RI, jika kita tidak gunakan akal dan pikiran, hanya gunakan emosi, maka tidak akan pernah ada presiden yang dianggap berhasil di negeri ini!

Jangankan manusia, Malaikat pun jika menjadi Presiden Indonesia, maka dia akan dianggap tidak benar !.

No comments:

Post a Comment