Breaking

Tuesday, 28 October 2014

Membuat strategi atau memanfaatkan Strategi?


Yang namanya strategi itu tidak ada batasannya, tinggal kita memilih mau pakai strategi yang fair atau yang tidak fair 

Strategi itu bicara kreatifitas. Yang dinilai dalam membuat strategi hanya ada 2 yaitu yang buat strategi itu kacangan atau profesional. Yang kacangan bisa langsung terbaca, yang profesional sulit terbaca oleh lawan maupun kawan.

Terlihat bodoh juga bagian dari strategi, terlihat lambat, terlihat kurang profesional, mengulur-ulur waktu, membuat pekerjaan yang mudah menjadi sulit dan sebagainya itu adalah bagian dari strategi! 

Contoh, Misalnya dalam pemilihan RW (Rukun Warga). Panitia dibentuk jauh-jauh hari untuk mensukseskan proses pemilihan tersebut. tugas panitia dari pengumpulan data warga, penjaringan calon, syarat-syarat calon, sosialisasi, membuat jadwal-jadwal, mengatur pembiayaan dan sebagainya hingga proses akhir pemilihan RW terlaksana. Semuanya ada ditangan panitia. 

Proses tersebut bukan proses yang sulit, apalagi jika di RW tersebut sudah sering mengadakannya. jadi tidak ada kata sulit dalam melaksanakannya. 

akan tetapi ada 2 hal yang bisa menyebabkan pekerjaan panitia itu menjadi lambat dan tidak berjalan dengan baik prosesnya. 

1. Ketidakmampuan panitia yang dipilih
2. Kesengajaan membuat proses itu lambat. 

Kalau point 1, ok masih bisa dicarikan jalan keluarnya, masih bisa dibantu, Tapi kalau point ke 2, Bisa jadi ada misi tertentu dari panitia untuk mengarahkan pemenang pemilihan RW adalah calon tertentu.

Semua pekerjaan yang harusnya sudah bisa dikerjakan belum dikerjakan dengan alasan harus menyelesaikan step pertama dulu. Step pertama itu dilakukan berhari-hari, mereka membuktikan dengan pengeluaran ini dan itu.

Step pertama dikembangkan selebar-lebarnya, dibuat bertele-tele, ditambah komponen ini dan itu, point ini dan itu, tim yang lain dibuat tidak bisa bekerja karena diharuskan menunggu penyelesaian step-step yang dibuat bertele-tele, walaupun sebenarnya tim yang lain sudah bisa berjalan dan tidak mengganggu step-step yang sengaja dibuat bertele-tele itu. 

Misalnya sengaja membuat pekerjaan mengumpulkan materi dari warga. untuk mengumpulkan materi mereka adakan diskusi-diskusi di setiap RT (Rukun Tetangga). Hasil dari satu RT yang mereka kunjungi, mereka susun dan diskusikan berhari-hari. Selanjutnya pindah ke RT yang lain, mereka lakukan hal yang sama, mereka susun, diskusikan, dikaji dan dibandingkan dengan hasil RT lain berhari-hari, begitupun selanjutnya. 

Baru 2 RT saja sudah menghabiskan waktu berminggu-minggu dan mengeluarkan uang yang cukup banyak. Belum lagi jika ada 10 RT didalam 1 RW, maka mereka akan lakukan hal yang sama, menghabiskan banyak waktu dan menghabiskan banyak uang.

Jadwal berantakan, pengumpulan data belum, sosialisasi belum, menjaring calon ketua RW belum, tanya jawab dengan calon-calon ketua RW belum, kampanye belum, dan semua pekerjaan lain belum dilakukan. 

Ketika waktu semakin dekat, waktu tidak cukup untuk melakukan pekerjaan lain. tim lain pun akhirnya tidak bisa bekerja, karena waktu sudah tidak memungkinkan. uang pun sudah habis untuk melakukan kerja yang bertele-tele tersebut, maka panitia kemudian mengadakan pemilihan saja. Undang semua RT dan warga, calon ditunjuk siapa saja plus orang populer di RW yang memang diarahkan panitia untuk menjadi RW. kalau sudah begitu calon yang populer itu tidak ada saingannya. Karena warga tidak diberikan kesempatan untuk mengenal dan mengetahui calon RW yang lain, sehingga warga memilih orang yang mereka kenal saja. 

Ini bagian dari strategi! Tapi strategi yang diambil adalah strategi yang tidak fair. Ibarat pemilu, KPU nya berpihak pada calon tertentu. Kalau "KPU"nya sudah melakukan perbuatan yang tidak fair, maka untuk apa diadakan pemilu? Untuk apa mengeluarkan uang besar? Tunjuk saja ketua RW nya, buat se simple mungkin. Atur sedemikian rupa agar supaya calon yang diinginkan menang. Kan lebih jelas begitu daripada seolah-olah melakukan kerja benar tapi ujung-ujungnya jelas untuk memenangkan calon yang diinginkan panitia.

Padahal ketika ketua RW nya sudah terpilih, data bertele-tele yang dikumpulkan oleh panitia ke warga-warga belum tentu terpakai, karena ketua RW pasti punya pemikiran tersendiri dan strategi tersendiri untuk membuat program-program kerjanya.

Atau bisa jadi panitia pemilihan RW tidak punya keberpihakan ke calon RW tertentu, tapi mereka ingin memanfaatkan uang besar untuk kepentingan pribadi mereka? 

Bisa sajakan? Namanya juga strategi!

No comments:

Post a Comment