Abnormal jika kebijakan Ormas di paksakan didalam Partai Politik


Apakah Syariat Islam itu? Syariat Islam itu hakikatnya adalah keadilan. keadilan  yang universal.

Bicara keadilan bicara hal yang baik dan sesuai dengan Ajaran Islam dan ajaran agama lainnya. jika bicara hanya tentang Islam (karena bicara Syariat Islam) Ajaran Islam itu adalah ajaran yang baik, sangat adil dan sangat manusiawi.
Syariat itu adalah sebagai sumber hukum. Bicara sumber hukum artinya sumber aturan. Aturan itu bukan cuma hanya UU pemerintah saja, tapi UU atau Rule of game di semua lini. Bicara semua lini, artinya bisa di negara, bisa di organisasi, bisa di parpol, bisa di sekolahan, bisa di RW,RT, perusahaan, keluarga, kelompok arisan hingga pertandingan sepakbola! 

Itulah yang namanya Syariat Islam, itulah yang namanya keadilan. dan adil itu salah satunnya adalah bagaimana menempatkan itu pada porsi dan tempatnya.

Pertanyaannya? Sekarang kita ada diposisi mana? Dan dimana kita menerapkannya?

Jika kita ada didalam keluarga, maka kita menerapkan keadilan itu didalam keluarga kita. Bagaimana membuat aturan dan dimana tanggungjawab dan hak kita dalam menjalani kehidupan berkeluarga. Rule of game tentang bagaimana sikap seorang istri, suami, anak di dalam sebuah keluarga diajarkan di dalam Islam. 

Ketika saya keluar dari rumah, saya berangkat kerja. ketika saya masuk di dalam perusahaan, maka saya akan menerapkan dan jalankan aturan main diperusahaan sesuai FUNGSI Dan TUJUANNYA. Tidak bisa saya terapkan cara saya diperusahaan dengan cara saya dirumah. Jika saya paksakan maka akan berbenturan dengan aturan perusahaan dan lingkungan kerja. 

Sepulang dari pekerjaan saya datang ke Ormas Agama dimana saya jadi anggota disana, disana beda dengan dirumah dan di perusahaan. Bicara disana kita sudah mengkaji, mengadakan kegiatan untuk anggotanya, pembinaan, pengembangan, salurkan aspirasi anggota, pemberdayaan, pelayanan sosial, menjaga persatuan kesatuan umat, dan menjaga kehidupan bermasyarakat sesuai dengan label ormasnya. kalau ormas agama bicara tentang agama, ormas kemiskinan bicara tentang kemiskinan, ormas kesehatan bicara tentang kesehatan. 

Kemudian setelah dari Ormas saya berangkat ke Partai politik (Parpol), disana saya sebagai anggota Parpol. Di parpol kita bicarakan strategi pemenangan, bagaimana mempengaruhi kebijakan dengan kekuatan politik, bagaimana mengkritisi dan gagalkan pola-pola kebijakan yang salah, bagaimana merekrut anggota, bagaimana membuat citra yang baik, dan sejenisnya dan sebagainya. 

Apakah nyambung jika disaat  partai lagi bicarakan kebijakan Politik dan Strategi lalu saya campurkan tujuan saya di Ormas agama? Saya ngotot katakan bahwa pemimpin itu sangat tidak agamis, banyak dosa, dia sudah melakukan hal yang meresahkan umat, maka Allah akan melaknat pemimpin tersebut! Lalu saya paksakan partai untuk sebarkan pemikiran dosa itu ke publik melalui media. 
Yang ada saya dibilang sinting sama kawan-kawan di partai dan kalau saya paksakan bicara di media atas nama partai maka selain saya dikatakan sinting, partai saya akan ditertawakan dan dijadikan bahan olok-olokan masyarakat dan lawan politik. Wong Parpol kok kayak ormas? 

Atau jika saya menerapkan pola dikeluarga saya atau diperusahaan untuk menjadi kebijakan politik Partai. Kacau! 

Baik di suatu tempat, cocok untuk diterapkan disuatu tempat, bukan berarti baik dan cocok ditempat yang lain! Yang ada malah berantakan dan kita dianggap sinting. Jangan kita paksakan memasukkan sesuatu yang tidak pada tempatnya. 

Ketika pemimpin negara melakukan tindakan yang ceroboh, misalnya menaikkan berbagai harga yang membuat masyarakat sulit. maka apa yang akan saya lakukan? 

Jika di keluarga, saya akan diskusikan dengan keluarga, kita jadikan pelajaran dan bagaimana menyikapi agar bisa survive. Dengan tambahan pengeluaran, bagaimana saya harus dapatkan uang lebih untuk menutupi kenaikan harga-harga. membuat langkah dan strategi agar bisa tetap survive didalam keluarga.

Jika didalam perusahaan, saya akan bekerja lebih baik, lalu bersama-sama untuk merumuskan kenaikan ini agar supaya perusahaan tetap jalan dan pekerja tetap bisa bekerja tanpa ada PHK. saya dan yang lain membuat strategi agar perusahaan tetap berjalan dan tidak ada yang di RUGIKAN.

Di Ormas agama, saya dan kawan-kawan akan kaji secara agamis bagaimana kebijakan ini, bagaimana membuat statement agar umat bisa tetap berikhtiar hadapi semua ini dan berikan pemahaman agar masyarakat tetap jalankan kewajiban dan jangan sampai putus asa, sampaikan aspirasi anggota pada pemerintah dan pada parpol. jangan ormas malah melaksanakan tugas Pemerintah dan Parpol! tidak ada kewenangan Ormas karena bertentangan dengan UU Ormas itu sendiri.  

Di Partai politik, saya dan kawan-kawan dengan kekuatan politik parlement untuk gagalkan kebijakan itu, membuat statement mempertanyakan dan membuat opini, menggelar dan mengumpulkan kekuatan suara yang bisa merubah kebijakan, dan sebagainya dan sejenisnya.

Dari 4 hal ini semuanya punya peran masing-masing. Dan peran-peran itu berguna sesuai dengan dimana kita berada atau kita sedang menggunakan Baju Apa?. Baju keluargakah? Baju Perusahaankah? Baju Ormaskah? Atau Baju Politik? Jika kita teriak Syariat Islam, bicara keadilan tapi tidak tahu penempatan maka itu sama saja melanggar Syariat Islam, Melanggar Keadilan. Munafik kita berteriak tegakkan keadilan tapi kita tidak berbuat adil, karena kita tidak bisa menempatkan sesuai porsinya.

Abnormal jika kita lagi kenakan Baju Partai politik tapi kita gunakan peran kita di perusahaan! Hancur parpol itu! 

Jika itu dipaksakan maka cuma ada 3 hal yang mendasari hal itu. yaitu:

Pertama, Karena kita bodoh 
Kedua, Kita mau mau memanfaatkan suatu komunitas untuk komunitas kita
Ketiga, Menghancurkan komunitas itu

Karena jelas air dan minyak tidak bisa di satukan. Kompor tidak bisa dipaksakan menyala dengan bahan bakar air, atau buat kopi dipaksakan dengan menggunakan minyak! Kalau ada yang bilang itu bukan abnormal maka dapat dipastikan yang mengatakan itu abnormal. 

Lihatlah masyumi, kurang Islami apa perjuangan mereka? Kurang hebat apa komitmen keislamannya? di bangun oleh ormas-ormas agama dan para pemimpin agama. Tapi ketika bicara Partai, Soal khilafiah, soal Furu tidak ada lagi! Semuanya ketika bicara politik Masyumi, sudah menggunakan Baju Partai Masyumi, Maka aturan, pola dan tujuan partai yang mereka gunakan! jadi di masyumi jika bicara soal domain Ormas silahkan diluar. itu hebatnya para tokoh-tokoh politik Masyumi. 

Tidak bisa seorang laki-laki ketika menerapkan peran sebagai suami pada perempuan rekan kerjanya. atau tidak bisa seorang suami mengatur istrinya yang kebetulan atasannya di perusahaan dan sedang dalam pengambilan keputusan tentang perusahaan. 

Tidak bisa ketika Partai bicara soal kebijakan pemerintah yang salah dengan hanya mengharamkan saja. 

Tidak bisa Ormas ketika ada kebijakan pemerintah yang menurut mereka salah lalu mereka menjadi polisi dan menjadi penentu kebijakan politik. 
Kita bisa jadi adalah seorang Kepala rumah tangga, Seorang pekerja, Anggota Ormas dan Anggota Parpol, tapi kita harus tahu menempatkan aturan main pada tempatnya. itu Namanya menerapkan Syariat Islam, menerapkan yang namanya keadilan!

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.