Breaking

Sunday, 4 January 2015

Bedanya Ahli kitab dengan Ahli Copas (copy Paste) kitab dan efek buruknya


Di Gadget kita, Email dan Media sosial, sudah tidak aneh kita sering menerima kiriman ayat-ayat Al-Quran, Tafsir-tafsir Quran, cerita-ceritanya dan juga motivasi-motivasi kehidupan. itu hal yang sangat-sangat positif. Bagus saja karena itu mengingatkan kita jika kita melakukan sebuah kesalahann dan memotivasi kita. 

Di tulisan ini saya coba membahas bukan soal isi dari kiriman-kiriman itu, tapi lebih ke soal pengirimnya dan trend yang terjadi dikarenakan Teknologi Informasi  

Sekarang ini, setiap orang bisa menjadi "ahli" kitab. kenapa? karena pemilik perpustakaan ilmu sekarang ini adalah teknologi informasi! Di zaman internet, Al-Quran dan terjemahannya bisa mudah didapatkan dalam bentuk Software atau melalui website. Sekali pencet muncul! Mau tafsir apapun ada! mau cara pembacaannya pun ada! 

Sebelum zaman Internet.. Seorang yang akan mengkaji ayat-ayat harus membolak-balikkan Al-Quran, bertumpuk-tumpuk buku hadits, tafsir-tafsir dan sebagainya. di meja itu bisa penuh dengan buku. bisa semalam suntuk dan berhari-hari. belum lagi harus mencatat dan menyusun menjadi sebuah kajian. belum lagi berbagai literatur-literatur lain yang menambah banyak tumpukan buku di meja. setelah selesai mereka harus diskusikan lagi untuk menguatkan kajian mereka dan apakah ketika di implementasikan bisa diterima dengan kondisi sosial masyarakat di suatu tempat.

Teknologi Informasi itu tujuan utamanya adalah memudahkan dan memangkas waktu, sehingga pekerjaan yang bisa dikerjakan berhari-hari bisa dikerjakan hanya beberapa jam. dulu kita harus membolak-balik buku kini hanya perlu mengetik tema apa yang akan kita inginkan langsung tersedia. tidak harus mencari-cari buku, membeli buku, dan membaca isi seluruh buku. 

20 Tahun lalu orang masih sibuk dengan berbagai buku, 16 tahun lalu orang sudah bisa menggunakan internet untuk mencari data tapi hanya bisa melalui PC, kurang lebih 10 tahun lalu internet sudah bisa di Gadget dan 5 tahun belakang ini semakin menjadi-jadi internet di gadget karena aplikasinya sudah semakin kompatibel. 

Di gadget kita ada software Quran dan terjemahannya. Mau cari tema apapun bisa. siapapun bisa membukanya. mau dia beragama Islam atau orang yang tidak beragamapun bisa. 

Positifnya generasi Internet bisa lebih mudah mempelajari Ilmu agama karena mereka bisa belajar dimanapun. tidak harus berada diruangan dan harus mendengarkan penjelasan guru. tidak harus membuka-buka buku. 

Negatifnya di Internet banyak ilmu yang menyimpang. terlihat benar tapi ternyata tidak. makanya tetap dibutuhkan yang namanya Ahli kitab di dunia nyata, bukan Ahli kitab COPAS (Copy Paste)

Fenomena yang terjadi sekarang ini adalah, ketika ada sebuah isu yang muncul, setiap orang berlomba-lomba Copas ayat dan menjadikan jawaban atas isu yang timbul. ini menjadi tidak sehat karena semuanya menjadi Instan. Minim yang namanya MENGANALISA penyelesaian masalah atau memberikan solusi sesuai dengan masalahnya. sekarang banyak bermunculan "ahli kitab" Tekstual. 

Misalnya begini, ketika seseorang lagi punya masalah didalam keluarganya, ada permasalahan dimana orang tua nya sakit dan membutuhkan banyak biaya. maka bertebaranlah di Whatsapp, BBM dan media sosial jawaban dari kawan-kawannya. mereka copas ayat Quran dan kirim ke dirinya. 

Ayatnya seperti ini...

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yg paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman” (Qs. Al-Imran : 139)

Di jawab sama orang yang bermasalah itu, Insya Allah saya tidak lemah, saya harus mencari jalan keluar untuk hal ini. dan sejurus kemudian dia menerima lagi kiriman saran dan solusi dari kawan-kawannya. lagi-lagi copas ayat!

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sholat; dan sesungguhnya sholat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk Tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah semata” (Qs. Al-Baqarah : 45) 

Yang ada kawannya itu gondok, bukannya nyari solusi bagaimana mendapatkan uang malah copas ayat. yang ada dia jawab, Emangnya gw orang yang tidak pernah sholat dan bersyukur!? emangnya gw orang yang meninggalkan Allah!? emangnya gw gak punya Internet!? emangnya gw gak pernah baca Quran!? Emangnya gw ngak bisa copy paste ayat!? emang gw bodoh!?

Wajar kalau dia marah. Bukan Ayat Quran itu salah, karena sebaik-baiknya ayat (Sebagai Muslim) yang terbaik adalah Al-Quran, karena Al-Quran itu tidak pernah kehilangan maknanya, menembus ruang dan waktu. Masih tetap relevan di berbagai zaman. inilah kebenaran ayat-ayat Allah. ini jadi penghinaan terhadap dirinya, sudah dia punya masalah, dia dianggap kurang beriman lagi oleh para "Ustadz / Ustadzah" Copas. 

Itu yang menyebabkan banyak sekali sekarang muncul "Ahli agama dadakan" Trend "Ahli copas". Mereka merasa ketika sudah menyebarkan ayat maka mereka adalah kebenaran. 

Ketika menelaah masalah maka mereka ngotot dengan ayat yang mereka copas. kenapa? karena memang mereka tidak punya kemampuan menganalisa bagaimana ayat itu di transformasikan ke kehidupan dan keberbagai masalah dunia. yang ada akhirnya mereka menyalahkan orang lain dan mengkafirkan orang lain, meng-Astagfirullah orang lain yang menjelaskan hal yang sebenarnya berdasarkan ayat yang di copas itu. 

Ini bukan masalah sepele, jika para Ulama dan para Ahli Agama tidak segera bertindak memberikan pemahaman, maka akan muncul Paham-paham baru, Paham-paham Copas yang merasa tidak sepaham dengan para Ulama yang ahli agama  dan ditambah dengan paham-paham menyimpang yang bisa didapatkan di Internet yang dibungkus dengan kemasan agama.

Mencari berbagai pembenaran di Internet banyak sekali! Para Ahli dan pemimpin agama apapun baik Islam, Kristen, Hindu, Budha dan khonghucu harus mampu mendalami hal ini dan harus update dengan Pola kekinian. karena bukan tidak mungkin ada banyak yang terlihat ahli agama tapi sebenarnya mereka adalah orang-orang yang akan menghancurkan paham agama itu sendiri,  

Para Pemimpin agama di Indonesia, harus sudah masuk ke berbagai elemen kehidupan. jangan ekslusif dan terkesan ada gap. Mereka harus tahu soal ekonomi, mereka harus tahu tentang narkoba, mereka harus tahu tentang fenomena sex bebas, mereka harus tahu tentang kuliner, tentang musik, tentang olahraga, teknologi, trend terbaru dan sebagainya sehingga bisa mendalami, bisa memberikan ilmu berdasarkan latar belakang dari orang yang mereka ajak bicara. 

Apa yang membedakan Ahli Kitab dengan Ahli Copas Kitab? Yang membedakan adalah IQ. yang bisa membedah, menterjemahan dan menyampaikan dengan baik dan dapat diterima oleh yang mendengarkan atau yang membaca. 

Saya sangat mengagumi beberapa tokoh agama yang mengkaji Quran. Mereka menggabungkan antara Sejarah, kondisi hari ini dan ayat-ayat Al-Quran. mereka mampu menjelaskan hal kekinian baik dari kehidupan hari-hari, masalah sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya lalu di rujuk dengan Ayat-Ayat Allah. 

Berbeda dengan Ahli Copas, mereka hanya bisa Copas dan tekstual! ada beberapa yang mencoba menafsirkan tapi dengan tafsiran mau-maunya mereka, ketika di berikan pemahaman, tidak bisa menjawab lalu terdesak, maka mereka akan mengeluarkan kata-kata sakti yaitu Kafir, dosa, haram dan sebagainya.

Kalau hanya bisa Copas, maka orang yang tidak beragama pun akan mampu mengalahkan orang yang beragama. dia tidak perlu menggunakan jubah agamis tapi dia mampu mengalahkan kaum copas dengan kemampuan dia browsing di Internet.    

Tapi tidak selamanya Copas itu Jelek, karena bisa juga sebagai Alert bagi kita di saat kita butuh ketenangan, butuh re-charge. Membaca kiriman copas itu bisa membuat nyaman. tapi jika sudah berlebihan menjadi tidak nyaman dan dalam menjawab berbagai masalah selalu copas ayat. ini yang jeleknya. apalagi jika sudah menunjukkan diri seolah-olah "ahli kitab", malah berbahaya. 

Saya yakin dan para Ahli-ahli agama, para pakar-pakar agama mereka juga kini menggunakan yang namanya teknologi Informasi untuk mempelajari dan menganalisa ayat. mereka gunakan PC atau Gadget. tapi mereka tidak masuk kedalam golongan copas. mereka memanfaatkan teknologi agar praktis dan tidak membuang waktu banyak. dan mereka masih gunakan buku-buku yang memang tidak ada di internet sebagai literatur-literatur mereka. ini hanya soal praktis dan hemat waktu. 

Sekali lagi untuk menjadi ahli copas kitab itu MUDAH, tapi menjadi ahli yang mengerti dan mendalami kitab itu, yang mampu mentransformasikan ayat-ayat kedalam kehidupan di dunia itu perlu belajar dan terus mengkaji, tidak Instan! 

Berbaju agamis bukan ukuran bahwa dia ahli kitab, bisa jadi dia ahli copas kitab yang bergantung pada Internet tapi memakai baju agamis. 

Ahli copas kedepan bisa menjadi sebuah sekte, karena mereka merasa mudah dan instan. mau-maunya mereka tinggal search di google untuk mencari pembenaran. jika mentok tinggal haramkan dan mengkafir-kafirkan orang yang dianggap berbeda. 

Efek Ahli copas kedepan nanti akan membuat orang MALAS untuk Menelaah, mendalami, meneliti, menciptakan, mengetahui, mengembangkan dan sebagainya. semuanya serba Instan. kita akan kekurangan orang-orang yang berfikir.

Internet itu perpustakaan yang tidak pernah berhenti mengupdate informasi. semua orang bisa menjadi kelihatan hebat, kelihatan ahli kitab dikarenakan mereka punya kunci Informasi, tapi tidak semua orang yang bisa menterjemahkan kondisi kekinian.

Ingat Informasi apapun bisa di copas, tapi analisa dan menciptakan tidak bisa di copas! itulah kenapa Allah memberikan manusia akal, agar kita bisa berfikir bukan hanya mencontoh. 


NB: 

Ketika para ahli copas membaca ini, yakin saya mereka akan copas hadits ini :
"Sampaikanlah DARIKU (yakni dari Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam) walau hanya satu ayat” (HR Al-Bukhari)

No comments:

Post a Comment