Apakah dengan memaki-maki, Bayi Rohingya itu tidak kelaparan dan kedinginan lagi?


Bukan salah kita tapi kita disalahkan atas terjadinya tragedi kemanusiaan terhadap Etnis Rohingya. Ketika Myanmar melakukan pengusiran terhadap warga Rohingya. Ini permasalahan kesukuan, masalah etnis. Bukan agama.

Karena warga Rohingya itu walaupun mayoritas Muslim tapi ada juga kristen dan budha. Karena warga rohingya asalnya dari bangladesh. Myanmar sebagai sebuah negara, kebijakannya dari dulu belum menerima etnis ini. Tapi bukan menolak agama Islam di Myanmar.

Kalau memang ini masalah agama, kenapa hanya etnis Rohingya? Kenapa tidak muslim yang lain yang ada di myanmar? Jelas bahwa ini bukan masalah agama. Kita digiring untuk saling membenci dan menyerang atas nama agama. Kita diadu oleh pihak lain.

Pihak yang mengadu domba, menyebarkan berita-berita hoax, menyebarkan foto-foto yang aslinya foto kemanusiaan, jadi seolah-olah foto pembantaian. Orang-orang yang menolong di dalam foto tersebut malah dituding sebagai pelaku pembantaian. Dan disebarkan secara luas.

Media-media yang menggunakan nama Islam, malah mempermalukan Islam dengan ikut menyebarkan fitnah. Ikut memprovokasi terjadi perang agama. Mereka ikut dalam bagian untuk merusak Islam. Membuat masyarakat terprovokasi dan bisa melakukan tindakan anarkis.

Bagi saya media-media yang menyebarkan fitnah itu hanya memikirkan bagaimana banyak yang baca  dan mendapatkan iklan. Tidak mereka pikirkan bagaimana dampak berita-berita itu, dengan memprovokasi masalah agama kepada masyarakat. Mereka tutup mata. Yang mereka pikirkan adalah uang! Dapatkan iklan.. Pembaca banyak. Semakin kontroversial semakin banyak iklan masuk..

Belum lagi oknum-oknum yang mengatasnamakan perjuangan menggunakan hal ini untuk mendapatkan uang cepat dan besar.

Kalau bicara pengungsi Rohingya, maka hanya orang yang tidak punya hati dan rasa, jika tidak iba dan tersentuh. Kita ini manusia. 

Stop keluarkan energi untuk berfikir, menelaah, mencari-cari kesalahan pihak yang beragama lain, karena kita hanya akan termakan pikiran sendiri. Berfikirlah bagaimana anak-anak kecil dan bayi-bayi Rohingya tidak lagi terombang-ambing dilautan. Kedinginan, kehausan dan kelaparan.

Bayangkan tangisan mereka dan bayangkan kesedihan orangtua mereka dalam keadaan lapar, haus, kedinginan harus menyaksikan anak-anak mereka lapar dan haus! Bayangkan bahwa anak-anak itu anak-anak kita, dan kita adalah para pengungsi yang terombang-ambing di ditengah laut. Lapar, haus, dingin..

Lihat di google bagaimana ekspresi anak-anak rohingya, bagaimana orang tua mereka, orang-orang lanjut usia. Mereka butuh makan, minum dan selimut! Sekarang ini, Kesedihan dan rasa iba kita dimanfaatkan oleh para oknum untuk menyebarkan kebencian! Menyebarkan perang antar agama..

Semakin direspon oleh kita maka semakin semangat mereka menyebarkan kebencian. Dan ada yg memanfaatkan untuk mendapatkan uang. 

Apakah dengan menyebarkan kebencian lalu bayi, anak-anak, dan pengungsi rohingya itu bisa dapatkan makanan, minuman dan tidak kedinginan? Ternyata tidak berpengaruh apa-apa! Mereka tetap kelaparan! Kita hanya bisa memaki-maki dan oknum merauk keuntungan secara materi!

Saya sudah pernah memberikan solusi bagaimana kita bisa menekan dunia internasional dan PBB, tapi kita tidak membiarkan mereka kelaparan dan kedinginan. Indonesia akan dipuji, presiden jokowi akan disegani oleh masyarakat dunia dan rakyatnya sendiri. Negara-negara lain akan salut.


Dan mungkin juga ada beberapa pihak yang memberikan solusi terhadap kasus pengungsi rohingya. Tinggal bagaimana hal ini bisa presiden laksanakan. Daripada menyebarkan kebencian dan memaki-maki pemerintah jokowi dalam kasus rohingya ini, mending menyebarkan solusi-solusi.

Sebarkan solusi secara massal  dan bersama-sama menekan pemerintah jokowi mengambil sikap untuk lakukan berbagai solusi. Media-media yang menyebarkan kebencian secara otomatis berhenti. karena masyarakat lebih suka menyebarkan solusi, daripada kebencian.

Para oknum akan kehilangan project. Karena mereka memang dipakai untuk menyebarkan kebencian. tujuannya agar kita lupa mengurus masalah ekonomi


Kita sibuk menyebarkan kebencian, mereka terus pelihara masalah, agar supaya sang atasan bisa mengambil pasar bisnis di Indonesia. Makanya kita di indonesia tidak pernah berhenti yang namanya isu. mereka membuat berbagai isu. Ketika isu yang satu sudah tidak populer, dimunculkan isu baru lagi. Dan kita ribut lagi...

Jadi ini adalah bagian dari strategi bagaimana merampok kekayaan di indonesia. Baik alam dan pasar di Indonesia. Masalah adalah project bagi oknum. Dan masalah adalah strategi terbaik bagi atasan sang oknum untuk merauk bisnis tanpa banyak saingan.

Dan banyak dikita ini karena Informasi disampaikan oleh pihak-pihak yang berlabel agama dan nasionalis kita langsung percaya dan termakan isu itu sehingga bersuara paling keras. Tanpa kita sadar kita bahwa kita masuk dalam jebakan oknum.

Banyak di kita yang membuat tulisan dan menyebarkan opini-opini berdasarkan hal yang tidak kita tahu sama sekali apa kebenarannya itu.

Terjadi pelanggaran HAM di Myanmar iya.. Tapi jangan juga dikembangkan menjadi perang antar agama. Soal mayoritas dan minoritas agama disebuah daerah, kita tidak tutup mata... ada kasus-kasus penindasan atas nama agama, tapi itu oknum.

Di kita juga ada seperti itu.. Tapi apakah itu sebuah kebijakan negara? Tidak kan? Karena negara melindungi hak beribadat rakyat di Indonesia.

Apakah kita mau dituding sebagai negara yang melakukan diskriminasi terhadap agama minoritas? padahal yang melakukan segelintir oknum? Tidakkan?

Kembali pada kasus Rohingya, ini adalah masalah kemanusiaan. Apa yang bisa kita bantu? 

Jika tidak bisa membantu secara materi, bantu ide solusi. Jika tidak punya solusi bantu sebarkan solusi untuk menekan pemerintah mengambil keputusan. 

Dengan seperti itu kita sudah membantu memberikan Etnis Rohingya tempat yang layak bagi mereka hidup dan berkembang. Jika hanya memaki, semua orang bisa memaki. Tapi itu tidak akan menyebabkan etnis Rohingya mendapatkan makan, minum dan tempat berteduh. 

Yang ada kita masuk ke dalam perangkap oknum yang terus menyebarkan kebencian, sehingga tujuan mereka untuk merampok ekonomi kita berjalan mulus

Mari kita berfikir secara sehat dan tidak mudah terprovokasi...

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.