Demonstran 1998 didukung rakyat, demonstran hari ini dipentung rakyat


Ketika jatuhnya Presiden Soeharto dari tampuk kekuasaan, itu tidak sepenuhnya karena desakan rakyat, desakan mahasiswa, tapi ada juga campur tangan komunikasi politik didalamnya.

Presiden Soeharto saat itu bisa saja tidak mundur dan mengerahkan kekuatan militer untuk menghalau demonstran. Kondisinya akan berbeda jika Soeharto tidak menyatakan mundur. Bisa jadi indonesia chaos atau malah normal kembali. Kita tidak tau kan?

Yang pasti kondisi saat mundurnya Soeharto berbeda dengan kondisi hari ini. Kepedulian zaman itu beda dengan zaman sekarang ini.

Dulu ketika ada demonstrasi sekelompok orang, maka itu akan menjadi pemberitaan besar! Semua orang membicarakannya. Kini, jangankan demonstrasi sekelompok kecil, demonstrasi nasional saja tidak membuat orang khawatir untuk berangkat kerja.

Tahun 1998 ketika orang melakukan demonstrasi dianggap pahlawan. Masyarakat mendukung dan rela mensupport secara moril dan materil. Terbukti para demonstran tahun itu tidak kelaparan. Suplay makanan, minuman hingga snack berlimpah ruah. Sumbangan dari berbagai kelompok masyarakat berdatangan terus. Banyak masyarakat yang bergotong royong membuat makanan dan minuman untuk mensupport perjuangan para demonstran saat itu.

Sekarang ini para demonstran dicap sebagai orang-orang yang tidak jelas dan hanya membuat kerusuhan dan kemacetan. Jangankan support makanan dan minuman, yang ada hanya caci maki dan malah dibeberapa tempat, masyarakat mengusir demonstran.

Tanggal 20 Mei 2015 ini rencananya akan ada demo besar-besaran secara nasional. Tujuannya adalah menurunkan Presiden Joko Widodo. 

Dulu tahun 1998, Media sosial dan media online belum seperti sekarang ini. Pengguna internet masih ekslusif. Tapi suasananya dan informasi demonstrasi besar-besaran terasa hingga ke setiap sudut rumah. Orang-orang saat itu membicarakannya. Karena di setiap gang kecilpun ada para demonstran dan mereka setiap hari membahas mengenai rencana menurunkan Soeharto. Sangat terasa! semua orang membicarakannya.

Bandingkan dengan hari ini. Akses informasi yang sangat luas dan murah, tapi minim sekali orang-orang membicarakan tentang rencana Demo 20 Mei 2015! Hanya ada segelintir orang yang upload informasi demo 20 Mei ke media sosial dan itu pun responnya sangat minim dan negatif.

Saya tidak kontra dengan perjuangan kawan-kawan tanggal 20 Mei, saya hanya menyampaikan kondisi riil yg terjadi dilapangan.

Jika saya menjadi presiden saya akan tanya sama demonstran, kenapa kalian ingin saya lengser setelah sebelumnya kalian memilih saya? Saya yakin tidak akan mampu dijawab oleh mereka ketika jokowi bertanya. 

Jika ada yang mempermasalahkan soal BBM, maka presiden akan menjawab apakah hanya karena itu saya harus turun?? Saya yakin 100% para demonstran tidak dapat menjawab dengan baik. Atau malah bingung harus menjawab apa.

Lalu apa bedanya demonstrasi nasional yang lain, 10 tahun belakangan ini dengan demonstrasi 20 Mei nanti? 

Ternyata tidak ada bedanya!

Tetap saja minus dukungan dari berbagai elemen masyarakat, bahkan dari berbagai elemen mahasiswa pun tidak mendukung. Yang ada malah ditanggapi negatif oleh berbagai elemen masyarakat.

Demonstrasi menjatuhkan pemerintah yang sah dalam berbagai sejarah terjadi karena didukung oleh hampir seluruh elemen lapisan masyarakat. Di dalam pemerintahan sendiri para pembantu Presiden satu persatu mengundurkan diri dan gembosi presiden yang akan dilengserkan. Malah ada beberapa kejadian untuk menjatuhkan presiden, militer memutuskan berseberangan dengan Presiden!

Jadi menjatuhkan presiden itu tidak segampang yang kita pikirkan. Hanya dengan demonstrasi, kepung istana, lalu presiden turun. tidak segampang itu! Apalagi dukungan tidak banyak, yang banyak malah cercaan dari sebagian besar kelompok masyarakat. Tidak banyak yang peduli dan tahu bahwa tanggal 20 Mei akan terjadi demonstrasi besar-besaran, karena rakyat sudah muak tentang hal itu.

Daripada demonstrasi dan hasilnya sudah dapat di prediksi tidak akan berimplikasi apapun, lebih baik gunakan kekuatan untuk mengadvokasi warga negara. Misalnya dana-dana masyarakat yang selama ini karena ketidaktahuan masyarakat lenyap begitu saja oleh para oknum pemerintah. Dana-dana itu bisa digunakan untuk modal usaha masyarakat. 

Belum lagi dana-dana CSR dan kewajiban perusahaan terhadap warga sekitar. Banyak sekali dana-dana bagi masyarakat yang tidak tersalurkan. Belum lagi soal kegunaan dana aspirasi dari anggota DPR, dan sebagainya.

Kalau dana-dana itu bisa tersalurkan sebagaimana mestinya disuatu kecamatan, kelurahan, maka ada puluhan juta rakyat yang bisa mengembangkan ekonominya.

Atau lakukan langkah-langkah hukum untuk menganulir kebijakan atau UU yang tidak pro dan merugikan kepentingan rakyat. Atau silahkan lakukan berbagai cara lain yang bisa menguatkan, mengoreksi dan menghantam secara sah kebijakan yang tidak pro rakyat.

Atau kalau mau tetap menjatuhkan Presiden Jokowi dengan cara demonstrasi seperti Soeharto pada tahun 1998, silahkan saja.. Tapi para demonstran harus mampu mengembalikan suasana 1998! Dimana semua element mendukung secara moril dan materil. Isunya juga saat itu sangat kuat dan tingkat kejenuhan dan keinginan berbagai elemen masyarakat pada perubahan sangat besar. Kalau sekarang tidak ada kondisi itu!

Tapi kalau masih ngotot juga, silahkan saja jika ingin mencoba pada kondisi sekarang ini. Yang jelas, Kemungkinan besar moment 20 Mei ini hanya seperti angin lalu saja.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.