Breaking

Thursday, 1 September 2016

Menjadi pengurus Partai tidak harus pintar atau orang politik, Yang penting ada orang dalam


Diskusi sore tadi dengan seorang kawan lama yang gak suka politik dan ogah baca berita politik, menarik juga, karena ada kejujuran disana. Dari bicara rencana bisnisnya, bicara kabar teman-teman lama, sampai dia tanya kenapa saya suka nyari masalah ngurusin urusan orang gedean katanya.. (urusan politik maksudnya hehehe...)

Saya tanya dia apa pandangan dia mengenai Pilkada DKI yang lagi heboh dan soal negara, dia jawab ngak penting, mau siapa pemimpinnya menurut dia sama saja.

Tapi dia nanya serius soal menjadi pengurus partai, bagaimana mekanismenya bisa masuk? Apa yang dilakukan disana? Ngomongin politik terus ya?

Saya jadi serius juga menjawab, karena memang bagi yang tidak paham, Orang yang menjadi pengurus partai itu seolah-olah orang yang paham "politik" semua.

Saya bilang menjadi pengurus Partai itu mudah, hubungan pertemanan dan persaudaraan bisa membuat dia menjadi pengurus partai. Tidak perlu harus menjadi Kader partai dari bawah, tanpa perlu berjuang dia bisa menjadi pengurus  bahkan jadi pengurus pusat Partai, Yang penting ada orang dalam

Kawan saya bengong dan bilang kok ngak profesional banget? Jadi tidak perlu kaderisasi dan paham politik bisa jadi pengurus pusat?

Saya jawab iya! Makanya dalam partai itu untung-untungan.. misalnya elu, karena mungkin bakat politik lu ada, maka elu bisa jadi pelaku politik yang hebat. Kalau gak punya bakat politik, ya hanya pengurus saja yang tidak mampu bersikap dan bekerja seperti orang politik! Karena politik itu bakat, politik itu seni. Gak semua berbakat dan punya jiwa politik, sehingga kalau dipaksakan jadinya ngawur.

Kawan saya bilang, dia punya tetangga pengurus partai daerah, dia ketua partai, entah area kabupaten atau apa, tapi dia dari muda jadi pengurus partai itu..

Ya.. saya bilang, memang yang terjadi ada pengurus pusat yang bukan orang politik ngajarin pengurus daerah. lucu karena yang diajarin lebih paham dari yang ngajarin. Bahkan kadang karena tidak paham, tapi merasa pengurus pusat jadi sok tau, membuat strategi konyol yang harus dijalankan oleh yang dibawah.

Kata kawan saya, bisa jadi yang pintar melakukan tindakan bodoh hanya karena harus mengikuti aturan di atas? Saya mengangguk..

Kata kawan saya tapi nanti kan akan terlatih menjadi orang politik lama-lama. Saya katakan gak juga, karena ini bukan matematika..

Pencipta lagu handal dan laku tidak ada sekolahnya, karena itu bakat. Semua orang bisa dipaksa buat lagu, tapi tidak bisa membuat lagu hebat. Bebi Romeo pencipta lagu handal, lalu ada orang yang tidak punya bakat belajar sama dia, hasilnya tetap saja lagu yang diciptakan lagu sampah.

Begitupun pengurus Partai, untung-untungan Ketua Umum Partai bisa mendapatkan pencipta lagu handal, kalau pencipta lagu sampah banyak. Makanya suka ada orang politik hebat di Partai A akhirnya diminta / dibajak pindah ke Partai B, karena sudah tau kualitasnya.

Kata kawan saya, ini diluar dari ekspektasi dia sebagai orang awam. Saya katakan ya.. banyak orang awam yang sama seperti dia.

Lalu kata kawan saya, bagaimana solusinya agar bisa di isi oleh orang-orang politik dalam sebuah partai? Saya jawab biarkan saja terseleksi. Yang penting masyarakat jangan kayak elu berfikirnya. Pengurus partai yang orang politik beda dengan pengurus partai yang hanya nama doang.

Kawan saya tanya, soal yang suka main-main uang dalam pilkada, katanya ada.. saya bilang itulah pengurus partai yang orientasinya uang. Mereka gunakan jabatan untuk mengeruk uang, itu yang termasuk pengurus yang bukan orang politik. Orang yang tidak punya bakat politik tapi jadi pengurus partai karena ada orang dalam.

Saya tertawa-tawa melihat kawan saya bengong, karena pengurus partai itu tidak sesuai dengan ekspektasinya..

No comments:

Post a Comment