Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka


Kesalahan bangsa ini adalah membiarkan sesuatu yang salah dengan kalimat sakti yaitu, "Mari Kita lupakan dan segera melangkah kedepan"

Kita dicekokin dengan kesantunan yang salah, kesantunan yang salah itu mendarah daging dan dimanfaatkan oleh orang-orang yang salah.

Makanya kenapa rakyat selalu tertipu oleh pilihan mereka? Karena kesantunan yang salah itu tadi. dan itu berulang terus sampai sekarang..

Tapi sayangnya orang-orang yang mengatakan itu tidak konsisten. Mereka bicara "melangkah kedepan" karena ada kepentingan pribadi..

Mereka berkata sok santun begitu karena ada kepentingan pribadi untuk melindungi pihak-pihak yang mereka dukung atau yang membayar mereka.

Saya coba Apple to Apple kan sikap santun yang salah ini agar supaya paham bahwa sikap itu adalah sikap yang salah..

Misalnya kepada Ahok. Ketika ahok melakukan kesalahan kenapa kalian tidak bersikap sok bijak? Kenapa malah kalian memaki-makinya?

Ahok Inkonsisten sampai sekarang diungkit, ketika calon lain inkonsisten, baru mau diungkit, disuruh lupakan, move on, sabar dan sebagainya..

Kalau ada yang berhutang, gak bayar, kok tetap ditagih? Kenapa gak mau lupakan?, gak mau sabar dan gak Move on. Hehehe

Kalau ada yang menipu, kenapa tidak bilang lupakan saja? move on? Yang ada malah melaporkan ke polisi terkait penipuan..

Kalau koruptor dilepaskan, kenapa kalian katakan usut sampai tuntas? Kenapa tidak Maafkan saja, move on lalu perbaiki sistem ke depan?

Giliran saya membuka hal negatif, kenapa pada bilang move on? Apa karena saya dukung Prof. Yusril kemarin di pilkada DKI? Gak ada hubungannya..

Saya dari dulu selalu membuka berbagai hal yang salah, bahkan waktu masih mendukung Prof. Yusril di Pilkada DKI, saya mengkritisi soal partai. Walau Prof. Yusril Ketua umum Partai saya gak sungkan mengkritisi soal Partai.

Ini tulisan saya soal Partai..

"Menjadi pengurus Partai tidak harus pintar atau orang politik, Yang penting ada orang dalam"

Sahabat-sahabat saya para tokoh-tokoh partai di pusat, gak pernah membuat saya sungkan untuk sentil ketua umumnya bahkan dirinya sekaligus!

Bahkan saya menulis buku "Seandainya saya presiden, Ketua Partai dan Rakyat" disitu saya bongkar semua kebohongan dan basa-basi..

Buku itu saya tulis dan diterbitkan sebelum Prof. Yusril maju dalam Pilkada DKI. artinya sikap saya ini bukan karena Yusril tidak maju di pilkada DKI..

Jadi kalau yang minta saya Move on pasti orang yang baru kenal saya atau orang yang dibayar agar saya tidak membuka berbagai kebohongan didunia politik.

Cagub DKI sudah ada ya silahkan saja terus, gak ada urusan sama saya. Tapi soal proses pencaguban sampai bagaimana cagub-cagubnya itu perlu dibuka jika memang banyak hal negatif..

Soal apakah yang saya sampaikan itu akan mempengaruhi elektabilitas sang calon, itu bukan urusan saya. Urusan saya membuka hal yang salah..

Ketika ada Partai dan Calon melangkah awal dengan berkhianat maka kesananya dia tidak akan ragu lagi untuk berkhianat pada rakyat. Kita tutup mata sama saja kita membiarkan pengkhianatan-pengkhiatan selanjutnya terjadi lagi..

Bagi saya musuh berkhianat lebih terhormat daripada kawan berkhianat. Kalau musuh, kita sadar dia musuh dan tau pasti akan berkhianat.

Jadi secara gentlement melawan yang berkhianat. Tapi kalau kawan? kita bantu dia, kita angkat dia, setelah selesai kita dibunuhnya..

Mana yang lebih terhormat? Mana yang lebih baik? Mana yang lebih manusiawi dan lebih Islami? Tentu lawan yang lebih terhormat... Mereka gak ada bedanya dengan musuh.

Ingat Sabda Rasulullah: "Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka."

Maka lebih baik musuh terang-terangan dari pada musuh yang kelihatannya kawan. Di Quran begitu banyak ayat tentang sifat dan kaum munafik.

Jadi jelas ya.. yang bersikap santun yang salah itu pasti punya kepentingan pribadi. Kalau gak pendukung calon yang tidak ingin boroknya dibuka, ya sudah pasti orang bayaran.

Sekali lagi, silahkan kalian dukung siapapun, bukan urusan saya. Urusan saya cuma mau buka borok agar kita tidak lagi dibodohi

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.