Jangan kita merasa lebih Nabi daripada Nabi dan lebih Tuhan daripada Tuhan


Saya masih ingat diskusi keras saya beberapa tahun lalu dengan salah satu kawan terkait maraknya demo ras dan agama di Indonesia.Ketika kalah berdebat, dia dengan emosi mengatakan kata cina. Bagi saya sudah gak relevan lagi, maka saya tanya, apa anda orang Indonesia?

Saya bilang coba anda berkaca! Lihat dikaca! Apakah wajah anda itu wajah Indonesia atau wajah timur tengah? Apa beda anda dengan dia!?

Karena bicara sudah rasis maka saya bicara rasis juga.. dia terdiam. Bagi saya itu sikap tercela dan dia harus merasakan hal yang sama. Sesama WNI tidak perlu merasa yang paling Indonesia. Jalani aja peran sebagai WNI tanpa harus merasa sebagai pemilik Indonesia..

Almarhum ayah saya tertawa ketika saya bercanda dengan beliau, terkait wajahnya yang terlihat ada Pakistan dan ada Itali gitu. Saya bilang, ayah jangan ngaku Indonesia deh, wajahnya aja gak Indonesia banget! Ayah saya tertawa tapi akui ayahnya (kakek saya) turunan..

Kalau soal agama dari dulu saya paling anti campurkan agama dengan kehidupan sosial dan politik. Saya bersahabat dengan orang yang beragama dan ras apapun. KANDUNGAN ajaran agama itu ada disetiap lini kehidupan dan sendi kehidupan, Kita terapkan itu. Bukan malah menjajakan TULISAN ajaran agama..

Saya tanya kapan anda masuk agama kristen? Agama Islam? Agama hindu? Rata-rata bingung menjawabnya, berfikir sejenak, lalu akhirnya menjawab sejak lahir ikut agama orang tua. Silahkan tanya sama orang tua anda, kapan mereka masuk agama yang mereka anut? pasti rata-rata sama dengan anda, ikut agama orangtua.

Jadi rata-rata jika kita lahir dari orangtua Non muslim maka kita non muslim, kalau lahir dari orangtua muslim maka kita muslim. Hanya orang-orang tertentu yang akhirnya berpindah agama karena mereka meyakini agama yang lain lebih baik daripada yang dia anut.

Orang yang ikut agama orangtuanya juga bukan berarti gak paham semua, tapi ada juga yang paham dan makin yakin dengan agama orangtuanya. Insya Allah kalau saya sangat yakin dengan agama turunan dari orangtua saya, karena saya mempelajari dan akhirnya makin meyakini.

Ajaran agama untuk diri saya sebagai pedoman, bukan malah saya perdagangkan atau dipakai untuk tujuan-tujuan politik lainnya. Ini yang salah.

Jadi makin kesini saya melihat kok makin jauh dari tujuan ajaran agama ya? Agama kok dijadikan alasan untuk melakukan tindakan-tindakan konyol. Bahkan kawan saya yang turunan bilang, "Bro.. emang gue minta dilahirkan dari orgtua turunan? Salah gue apa?" Saat itu terjadi kerusuhan 98

Ini Indonesia, Bukan negara Arab! Bukan negara Amerika! Bukan Negara Islam! dan bukan Negara Kristen! Kita ini ada di Negara hukum Indonesia!

Jangan kita merasa lebih Nabi daripada Nabi dan lebih Tuhan daripada Tuhan! Astagfirullah..! kita bukan pemilik ajaran, kita baca, kita pelajari, lalu kita amalkan saja. Kita lahir tidak memilih ras mana, kita beragama juga rata-rata karena turunan, ya sudah..kita amalkan untuk diri kita bukan jadi dagangan

Buat diri kalian saja belum mampu mengamalkan, kok udah merasa pemilik atas ajaran agama dan kebenaran? Kalian beli dimana kebenaran itu??

Setiap orang di Indonesia punya hak beribadat dan itu dilindungi, jalani itu saja, jangan merasa sebagai pemilik atas agama.

2 komentar:

  1. Luar biasa. Tapi saya mau tanya satu hal. Jika saya agama islam buat apa saya katakan "ditipu pakai injil?" sedang itu bukan agama saya. Apa pantas saya bawa2 kitab suci ajaran agama org lain, yang sudah pasti tidak saya pahami.

    BalasHapus
  2. Mungkin benar, surga terancam sepi! Kita baru tahu bahwa bumi itu bulat sekitar tahun 1500an, yang kini kembali diperdebatkan apakah bumi itu bulat, datar, atau seperti telur burung unta. Lihat betapa https://www.itsme.id/stop-jadi-tuhan-tuhan/

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.