Breaking

Friday, 11 November 2016

Patokan saya Al-Quran, Hadits dan Konstitusi Negara. Bukan MUI, FPI dan ulama yang bukan ulama saya


Mereka kirimin omongan ulama A,B,C, D ke saya yang isinya menuding ahok tanpa diadili. Gak saya baca penuh, langsung saya delete, karena isinya tudingan doang.

Saya bilang mau dia ulama yang dipuja-puji seluruh dunia selama masih ditrack saya hormat, kalau sudah keluar maka dia gak saya anggap ulama. 

Ulama itu bukan Jabatan. Ulama itu tergantung pengakuan masyarakat. Jadi kalau kalian anggap dia ulama belum tentu saya. Jadi jangan sampai salah sangka bahwa Ulama itu sebuah jabatan yang ada SK nya. Ulama itu adalah pengakuan masyarakat atas keilmuannya..

Jangan dipaksakan bahwa saya harus menerima mereka sebagai ulama. Saya punya tokoh sendiri yang saya anggap sebagai ulama saya. Jadi kalau ada yang bilang kok gak hormat sama ulama? Saya tanya ulamanya siapa? Itu bukan ulamanya saya, saya gak pernah dapat ilmu dari dia..

Begitupun dengan MUI, mereka bagi saya cuma LSM biasa apalagi keputusan mereka tidak mengikat. Saya lebih suka pandangan ustadz saya.

Lihat saja sekarang ada Ulama yang menyatakan ahok salah dan ada yang menyatakan tidak salah. Begitupun tafsir Quran, masih berbeda-beda.

Lalu sebagai Muslim saya berpatokan ke siapa?

Saya sebagai muslim patokannya adalah Quran, hadist, Konstitusi negara Indonesia dan tentu diskusi dengan orang tua dan ustadz saya. Diluar itu seperti MUI, FPI, Ulama A, B, C D.. dan seterusnya bukan patokan saya. Saya gak pernah melihat apa Jubah dan label mereka.

Keadilan dan mengadili adalah ajaran Islam dan ada didalam konstitusi kita. Saya hanya patokan disitu. Simple saja gak mau ribet..

Surat An-Nisa:135, ajarkan kita menjadi penegak keadilan. Walau terhadap diri sendiri dan jangan memutar balikan fakta.

Surat Al-Maidah:8, memerintahkan kita menegakkan kebenaran, jangan karena benci kita berlaku tidak adil dan harus menjadi saksi yang adil.

An-Nahl: 90, Allah menyuruh kita berlaku adil, melarang kita melakukan perbuatan keji dan kemungkaran.

An-Nisa:58, Allah menyuruh kita apabila menetapkan hukum diantara manusia harus menetapkan dengan adil.

Dalam Hadist, Rasul berkata "Jika datang kepadamu dua orang untuk meminta putusan darimu, maka janganlah engkau beri putusan kepada orang pertama sebelum engkau mendengarkan juga (Laporan) dari orang kedua, sehingga engkau tau bagaimana seharusnya kamu memutuskan"

Hal ini berbeda dengan MUI yang hanya mendengar satu pihak saja dan langsung memutuskan.

UUD 1945 Pasal 28D ayat 1 terkait hak Jaminan, Perlindungan, kepastian hukum yang adil dan perlakuan sama dihadapan hukum.

Jadi patokan saya jelas.. bukan MUI, bukan FPI, bukan Ulama ini dan itu yang saya tidak tau ajarannya seperti apa. Mereka tidak wajib.

Jadi kenapa saya membela Ahok? saya bukan bela Ahoknya tapi membela kebenaran dan keadilan sesuai ajaran agama saya. Bukan ajaran MUI. Jadi gak perlu lagi share ke saya omongan habib ini habib itu, ulama ini ulama itu, MUI, FPI dan sebagainya. Serahkan saja pada hukum NKRI

Kasus Dugaan Penistaan sudah ditangani pihak kepolisian dan akan secara terbuka. Fokus disitu bukan malah memvonis orang tanpa diadili.  Semua statement menuduh Ahok tanpa diadili jelas tidak sesuai ajaran agama saya, jadi mau manusia planet yang ngomong saya gak peduli.

Saya pikir cukup jelas sikap saya. Saya bersikap berdasarkan ajaran agama saya bukan berdasarkan omongan si anu dan si anu.


1 comment:

  1. Waowwwww cerdas bgt,gw suka org sprti ini..semoga mnjdi pncerahan buat yg lain yg tdk trmakan hasutan atau omngan ngtf dri org lain.good job bro

    ReplyDelete