Breaking

Thursday, 23 February 2017

Apa kepastian hukum di Al-Maidah:51? tidak ada yang bisa menjawab..


Ketika saya tanyakan soal arti Al-Maidah:51, apakah Pemimpin, Pimpinan atau Teman setia? Para anti Ahok dan bahkan pendukung Anies baswedan tidak ada yang mampu menjawab. Ketika saya tanya dasar hukum kasus ahok terkait ARTI Al-Maidah:51, Anti Ahok dan pendukung Anies baswedan tidak ada yang bisa menjawab. Ini artikelnya yang saya tanyakan.. https://t.co/1AmkWYJEFm

Mereka semua tidak bisa menjawab mana arti Al-Maidah:51 yang sebenarnya, padahal arti Al-Maidah:51 itu dasar hukum kasus Ahok. Anehnya sudah tidak bisa menjawab tapi masih ngotot menuding Ahok bersalah. Ngawur jadinya...

Tapi ada beberapa orang konyol menjawab, Soal Al-Maidah:51, mereka bilang begini: "Menjadikan Teman setia aja gak boleh, apalagi menjadikan Pemimpin. Jadi atas dasar inilah mereka menuduh Ahok salah..

Bisa aja saya jawab, kita ini sedang bicara hukum atau mau berhalusinasi? Lalu bisa saja saya jelaskan soal KEPASTIAN hukum. Tapi kan gak mungkin masuk di otak mereka..

Untuk menjawab kebodohan itu maka harus dijelaskan dengan cara bodoh. Kalau tidak dengan cara bodoh, maka dapat dipastikan mereka tidak akan paham..

Begini... 
Seorang terdakwa diancam hukuman 20 tahun, seumur hidup atau hukuman mati karena didakwa Membunuh seseorang dengan sengaja dan berencana. 

Kalau dengan pemikiran orang-orang bodoh itu maka terdakwa dan pengacaranya akan bilang, bahwa tidak boleh diancam segitu, karena ini bertentangan dengan Surat Al-Baqarah:191, sesuai tafsiran mereka.

Mereka bilang di Al-Baqarah:191, Fitnah itu lebih berbahaya / lebih kejam daripada membunuh. Lalu Kenapa ancaman fitnah lebih ringan daripada membunuh? Seharusnya ancaman hukum membunuh lebih ringan daripada ancaman hukum memfitnah. Terdakwa dan pengacaranya bisa bilang ini sama saja menistakan Quran! 

Jadi jelas ya kalau alasan menjadikan "Teman setia aja gak boleh, apalagi menjadikan Pemimpin" itu sama saja mengatakan "lebih baik membunuh, karena Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan", Maka dari itu kalau membunuh tidak boleh di hukum berat, harus lebih rendah daripada ancaman hukuman untuk perbuatan fitnah. 

Ini jelas bodoh kuadrat....

Saya pikir cukup jelas ya, saya terpaksa harus menjelaskan dengan cara bodoh agar orang-orang bodoh itu mengerti.

1 comment: