Breaking

Thursday, 2 February 2017

Ini masalah Pribadi saya, kenapa yang bermasalah dengan saya dibilang menistakan agama dan ulama?


Misalnya saya adalah ketua ormas agama, saya juga seorang pekerja kantor, saya juga ketua RT dan saya juga seorang kepala rumah tangga. Saya punya masalah pribadi sebagai kepala rumah tangga, maka ini urusan pribadi saya gak ada urusan dengan ormas, kantor maupun ke RT-an

Khalifah Umar bin Abdul Aziz mematikan lampu minyak ketika anaknya bertandang ke kantor kekhalifahannya. Anaknya heran dan bertanya.

"Kenapa ayah mematikan lampu minyak di saat saya mau berbicara dengan ayah?" Tanya sang anak kepada Khalifah umar bin Abdul Aziz. 

Khalifah Umar bin Abdul Aziz bilang, "Aku tidak mau menggunakan minyak yang dibiayai negara untuk urusan keluarga."

Jadi keteladanan dari khalifah umar jangan hanya dijadikan cerita saat saya berdakwah, tapi harus saya lakukan sebagai Ketua ormas agama.

Ketika saya bermasalah dengan urusan pribadi lalu ada simpatisan ormas saya mengatakan yang berurusan dengan saya sama saja menistakan ulama, maka saya akan marah kepada para simpatisan ormas saya. Saya akan katakan, kasus ini tidak ada hubungannya dengan kebijakan ormas.

Karena kalau berhubungan dengan kebijakan ormas, artinya ini bukan urusan pribadi tapi urusan organisasi. Masalahnya ini urusan pribadi saya. Kecuali saya pengecut maka saya akan senang dengan cara bodoh simpatisan ormas saya. 

Kalau mendukung dan membantu saya agar bisa selesaikan kasus hingga saya bisa bertugas kembali menjalankan organisasi, wajar dan sangat perlu.. Tapi kalau sampai mengatakan yang memperkarakan saya sama saja menghina ulama, maka itu jelas sebuah kebodohan. Saya pasti marah.

Jangan dibiasakan mencampuradukkan urusan saya dikantor, di ke RT-an, di keluarga dengan status saya sebagai ketua ormas. Kalau saya sedang melaksanakan tugas dikantor dan bermasalah lalu saya dipecat, maka kantor saya dituduh menistakan ulama! Kan kacau...

Kalau dibiarkan, ntar saat saya urusan dengan polisi karena nabrak orang, dibilang konspirasi ingin menistakan ulama. Ini bahaya..

Ini sudah masuk dalam pengkultusan dan pembodohan. Sebagai pemimpin, saya wajib ajarkan kebenaran bukan pembodohan.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidak jadi memenggal kepala musuh dalam perang, hanya karena dia diludahi oleh musuh yang akan dipenggal kepalanya itu. Musuhnya bingung dan bertanya, kenapa Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidak jadi memenggal kepalanya?

Sayyidina Ali bin Abi Thalib katakan awalnya dia akan membunuhnya karena Allah (saat perang) tapi setelah wajahnya diludah maka niatnya berubah menjadi marah. Karena niatnya sudah berubah dari karena Allah menjadi karena kemarahan pribadi, maka Sayyidina Ali bin Abi Thalib urungkan untuk memenggal. Niatnya sudah beda.

Jelas ya, ajaran keadilan dalam Islam itu bukan hanya tindakan yang terlihat bahkan niat yang tidak terlihatpun diajarkan.. begitu indah keadilan itu.

Semoga kita menjadi orang-orang yang berfikir dan tidak mengkultuskan seseorang hanya karena jubah dan jabatan duniawi. 

Amin


No comments:

Post a Comment