Anies Baswedan harus paham, dugaan korupsi terhadapnya itu soal penggunaan bukan soal pembuatan anggaran.


Dugaan Korupsi Anies baswedan terkait Dana Frankfrut Book Fair tahun 2015 sebesar Rp 146 miliar, ini harus dilihat secara jernih.

Pertama, tentu tidak bisa kita menuduh Anies baswedan melakukan korupsi, karena masih diduga, belum ada keputusan bersalah dari pengadilan. Jadi biarkan proses hukum ini berjalan dan biarkan hukum yang menentukan apakah Anies baswedan terbukti korupsi atau tidak. Kan begitu..

Kedua, untuk Anies baswedan, jangan juga menggiring ke arah lain soal pelaporan ini, karena soal 146 Milyar inikan ada, bukan fitnah.

Ketiga, ini bagi siapa saja untuk mengetahui soal kasus dugaan korupsi Pameran buku ini dan kenapa ada laporan ke Anies baswedan?

Begini.. kalau Anies baswedan 'berdalih' bahwa anggaran 146 Milliar itu diputuskan oleh Menteri sebelum dia dan dia hanya menjalankan, tentu itu 'Berdalih' yang tidak smart. Karena membuat sebuah keputusan anggaran bukanlah jenis korupsi. Anies baswedan harus paham itu..

Yang masuk dalam kategori dan jenis korupsi itu adalah ketika ada penyimpangan penggunaan anggaran. Di Mark up misalnya, itu korupsi. Alasan sudah membuat laporan juga itu bukan alasan untuk pembenaran bahwa tidak ada korupsi. Laporan keuangan itu bukanlah sebuah kebenaran.

Maka dari itulah PENGGUNAAN dana 146 Milliar dalam Pameran buku di zaman Anies baswedan diperiksa. Yang melaporkan punya bukti-buktinya. Misalnya harga komputer cuma 5 juta, tapi di laporan saya tertulis 15 juta. Maka selisih itulah yang namanya korupsi.

Jadi jelas ya.. bahwa dugaan korupsi itu bukan soal belum buat laporan, bukan soal yang putuskan anggaran adalah Menteri lama, tapi soal PENGUNAANNYA.

Silahkan KPK bekerja memeriksa bukti dari pelapor Anies baswedan terkait dugaan korupsi Pameran buku dengan anggaran 146 Milliar.

Anies baswedan jalankan saja proses ini, jangan bawa menteri lama atau alasan sudah buat laporan. Karena itu gak nyambung.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.