Antara Agama, Politik dan kekesalan kawan saya


Kawan saya bertanya pandangan saya terkait statement Jokowi tentang pemisahan agama dan politik. apakah saya setuju atau tidak? 

Saya jawab dengan bertanya.. Apakah ada larangan bahwa agama dan politik tidak boleh dipisah? Dia berfikir sejenak dan mengatakan tidak ada. Saya bilang, kalau tidak ada larangan di agama, kenapa kamu mempertanyakan hal itu? Sesuatu yang tidak ada kenapa diada-adakan?

Kawan saya bilang, memang tidak ada larangan di agama, tapi secara kepatutan itu tidak patut. 

Saya tanya lagi, patut menurut siapa? Patut tidak patut itu harus ada standartnya. Menurut banyak orang yang dilakukan Jokowi itu sangat patut, menurut anda tidak patut. Harus jelas dasarnya. Tidak bisa aturan yang dibuat kamu sendiri lalu menilai orang tidak patut berdasarkan aturan kamu. itu yang gak patut..

Kawan saya pusing gak bisa menjawab, dia lalu dengan setengah frustasi bertanya lagi, "Jadi statement Jokowi gak salah?"

Saya tertawa karena dia sudah mulai frustasi. Untuk menjawabnya saya bertanya lagi, "Kalau saya jawab gak salah, kamu akan mengaminkan?"

Kawan saya menjawab dengan cepat, "Gak dong..! Karena gak bisa dipisahkan antara agama dan politik", Saya tertawa dengar jawabannya.

Saya kemudian bertanya lagi seperti pertanyaan di awal, "Di ayat agama apa dan di pasal mana dalam UU yang melarang pemisahan agama dan politik?"

Kawan saya protes, kenapa saya balik lagi ke pertanyaan awal? sambil tertawa saya bilang "Karena kamu menjawab seperti jawaban awal juga"

Dia kemudian tidak bertanya lagi, tapi wajahnya menggambarkan kekesalan yang sangat mendalam. hahaha!

Ini yang banyak tidak dipahami bahwa "AJARAN agama itu sebenarnya sudah include dalam berpolitik, sehingga BUKU PELAJARAN agama gak perlu dibawa-bawa ketika berpolitik."


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.