Jika mereka diberi ruang sedikit saja, pasti Indonesia akan hancur seperti negara-negara timur tengah


Tidak ada yang menyangka bahwa di Indonesia akan terjadi kerusuhan 1998. Reaksi kebanyakan masyarakat adalah kaget dan banyak juga yang histeris. Anak-anak ketakutan, ibu-ibu dan orang tua ngomel-ngomel dan cemas, yang sedang berdemo juga sebenarnya kaget atas kerusuhan yang terjadi.

Setelah bakar sana-sini, menjarah, lalu muncul soal sara. Semua ketakutan dan sibuk menjaga wilayah masing-masing. Apakah para demonstran waktu itu tidak khawatir? tentu saja khawatir karena bukan mereka yang menciptakan dan tidak kuasa mereka hentikan.

Yang ikut demo menentang pemerintah saat itu pasti merasakan mereka disalahkan oleh ibu-ibu dan orangtua, mereka dianggap pemicu terjadi kerusuhan. Di mana-mana terjadi kerusuhan, bakar-bakaran, kericuhan, dan pelanggaran sara. masyarakat dihantui ketakutan karena kejadian ada di depan mata mereka.

Negara ini beruntung, karena pemerintah akhirnya berhasil meredam semuanya. secara perlahan konflik mereda dan kondisi normal kembali.

Pertanyaannya bagaimana jika pada saat kondisi tahun 1998 itu, kemajuan teknologi sudah sama seperti era sekarang ini? maka saya pastikan bahwa Indonesia dari tahun 1998 hingga hari ini akan sama seperti negara-negara Timur tengah yang kondisinya hancur berantakan.

Tahun 1998 kebebasan bicara belum seperti sekarang dan informasi belum bisa intervensi di gadget setiap orang sehingga mudah patahkan provokasi yang sudah menyebabkan kerusuhan itu. Kalau sekarang channel TV sudah banyak, media online tak terhitung, media sosial semakin canggih, sehingga informasi bisa disebar secara cepat.

Kaum radikal tidak bisa tumbuh di zaman orde baru. Ketika baru muncul langsung dilibas. Berbeda dengan zaman sekarang, Kaum radikal dengan mudah mengintervensi masyarakat melalui teknologi. Mereka mengajarkan kebencian dan kejahatan tapi bertameng agama melalui media informasi. Masyarakat dicuci otaknya seolah-olah kejahatan yang mereka lakukan adalah perintah agama. Masyarakat yang bodoh langsung percaya saja.

Maka dari itu, sekarang ini dibutuhkan akal sehat masyarakat untuk menolak mengikuti dan menyebarkan ajakan kejahatan yang dilabeli agama. Berfikirnya simple saja, lihat di negara-negara timur tengah, mereka jubahnya sama, Takbirnya sama, tapi mereka saling bunuh. Apakah mereka tidak beragama? mereka beragama dan agamanya sama, tapi kenapa saling bunuh? karena ini bukan soal agama! Semuanya itu karena nafsu kekuasaan dan materi. agama hanya jadi alat agar mereka tidak dianggap rakus dan jahat. itu yang terjadi.

Yang rugi di timur tengah siapa? ya rakyat! para provokator makan enak karena mereka dibayar untuk melakukan kejahatan itu. Yang melakukan kejahatan tentu dibayar, yang tidak dibayar itu adalah rakyat yang terprovokasi. mereka bersuara secara gratis.. Dan mereka yang terprovokasi adalah orang-orang yang kini menjadi korban ketika negara mereka hancur, anak-anak mereka juga terbunuh. Mereka menjadi korban dan dirugikan atas perbuatan bodoh mereka sendiri yang terhasut dan menjadi alat untuk memuluskan kejahatan.

Kalau dibilang Indonesia tidak akan menjadi seperti suriah dan negara-negara Timur tengah lainnya, maka berkacalah pada kejadian tahun 1998. Dari awal banyak yang mentertawakan bahwa akan terjadi kerusuhan masal dan sara di Indonesia. Tapi faktanya itu terjadi dan kita kaget.

Setelah terjadi, yang menjadi korban adalah kita sendiri dan kita tidak punya kekuatan untuk hentikan itu. beruntung Indonesia bisa lolos. Mari berfikir sehat, jangan hanya karena mau menang Pemilu Presiden, DPR atau Pilkada lalu kita halalkan segala cara untuk menang.

Misalnya ada kelompok radikal, tapi karena kebutuhan dapat suara mereka dirangkul dan diberi tempat. ini bahaya, karena ini gak gratis. Kelompok radikal itu tau bahwa mereka didekati karena ada maunya, maka mereka tentu punya syarat dan dibuat secara tertulis. Jika menang, tentu saja kelompok radikal itu punya tempat dipemerintahan. ini semakin berbahaya karena mereka punya kekuasaan. Dan tentu saja mereka dengan leluasa tanpa diganggu menyebarkan provokasi kebencian untuk merusak negara ini seperti di timur tengah. Mereka akan merubah ideologi bangsa ini menjadi ideologi radikal. Dan mereka kuasai kekayaan negara untuk menguasai negara lainnya, bukan untuk rakyat seperti yang tercantum dalam UUD 45.

Jadi jika pemerintah toleran dan masyarakat terprovokasi dengan kelompok radikal, hanya tunggu waktu bangsa ini seperti timur tengah.. Ingat di timur tengah mereka itu agamanya sama, jubahnya sama, rupanya sama, tapi mereka saling bunuh dan saling merusak.. Jangan kita toleransi dan memberikan sedikit ruang untuk mereka atas nama HAM. Jangan biarkan mereka besar dan kuasai negara ini. 

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.