Aplikasi Telegram disamakan dengan Demokrasi? Dasar idiot!


Gue sebenarnya males nanggepin soal aplikasi telegram yang diblokir oleh pemerintah, karena buat itu gue sah-sah aja. Kalau bahas alasan kenapa diblokir, Menkominfo sudah menjelaskan soal security, soal keamanan negara. Jadi udah final..

Tapi karena masih banyak yang berisik menuding Pemerintah gak demokratis, anti kebebasan dan tudingan serupa lainnya, maka gue tanggapi..

Gini, bisa bedakan gak antara mengekang kebebasan berbicara atau berpendapat dengan menutup aplikasi? emang kalo aplikasi ditutup kalian gak bisa bicara atau berpendapat?

Mosok hal simpel gini gak bisa bedain sih? Ini diibaratkan kita mau kirim paket, ada satu perusahaan pengiriman ditutup, apakah akhirnya kita gak bisa mengirim paket? masih bisa kan? karena masih ada banyak perusahaan pengiriman lain dan masih bisa kita antar sendiri. kecuali kalau pemerintah melarang kita mengirim barang, itu baru masalah!

Opini ini dibangun oleh perusahaan propaganda yang dibayar oleh lawan Jokowi, eh kalian malah ikut bantu propaganda dan gak dibayar. Ok lah kalau opini lain kalian bisa terprovokasi, tapi sampai terprovokasi soal aplikasi? ini idiot.. Aplikasi kok disamakan dengan kebebasan?

Sudah dijelaskan bahwa ini soal keamanan negara dan kewajiban pemerintah menjaga negara ini, kenapa pemerintah disalahkan? Dasar idiot.

Dan lebih idiotnya lagi, ternyata aplikasi chat disamakan dengan kebebasan berbicara. Bodoh boleh tapi mbok ya jangan keterlaluan ah..

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.