Emang sebelum Jokowi menjadi Presiden, Negara ini dipimpin oleh para Dewa?


Sebagai pimpinan Negara, Jokowi bukanlah orang yang maha amat sangat sempurna. Sama seperti pimpinan-pimpinan sebelumnya.

Mengkritik, ingatkan dan memberikan masukan pada Jokowi itu sah-sah saja, apalagi di negara ini sangat diperbolehkan.

Tapi, gue heran ketika akan memasuki 2019, mereka menjudge Jokowi seolah-olah pemimpin sebelum-sebelumnya adalah Dewa. Tanpa rasa malu, mereka tutup mata pada rekam jejak, lalu mereka persalahkan Jokowi. Semua yang dilakukan Jokowi adalah salah.

Belum lagi para penjilat yang sedang mencari nafkah dengan memuja-muja setinggi langit sang bos lalu menjudge Jokowi..

Gue bingung, emang pimpinan-pimpinan sebelum Jokowi gak ada yang naikkan BBM, Listrik, permasalahan hukum dan sebagainya? Gue lihat rekam jejak sebelum jokowi, ternyata terjadi juga di pemerintahan pimpinan sebelum-sebelumnya. Wah, ngawur ini hehehe..

Maka dari itu gue coba menganalogikan soal hal ini agar orang-orang paham apa peran pimpinan dalam pemerintahan..

Begini.. Gue nih Dirut baru di perusahaan, Gue disuruh bangkitkan perusahaan yang mati suri, banyak hutang dan tidak ada pemasukan.

Gimana caranya?

Caranya, gue harus punya modal untuk membangun proyek, agar dapat profit sehingga bisa membayar hutang-hutang perusahaan. Maka gue akhirnya meminjam uang untuk modal. Gue akan putar uang pinjaman itu, sehingga gue bisa dapatkan keuntungan.

Tanggung jawab gue sangat besar sekali. Gue bertanggungjawab terhadap kondisi sebelumnya dan kondisi yang akan datang. Selain gue harus bangkitkan perusahaan ini dan gue harus dapatkan keuntungan, gue juga harus menyelesaikan masalah yang lalu.

Aneh bin konyol jikalau ada yang mengatakan bahwa gue gagal! Dengan alasan, karena belum apa-apa hutang perusahaan menumpuk.

Loh!? hutang besar itu sudah ada sebelum gue, kenapa seolah-olah kayak gue yang melakukan semua hutang besar itu? Buktinya gue udah bisa nyicil membayar hutang, perusahaan berjalan lagi dan perlahan semakin banyak proyek yang gue tangani..

Konyolnya lagi kalau sampai ada Dirut lama nyinyir mempertanyakan kenapa keuntungan gue cuma sedikit?

Loh!? lu gak liat? Gue harus bayar hutang yang elu perbuat!

Lalu di tengah perjalanan, posisi gue diganti orang lain, maka orang lain itu harus meneruskan apa yang sudah gue kerjakan. Orang yang gantiin gue harus membayar hutang gue, hutang Dirut sebelum gue dan memperbaiki berbagai hal minus yang gue dan Dirut lama lakukan.

Nah, gue gak bisa menuduh hutang gue dan hutang dirut sebelum gue itu adalah karena dirut yang baru. sakit jiwa gue kalo begitu.. Gue juga gak bisa menuduh kerusakan yang gue dan dirut lama lakukan itu karena perbuatan dirut baru..

Dia malah memperbaiki, kerusakan-kerusakan yang gue dan Dirut lama perbuat. Bukannya malah dia yang disalahkan.. Sakit jiwa itu namanya...

Jadi, sudahlah... setiap Dirut itu ada plus minusnya, Jangan anggap waktu gue jadi Dirut, gue yang paling hebat dan yang lain minus.

Kecuali kalau gue berhasil membayar hutang yang lama dan baru, lalu perusahaan bangkit dan memiliki kekayaan juga proyek berjalan terus, bolehlah.. Ketika perusahaan dipegang oleh Dirut yang baru, tiba-tiba perusahaan kembali hancur seperti ketika pertama kali saya jadi Dirut. Maka wajar kalau gue menuding dirut baru tidak becus mengendalikan perusahaan, karena dari surplus menjadi minus. Itu boleh..

Jadi sudahlah.. Jika kita kembali dalam politik, Apa yang dikerjakan Jokowi sekarang adalah untuk perubahan yang lebih baik.

Kalau politik di kita politik membandingkan dan menyalahkan, bisa jadi yang menyalahkan ternyata lebih minus daripada yang disalahkan.

Jualan politik untuk Pemilu adalah jualan konsep bukan jualan klaim-klaiman paling hebat, padahal lihat direkam jejak ternyata gak hebat. Ini lucu.. Kalau tidak punya konsep, maka dukung saja yang punya konsep, jangan hanya karena kebencian dan nafsu sampai tidak mengukur kemampuan diri.

Saya pikir cukup jelas, semoga para politisi bisa menyikapi politik dengan jernih bukan dengan nafsu angkara murka hehehe..

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.