Breaking

Wednesday, 26 July 2017

Harga cabe zaman Soekarno murah, kenapa zaman SBY Mahal?

Gue udah jelasin disini bahwa sebelum Jokowi, Pimpinan di Indonesia bukanlah para dewa. Masih juga gak mudeng karena nafsu. hehehe..

"Emang sebelum Jokowi menjadi Presiden, negara ini dipimpin oleh para dewa?"

Ada yang fakir kuota, gak baca tulisan langsung ngamuk, ada juga yang membantah dengan mengirimkan data bodoh menyalahkan Jokowi terkait hutang.

Ini gue kasih analogi sederhana supaya masyarakat paham. Dan ini bukan untuk para calo politik yang memang ditugaskan untuk menyerang Jokowi.

Harga cabe zaman Soekarno dan harga cabe zaman SBY sama gak? Wah gak sama! Payah nih SBY bukan makin murah malah makin mahal!

Jalanan zaman soekarno dan zaman SBY macetan mana? wah.. macetan zaman SBY! Payah nih SBY, dia pimpin malah macet jalanan.

Zaman majapahit tidak ada polusi udara karena naik kuda, zaman SBY kenapa polusi? ini karena mobil! kenapa gak pake kuda? payah nih SBY!

Gue yakin mereka akan bilang analogi gue bodoh bin konyol, tentu saja beda karena ruang, waktu, harga, kebutuhan, kondisi dan sebagainya berbeda.

Gue akan bilang, kalau begitu data soal perbandingan hutang jokowi dan Pimpinan sebelumnya yang kalian kirim data bodoh bin konyol dong? Kenapa? Karena analogi gue mengikuti data yang kalian kirim untuk menyerang Jokowi dan membela pimpinan-pimpinan sebelumnya.

Ini yang gue bilang data bodoh dibuat oleh orang bodoh wajar. Tapi yang gak wajar adalah yang mempercayai data yang dibuat orang bodoh. Nah kalian menyebarkan data yang dibuat oleh orang bodoh. Kalau orang bodoh bisa bodohi kalian, itu apa namanya?

Analogi lagi, kalau orangtua kita meninggal dan meninggalkan hutang 100 juta, bagaimana cara kita membayar hutang 100 juta itu? Tentu dengan bekerja untuk mendapatkan uang. cara bekerjanya macam-macam. Misalnya dengan berdagang makanan.

Untuk melakukan itu, kita harus beli peralatan makan, etalase, sewa tempat, cetak ini itu untuk promo, beli bahan dan sebagainya dan sebagainya.

Ketika dapatkan keuntungan saat berjualan, maka kita harus bagi keuntungan dengan membayar karyawan dan buat kebutuhan hidup sehari-hari. Belum lagi kalau saat sepi dan sebagainya, kita harus putar otak cari pemasukan lain agar bisa bayar karyawan dan biayai hidup sehari-hari.

Kalau hutang 100 juta harus bayar secepatnya maka kita terpaksa pinjam di Bank dan bekerja untuk bayar cicilan hutang bank.

Kalau orang tua kita tidak meninggalkan hutang 100 juta, maka kita mungkin tidak akan melakukan hal extra seperti itu..

Jadi yang menuding dengan data bodoh untuk mencari pembenaran menyalahkan Jokowi, harus juga gunakan akal sehat. Proses itu memakan waktu dan biaya sebelum kesasaran, belum lagi Jokowi harus lakukan hal yang lain untuk bangun ekonomi rakyat.

Jokowi itu tugasnya memperbaiki kerusakan yang dulu, mengatasi masalah hari ini karena efek kerusakan yang dulu dan mengerjakan untuk hasil kedepan.

Situasi kegaduhan politik yang kalian buat, itu juga mempengaruhi ekonomi, dan semua itu ada harga yang harus dikeluarkan untuk menstabilkan. Membangkitkan ekonomi yang tidak baik juga ada prosesnya. Merusak itu tidak semudah memperbaiki. Yang merusak yang pasti bukan Jokowi.

Ibarat mobil, cuma cukup 30 detik untuk merusakannya, tabrakin saja mobilnya. Tapi memperbaiki gak cukup 30 detik. Jokowi yang memperbaiki.

Kaum bodoh kuadrat menyebarkan data bahwa merusak mobil 30 detik, maka memperbaikinya harus 30 detik. Kan sakit jiwa..

Semoga masyarakat makin paham dan tidak dibodoh-bodohi para calo politik yang mencari nafkah dengan cara menyebarkan kebodohan.

2 comments:

  1. Ah g juga bung tedy, itu kn persepsi loe ja.. Analogi ank Kecil

    ReplyDelete
    Replies
    1. Analogi Bung Tedy memang hanya bisa dimengerti oleh orang yang tidak bodoh. Kalau ada tulisan pembanding dari bukan anak kecil, pengin tahu deh. Jangan-jangan yang bukan anak kecil itu anak besar tapi bodoh.

      Delete