Breaking

Tuesday, 4 July 2017

Kasus baru yang bisa mempidanakan Jaksa Yulianto dalam kasus SMS Hary Tanoe


Saya sudah sampaikan dengan jelas bahwa dalam kasus Hary Tanoe, yang harusnya dijadikan tersangka dalam kasus ini adalah Jaksa Yulianto. 

Ini penjelasan yang saya sampaikan…

Diluar dari yang sudah saya jelaskan, ternyata ada hal lain yang bisa menjerat Jaksa Yulianto ke ranah pidana oleh Hary tanoe. 

Sebelum saya melanjutkan, saya katakan bahwa tujuan saya menulis ini bukan soal hary Tanoe, tapi kalau ini dibiarkan akan jadi yurisprudensi yang akan menjerat seluruh rakyat.

Saya merasa terancam, itu adalah kata-kata Jaksa Yulianto ketika memperlihatkan isi sms Hary Tanoe ke media. Itu alasan Yulianto melaporkan Hary Tanoe. Maka Hary Tanoe bisa mengatakan juga bahwa dia merasa terancam, karena Yulianto mengirimkan pesan sms pribadinya ke banyak orang melalui media TV. 

Perasaan itu tidak bisa diperdebatkan. Kalau perasaan dijadikan fakta hukum, maka hukum dapat diperdagangkan. Tidak ada kepastian hukum. Kepastian hukum berdasarkan perasaan bukanlah kepastian hukum tapi menjadi perasaan hukum. Tidak ada yang namanya Perasaan hukum dan tidak ada batasan perasaan dalam hukum.

Selain bicara perasaan dan soal pasal 29 UU ITE, apa saja yang dibicarakan yulianto sehingga saya katakan bahwa Yulianto bisa dijerat pidana yang lain lagi?

Pertama, Yulianto melaporkan Hary Tanoe dalam kapasitas sebagai apa? sebagai seorang Jaksa atau sebagai pribadi? Ini harus jelas. Ternyata berdasarkan pengakuan Yulianto, dia melaporkan Hary Tanoe bukan sebagai jaksa dan institusi, tapi secara pribadi. Artinya bukan sebagai aparat.

Kalau secara pribadi, kenapa dia boleh menggunakan data institusi untuk kepentingan pribadi? Ini jelas tidak bisa dibenarkan. Gunakan data institusi untuk pribadi.

Kedua, Ini masalah pribadi dan masalah pasal 29 UU ITE, kenapa Yulianto mempublikasi alat bukti untuk kasus lain yang menyerang Hary Tanoe? Sudah ini urusan pribadi, menggunakan data institusi, dan ternyata membuka alat bukti untuk kasus yang berbeda. 

Kalau bicara pembunuhan karakter, maka apa yang dilakukan oleh Yulianto yang bukan seorang jaksa dan bukan sedang dipengadilan, diduga sudah terpenuhi. 

Ketiga, Yulianto melibatkan pihak lain dalam kasus pribadinya yang seharusnya tidak perlu diekspose dan rentan dia dipermasalahkan secara hukum. Yulianto yang bukan aparat hukum, mempublikasikan data institusi soal surat dari menteri keuangan terkait perusahaan mobile 8. Ini bukan domain dia dalam kasus dia pribadi dengan Hary Tanoe.

Yulianto yang bukan aparat hukum, mempublikasikan percakapan BBM antara Hary Tanoe dengan Dirut PT. Mobile 8. Ini bukan hak dia mempublikasikan. Apa lagi untuk dapatkan pembicaraan pribadi itu, menggunakan kewenangan institusi, tidak bisa sembarangan orang bisa mengakses hal ini. Ini bukan hak Yulianto untuk mempublikasikan.

Kiriman pribadi BBM antara Hidayat candra dirut PT Mobile dengan Hary tanoe, yang tidak ada urusan soal pengancaman kenapa dipublikasi? Ini pelanggaran. Dirut PT. Mobile 8 sangat bisa melaporkan Yulianto karena membuka hal yang tidak ada hubungannya dengan kasus Yulianto.

Yulianto yang bukan aparat hukum, mempublikasikan bahwa dia sudah bertemu Jaksa agung untuk melaporkan hary tanoe dan ada percakapannya. Menurut Yulianto Jaksa agung mengatakan bahwa Yulianto harus pikirkan dulu inikan soal koruptor. Artinya Jaksa agung mengatakan Hary Tanoe koruptor sebelum ada putusan pengadilan? apa boleh? 

Dan apakah benar Jaksa Agung mengatakan begitu? Ini tuduhan yang sangat serius. Pembunuhan karakter. Hary Tanoe bisa permasalahkan secara serius tuduhan ini. 

Sebagai Jaksa, Yulianto terikat dalam peraturan Jaksa agung Republik Indonesia NOMOR PER–014/A/JA/11/2012 tentang kode perilaku Jaksa. Dan dengan apa yang dilakukan Yulianto, maka kedepan Yulianto tidak boleh lagi menangani Perkara Mobile 8 karena diperaturan itu jelas menyatakan mengundurkan diri karena sudah ada kepentingan pribadi.

Di peraturan itu dituliskan tidak boleh menggunakan kewenangannya melakukan penekanan secara psikis. Yulianto menggunakan data institusi untuk menyerang Hary Tanoe untuk kasus pribadinya. Tidak boleh juga Yulianto membentuk opini publik yang dapat merugikan penegakan hukum. Cara Yulianto selama ini terhadap hary Tanoe, itu sudah membentuk opini publik melalui media.

Dan masih banyak lagi dugaan pelanggaran yang dilakukan Yulianto berdasarkan peraturan Jaksa dan ada sanksi administratif bagi dirinya. Sanksi Administratif itu tidak menghilangkan proses hukum pidana yang nanti akan dibebankan pada yulianto jika pihak Hary Tanoe laporkan dia. 

Dalam aturan itu sangat jelas diatur bagaimana seharusnya perilaku sebagai seorang Jaksa. Yulianto begitu emosional dan melebarkan kasus kemana-mana.

Belum lagi opini yang dia bangun bahwa dia berhadapan dengan raja media, seorang konglomerat dan seorang ketua partai. Maksudnya apa ini? Lalu Yulianto mengatakan di media bahwa dia merasa terancam dan khawatir Hary Tanoe menggerakan seluruh daya upaya terhadap dirinya.

Ini jelas membangun opini dan membunuh karakter seseorang dan profesi. Memangnya kalau ketua partai dan konglomerat pasti negatif? Ini pembunuhan karakter. Hary Tanoe bisa perkarakan banyak hal terhadap Yulianto. Dari tuduhan koruptor, pembunuhan karakter hingga pengancaman. Ini sangat serius.. 

Hary Tanoe bisa laporkan juga Yulianto ke kejaksaan dalam pelanggaran perilaku sebagai seorang jaksa, apalagi menggunakan data institusi untuk kepentingan pribadi.

Salah satu bukti dari rekaman pembicaraan Yulianto yang menguatkan adanya dugaan pelanggaran dirinya ternyata dibuka sendiri olehnya. Ini memang lucu…

Yulianto mengatakan bahwa penegak hukum itu tindakannya terukur dan tidak akan membawa fakta hukum kepada media. Selama ini dia tidak pernah memberikan statement apapun terhadap perkara yang dia tangani, berperang saja di pengadilan, itu adalah kata-kata Yulianto. 

Tapi sayangnya apa yang dia katakan tidak sesuai dengan apa yang dia lakukan. Di kasus sms ini, Yulianto membuka alat bukti ke media bukan ke pengadilan dan Yulianto melebarkan hal ini ke kasus lain, padahal dia sedang dalam urusan kasus pribadi. Apakah ini bukan Inkonsisten namanya? 

Belum lagi dalam perdebatan untuk urusan sms, Yulianto secara terbuka menyatakan bahwa dalam kasus pajak ada transaksi yang sudah jelas fiktif. Ini tuduhan yang juga sangat serius, padahal yang sedang dibicarakan adalah soal kasus sms dan dia melaporkan secara dalam posisi sebagai pribadi bukan institusi. 

Yulianto dari mana bisa menyatakan bahwa itu sudah jelas fiktif? padahal putusan hukum inkrach belum ada? kenapa dia melampaui kewenangan pengadilan?

Nah, dari berbagai carut marut ini saya berpendapat bahwa Yulianto sepertinya sadar bahwa sms yang dia jadikan laporan itu tidak kuat secara hukum. Maka untuk menutupi itu dia membungkus dengan berbagai opini dan dia menggunakan kasus lain untuk membunuh karakter Hary Tanoe.

Saran saya kepada Hary Tanoe dan tim untuk melaporkan balik hal ini dan jangan jadikan tujuan ini untuk pribadi, tapi untuk penegakan hukum di negara ini. Karena kalau sampai semua hal ini dibiarkan terjadi dan perasaan digunakan sebagai alat untuk memutuskan sebuah perkara, maka Kedepan setiap orang bisa mentersangkakan orang yang tidak dia senangi hanya karena mengirimkan sms atau informasi elektronik lainnya.

Karena ini nantinya sudah menjadi Yurisprudensi, maka setiap warga negara yang mengirimkan informasi elektronik bisa dipidana dengan alasan perasaan yang menerima terancam! 

No comments:

Post a Comment