Breaking

Thursday, 6 July 2017

Rizieq, Setya Novanto dan Hary Tanoe diantara efek domino kasus hukum.


Tahun 2015, saya bicara mengenai kasus dugaan rekaman Setya Novanto, saya nyatakan bahwa Setya Novanto tidak bisa dipidana. Saat itu saya bicara Yurisprudensi juga, bahwa kalau Setya Novanto dihukum atas rekaman itu, ini sangat berbahaya..

Ini salah satu dari berbagai pandangan saya yang diangkat oleh media.

Jika saya Setya Novanto

Karena nanti orang yang suaranya mirip dengan iwan fals, bisa merekam suaranya seolah-olah iwan fals, lalu berbicara akan membunuh Presiden, Apakah nanti iwan fals boleh mengelak? tidak boleh kalau saat itu Setya Novanto dihukum karena ada rekaman suara yang diduga dia.

Maka saya sarankan Setya Novanto untuk mengatakan bahwa itu bukan suara dia, terlepas benar atau tidak, dan laporkan balik yang menuduh dia. Entah dibaca atau tidak yang pasti setelah saya publikasikan, langkah Setya Novanto sama dengan apa yang saya sarankan dalam berbagai kesempatan.

Alhamdulillah kasus Setya Novanto tidak berkepanjangan sehingga tidak ada putusan dan beliau tidak dikenakan sanksi pidana…

Pada saat kasus artis Ariel Peterpan, Ariel tidak pernah mengakui bahwa orang yang di video itu dirinya tapi dia tetap dihukum berdasarkan bukti-bukti. Lalu dibeberapa kasus dugaan kasus pornografi di Indonesia, orang yang diduga sebagai pemeran di video dipidanakan dan dihukum. Penyebar videonya tidak diketahui siapa tapi pemeran dalam video itu dikenakan sanksi pidana pornografi.

Keputusan ini menjadi pedoman bagi para hakim dalam memutuskan sebuah perkara yang sama. apalagi pasal 29 UU Pornografi mendukung itu.

Ketika kasus pornografi yang diduga pemerannya adalah Rizieq dan Firza, maka hakim bisa jadi memutuskan sesuai dengan contoh kasus sebelumnya. Sangat aneh ketika nanti perlakuan terhadap Ariel dan terhadap pihak lain berbeda terhadap Rizieq. akan terjadi ketidakadilan dalam hukum.

Ini bukan berharap Rizieq dipersalahkan, tapi saya bicara soal pedoman bagi hakim dengan melihat putusan dari sidang-sidang sebelumnya. Ini juga yang bisa terjadi pada Iwan fals kalau sampai kasus Setya Novanto disidang dan diputuskan bersalah oleh pengadilan.

Dan kini penegakan hukum sedang diuji dalam kasus Hary Tanoe (HT). HT di jadikan tersangka karena mengirimkan sms ke Yulianto. HT dijerat pasal 29 UU ITE karena mengirimkan sms tanpa izin terlebih dahulu dan yang menerima sms MERASA terancam.

Penjelasan ilmiah terhadap keanehan dalam mentersangkakan HT sudah banyak saya kemukakan dan dipublikasi di media. Ini bicara soal Yurisprudensi.

Ini salah satu berita penjelasan saya..

Sudah ada contoh bahwa efek putusan terhadap Ariel beberapa tahun lalu, kini akan menerpa Rizieq Shihab. tidak bisa dihindari hal itu..

Sama seandainya pada tahun 2015, kalau saat itu Setya Novanto di putuskan bersalah dan dihukum, maka akan banyak korban selanjutnya. Begitupun dengan kasus HT, Kalau sampai dia dinyatakan bersalah, maka kedepan akan banyak sekali orang yang dipidana karena mengirimkan sms.

Jadi kenapa saya membela HT? karena kalau dia diputuskan bersalah, maka selanjutnya bisa jadi saya dan kalian yang menjadi korban.

Sekali lagi, efek buruk dari penerapan hukum yang salah, akan memakan korban orang yang tidak bersalah dan yang tidak tahu apa-apa.

No comments:

Post a Comment