Breaking

Wednesday, 2 August 2017

Hary Tanoe dituduh mendukung Jokowi agar status tersangka di cabut. Lalu bagaimana kabarnya dengan Setya Novanto?


Ketika Perindo mewacanakan akan mendukung Jokowi sebagai Presiden 2019-2024. Muncul berbagai reaksi. Ada yang plus dan ada juga yang minus.

Kalau yang plus tidak perlu dibahas, yang dibahas adalah reaksi minusnya. Yang paling banyak menyatakan bahwa Hary tanoe mau cari selamat dari kasus pidana yang sedang dihadapinya.

Saya katakan begini, bagaimana bisa Hary tanoe bisa menjadi pengusaha sukses dan bertahan hingga hari ini kalau dia punya pemikiran bodoh seperti itu.

Jadi orang yang berpendapat bahwa Hary tanoe melakukan itu agar kasusnya bisa selesai, itu ibarat mengukur baju orang di badan sendiri. Dia menyamakan dirinya kalau terkena kasus seperti Hary tanoe maka dia akan melakukan seperti itu. Orang yang berpendapat seperti itu dapat dipastikan minim pengetahuan tentang kondisi di lapangan.

Begini... Setya novanto, Ketua umum Partai golkar yang juga Ketua DPR RI itu adalah pendukung setia Jokowi. Setya Novanto ketika awal mendukung Jokowi, statusnya bukanlah seorang tersangka, kini dia menjadi tersangka. Tapi walau pun sudah menjadi tersangka, Setya Novanto tetap mendukung Jokowi.

Lalu dari mana logikanya, Hary tanoe yang pasca pemilu 2014 abstain, kini sudah menjadi tersangka, lalu berharap dibebaskan karena baru mendukung Jokowi? Yang lama mendukung Jokowi saja bisa jadi tersangka, bagaimana ceritanya yang baru mendukung Jokowi bisa dicabut status tersangkanya?

Artinya Jokowi tidak bisa dipergunakan untuk melakukan intervensi hukum. Jadi yang berpendapat seperti itu tidak paham atau kurang paham situasi.

Itu logika sederhana...

Lalu kalau ada yang bilang Jokowi bisa bargain dengan memanfaatkan jaringan media Hary tanoe, semakin bodoh lagi pendapat itu.

Kenapa?

Jokowi itu Presiden, jadi dia tidak perlu takut kehilangan pemberitaan, yang berpendapat itu karena mengukur baju orang di badan sendiri. Karena kalau yang berpendapat itu, belum tentu statementnya akan diberitakan media. Kalau Jokowi? Jokowi bersin saja pasti diberitakan.

Kalau bicara dukungan partai, Jokowi sudah di dukung Partai-partai besar yang ada di senayan. Jadi gak ada urgensi baginya untuk berupaya melakukan intervensi hukum.

Jadi saya berfikir bahwa Hary tanoe yang tadinya abstain, setelah menimbang-nimbang secara politik, dia memilih mendukung Jokowi.

Kalau ada yang bilang Hary tanoe mendukung Prabowo lalu beralih ke Jokowi, itu pandangan yang sangat ngawur.

Kenapa? Karena Pemilu 2014 sudah selesai.

Politisi dan Partai politik pada Pilpres 2014, mengukur dukungan dari sikap politik Jokowi dan sikap Prabowo pada saat itu. Setelah pilpres ya sudah selesai.

Setelah Pilpres, sikap dan sepak terjang Jokowi (yang sudah menjadi Presiden) dan Prabowo (setelah kekalahan Pilpres) kembali diukur. Makanya itulah kenapa ada politisi dan Partai yang saat Pilpres 2014 dukung Prabowo, setelah Pilpres dukung Jokowi. Begitupun sebaliknya ada politisi yang tadinya mendukung Jokowi berbalik tidak mendukung Jokowi setelah Jokowi menjadi Presiden.

Itu bukan sikap plin-plan, tapi karena sudah beda kondisi, sikap dan sepak terjang dari Jokowi dan Prabowo yang membuat Partai atau Politisi beralih mendukung pihak lain.

Hary tanoe dan Perindo setau saya, selama ini belum pernah menyatakan dukungan kepada Prabowo untuk maju dalam Pilpres 2019. Jadi kalau ada yang mengatakan Hary tanoe berpindah dari mendukung Prabowo lalu beralih ke Jokowi, itu pihak yang kurang paham.

Apalagi kalau yang bicara begitu misalnya Politisi atau Partai yang saat Pilpres 2014 mendukung Prabowo dan kini mendukung Jokowi, Itu jelas ngawur. Karena mereka sama saja seperti menjudge diri mereka sendiri. Apa bedanya mereka dengan Hary tanoe kalau begitu? hehehe..

Saya pikir cukup jelas, karena memang hal itu sudah sangat jelas. Yang kurang jelas itu adalah kemampuan berfikir yang berpendapat.

No comments:

Post a Comment