Ada kepentingan politik dan uang di balik kepedulian terhadap kasus Rohingya


Kalau bicara soal kekejaman yang terjadi di rohingya, sumpah serapah dan doa mungkin belum bisa memuaskan untuk curahkan kesedihan dan kemarahan. Yang pasti kekejaman yang terjadi di rohingya dan daerah lain tidak dapat dibenarkan walau dengan alasan apapun. Tidak ada pembenaran untuk itu.

Lalu apa yang dapat kita lakukan selain sumpah serapah dan berdoa? ternyata tidak banyak yang bisa kita lakukan kan? coba kita jujur..

Harapan kita tinggal kepada pemerintah. Apa sikap pemerintah dengan kekejaman kemanusiaan ini. Apa yang kita harapkan pemerintah lakukan?

Cuma ada dua pilihan, Pemerintah gunakan cara diplomasi atau gunakan cara kekerasan dengan memerangi pelaku kejahatan.

Negara ternyata memilih melakukan dengan cara diplomasi. Pertama Pemerintah melalui Menlu melakukan diplomasi dengan sekjen PBB. Kedua, Menlu senin ini akan melakukan kunjungan ke Myanmar, bertemu dan bicara dengan Aung San Suu Kyi membahas soal Rohingya.

Sebelumnya, Januari lalu juga pemerintah mendirikan dua sekolah di Negara Bagian Rhakine, Myanmar, memberikan tempat pendidikan di daerah konflik. Desember tahun lalu, pemerintah bahkan mengirimkan 10 kontainer bantuan untuk warga rohingya.

Dan banyak hal lain yang dilakukan secara riil oleh pemerintah tanpa harus berkoar-koar seperti negara lain tapi minus action.

Sekarang pemerintah bertindak langsung menemui pucuk pimpinan di Myanmar. Memanfaatkan hubungan baik yang terjalin selama ini.

Dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah, patut kita apresiasi, karena negara lain belum tentu mau bertindak seperti pemerintah kita. Namun sayangnya, Para oknum (Kalau tidak mau dibilang bangsat) memanfaatkan masalah Rohingya untuk kepentingan diri mereka sendiri.

Pertama, mereka menyerang pemerintah seolah-olah pemerintah tidak bersikap atas apa yang terjadi di Myanmar.

Kedua, mereka memprovokasi agar terjadi konflik agama di negara ini, mereka provokasi bahwa permasalahan rohingya adalah persoalan agama.

Di saat pemerintah berupaya penyelesaian konflik, para oknum malah sedang sibuk menuding pemerintah dan memprovokasi agar bangsa ini rusuh.

Presiden Myanmar itu bukan Jokowi, tapi para oknum mengarahkan seolah-olah Jokowi harus bertanggungjawab dan tidak berbuat apa-apa. Bodohnya ada yang percaya. Sudah tidak melakukan apa-apa selain memaki-maki, ikut menyebarkan berita bohong dan salahkan pemerintah pula.

Jadi mari kita support pemerintah yang sedang berjuang untuk menyelesaikan masalah ini, jangan ikuti provokasi para oknum. Karena mereka punya tujuan pribadi, yang satu tujuan politik, yang satunya lagi tujuannya uang. Bodoh kalau kita malah terprovokasi.

Semoga paham dan kita semua bisa menyikapi permasalahan ini dengan bijak, bukan malah ikut membuat masalah.

1 komentar:

  1. kutipan :

    Ya hal yg paling masuk akal dari isu Rohingya yg dilebih2kan/digoreng oleh media seperti sekarang (seperti beredarnya ratusan foto2 hoax pembantaian) adalah negara ke 3 tertarik mengeksplor SDA myanmar yg kaya batu permata & minyak, namun myanmar sendiri tertutup

    Btw yang ngarep Aung Suu Kyi bela rohingya:

    sama aja kyk suruh Duterte bela isis rebut marawi,
    atau suruh Jokowi bebaskan OPM/GAM memisahkan diri dari NKRI,
    atau suruh Indo memerdekakan freeport papua/ tambang batubara kalimantan mjd milik asing
    atau suruh Pak Harto bebaskan PKI/DI-TII rebut NKRI

    Genocide tidak pernah terjadi, yang ada konflik antar suku & militan separatis rohingya vs militer myanmar yg korbannya dari kedua belah pihak, coba bayangkan klo memang terjadi genocide populasi rohingya ga bakal meluber sebanyak sekarang (ratusan ribu - jutaan populasi, bahkan siklus pertumbuhan rohingya mengalahkan pribumi rakhine myanmar sendiri/ satu keluarga rohingya bisa lebih dari 5 anak!). Sedangkan sejarah awal masuknya bengali (cikal bakal rohingya) ke rakhine arakan cuma bbrp saja

    Parahnya lagi sebagian besar penduduk rohingya tidak bisa bahasa myanmar, selama ini mereka berkomunikasi dgn bahasa bengali atau bahasa bangladesh

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.