Breaking

Tuesday, 5 December 2017

Apakah yang dilakukan Dewi Perssik di jalur busway salah?


Kalau orang tua kita mendadak sakit di tengah jalan yang macet di Jakarta, apa yang akan kita lakukan? apakah tetap berada di tengah kemacetan sambil berharap macet segera terurai, memencet klakson meminta mobil yang ada di depan untuk minggir atau memanfaatkan jalur Busway?

Saya yakin bahwa kita akan melakukan apa saja yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa orang tua kita yang ada di dalam mobil dan berupaya untuk melewati Jalur busway. Soal apakah itu melanggar aturan atau tidak, kita pasti sudah tidak perduli, itu urusan belakangan, yang penting selamatkan nyawa orang yang kita sayangi. Itu saya yakin pemikiran dan sikap paling mendasar dan sangat manusiawi yang akan dilakukan oleh siapapun.

Kasus Dewi Perssik yang berseteru dengan Petugas Trans Jakarta pun demikian, bahwa Dewi Perssik mau melewati Jalur Busway karena akan mengantarkan asistennya yang sedang membutuhkan pertolongan dokter segera. Yang dilakukan oleh Dewi Perssik adalah hal yang sangat mendasar dan sangat manusiawi. Siapapun akan melakukan hal itu..

Dari hal yang mendasar dan sangat manusiawi ini, maka sebaiknya kasus ini dapat diselesaikan di luar jalur hukum, diselesaikan secara kekeluargaan saja. Karena Dewi Perssik dan Petugas Trans Jakarta dalam posisi yang sama-sama tidak bersalah. Dua-duanya tidak salah karena dua-duanya punya kepentingan yang mulia. Dewi Perssik punya kepentingan membawa orang sakit dan Petugas Trans Jakarta punya kepentingan untuk menjalankan aturan. 

Kalau mau cari siapa yang salah, maka yang salah adalah situasi dan kondisi. Apa harus disalahkan kenapa asisten dewi perssik harus sakit di saat jam macet? atau harus disalahkan kenapa orang harus bersamaan menggunakan jalan sehingga jalan menjadi macet. Tapi kan lucu, bagaimana caranya menyalahkan situasi dan kondisi? Tentu saja Dewi Perssik tidak inginkan hal ini, tapi situasi dan kondisi yang memaksa dia harus melakukan hal ini. Tentu saja Petugas Trans Jakarta tidak inginkan hal ini, tapi situasi dan kondisi yang memaksa dia harus menjalankan aturan.

Kalau sampai terjadi emosi antara dua pihak, itu wajar karena walaupun sama-sama punya kepentingan baik, tapi dua kepentingan itu saling bertentangan. Yang satu karena takut asistennya kenapa-kenapa, yang satunya takut takut kalau melanggar aturan. Ketemu dua kepentingan yang sama-sama penting, akhirnya kedua-duanya bentrok. Padahal sama-sama punya tujuan baik. 

Dari kasus ini, saya melihat mungkin ada ketidaktahuan Dewi Perssik secara detail dan itu wajar. Saya pun tau bahwa Busway bisa jadi tempat evakuasi, tapi saya sendiri baru tau setelah kejadian ini bahwa hanya 4 kendaraan yang boleh gunakan lajur tersebut selain tentu saja busway. Di pikiran saya sebelum ada kasus ini, kalau kita membawa orang sakit, kita bisa gunakan jalur busway agar bisa cepat sampai ke rumah sakit, ternyata tidak. 

Mungkin ketika melihat ada kecelakaan dijalanan dan orangnya harus segera di bawa, saya akan usulkan agar lewati Busway, karena cepat dan jalur Busway bisa untuk evakuasi. Kita masyarakat umum tentu tidak paham secara detail selain petugas jalur busway. 

Sama seperti saya bermasalah dengan salah satu provider internet, Saya di informasikan kalau ada masalah telpon ke nomor pengaduan dan segera akan diselesaikan permasalahannya. Ternyata ada aturan lain bahwa harus begini dan begitu. Saya bilang urusan saya apa dengan aturan kalian? Tapi mereka hanya bisa mengatakan, maaf pak kami hanya menjalankan tugas. Akhirnya "bentrok" saya dan petugas pengaduan. Saya harus dapat akses internet karena penting sedangkan mereka harus ikuti aturan, karena kalau melanggar aturan mereka disalahkan.

Hal ini sama yang terjadi dengan Dewi Perssik dan Petugas Trans Jakarta. Yang paham detail tentu saja petugas Trans Jakarta karena itu dunia kerjanya, Dewi Perssik hanya paham luarnya. Begitupun kalau petugas Trans Jakarta itu di suruh beli mic vokal, dia hanya tau colok mic dan bunyi, tapi dia tidak tau jenis-jenis mic vokal, Dewi Perssik paham karena itu dunianya. Jadi ini hanya soal siapa yang berada di posisi siapa. 

Kecuali kalau tidak ada alasan apa-apa, hanya karena artis lalu Dewi Perssik merasa berhak lewat Jalur Busway, tentu tidak boleh gunakan alasan evakuasi, karena tidak ada alasan yang tepat. Tidak bisa juga Dewi Perssik beralasan bahwa dia tidak tau kalau jalur Busway tidak boleh di lewati oleh mobil biasa, tentu itu mengada-ada karena namanya saja jalur Busway bukan jalur umum. 

Bagusnya dengan kejadian ini, Dewi Perssik dan Petugas Trans Jakarta berdamai saja, tinggal Pemerintah bisa memikirkan ulang aturan soal Busway ini ketika terjadi hal yang sama seperti kasus Dewi Perssik. Karena kasus Dewi Perssik ini adalah kasus yang sangat mendasar dan bukan tidak mungkin akan terjadi lagi dengan orang yang berbeda. Ini harus di pikirkan ulang oleh pemerintah agar supaya petugas Trans Jakarta pun, ketika terjadi kejadian seperti ini lagi, tidak merasa bersalah untuk mengizinkan, karena ini bicara menyelamatkan nyawa manusia.

Bagaimana kalau ada orang yang mau melahirkan sedangkan jalanan macet tidak bisa bergerak? Petugas Trans Jakarta bisa mempersilahkan untuk masuk jalur Busway setelah dia melihat benar ada yang butuh pertolongan dokter secepatnya. Jadi dengan adanya aturan itu, petugas punya legitimasi untuk memeriksa dan mengizinkan.

Ambil positifnya, dengan kejadian Dewi Perssik ini, Pemerintah akhirnya membuat aturan baru sehingga bisa membantu menyelamatkan banyak nyawa ke depan. Bukankah ini yang namanya hikmah dibalik sebuah kejadian? 

No comments:

Post a Comment