Breaking

Thursday, 7 December 2017

Tukang masak, Pencipta lagu dan Politisi


Ada dua orang tukang masak dari restoran yang berbeda di daerah yang berbeda. Mereka akan berlomba memasak sop yang paling enak. Mereka berdua adalah tukang masak yang terkenal di daerahnya masing-masing. Dalam lomba ini, semua bahan dan bahkan takaran bumbu sudah disiapkan oleh panitia. Jadi dua tukang masak ini tidak perlu lagi meracik bumbu dan menakar bumbu, semua racikan dan takaran sudah disiapkan. Mereka berdua tinggal menggunakannya. 

Tentu saja orang akan heran, yang namanya lomba masak, tentu saja yang ditentukan hanya jenis masakannya dan silahkan para tukang masak berkreasi memasak. Cara penyajian, bentuk, olahan, bumbu dan takarannya berbeda-beda. Cara yang berbeda-beda inilah yang bisa menentukan mana yang terbaik, tapi kalau semuanya sudah disiapkan, artinya tukang masak tinggal menuangkannya? lalu dimana letak perbedaannya? 

Letak perbedaannya adalah cara memasaknya! cara memasaknya itu akan membedakan rasa masakan walaupun semua bahan, bumbu dan takarannya sudah disiapkan sama. Besar kecil apinya, cara mengaduknya, cara memotong sayurnya, cara memotong dagingnya, bagaimana bumbunya bisa meresap dengan baik dan sebagainya. Outputnya akan berbeda! rasanya akan berbeda! 

Sama seperti pencipta dan pengaransement lagu. Kunci nada sudah disiapkan dan cuma itu-itu saja, tapi dari kunci nada yang cuma itu-itu saja sudah terlahir ratusan juta dan mungkin milliaran lagu di dunia ini. Kenapa tidak sama semua lagunya? karena kekuatan mengolah dan meracik nada menjadi sebuah lagu itulah yang menjadi pembedanya. Orang yang mengaransement lagu juga begitu, satu lagu yang sudah disiapkan, bisa menjadi berbagai macam genre musik dan bahkan dalam satu genre musik menghasilkan aransement yang berbeda-beda.

Begitupun di dunia politik, tidak ada bedanya dengan memasak dan mencipta lagu, karena politik itu adalah bagian dari seni. Bagaimana menciptakan dan mengatur langkah yang jitu adalah bagian dari kegiatan politik. 

Tapi walaupun begitu, ada bedanya antara orang Partai politik, Tukang masak dan Pencipta lagu. Kalau Pencipta lagu dan tukang masak, dia bisa berada di posisi puncak karena karyanya. Kalau orang Partai, tidak perlu punya karya bisa berada di posisi penting di Partai. Tapi itu bukan hal yang jelek, itu hal yang lumrah di Partai karena bisa jadi kemampuannya ada tapi tidak ada kesempatan sehingga ketika berada di posisi puncak dia bisa berperan baik, atau orang yang pengalaman di partai atau orang yang hebat dibidangnya ditarik masuk Partai dan mendapatkan posisi penting di partai, walaupun ada juga yang tidak mampu tapi bisa dapatkan posisi di Partai.

Ini tulisan saya tahun lalu tentang pengurus Partai politik. 
Menjadi pengurus Partai tidak harus pintar atau orang politik, Yang penting ada orang dalam
http://www.teddygusnaidi.com/2016/08/menjadi-pengurus-partai-tidak-harus.html

Tidak semua orang Partai politik adalah politisi, sama seperti pencipta lagu dan tukang masak, tidak semua pencipta lagu adalah Pencipta lagu handal dan tidak semua tukang masak adalah tukang masak handal. Ada orang Partai yang cuma pengurus saja, ada yang pencipta lagu yang hanya asal menciptakan saja dan ada tukang masak yang hanya bisa masak mie instan. 

Ketika tidak punya konsep dan strategi, ketika diberikan konsep dan strategi, apakah semua orang Partai politik bisa melaksanakannya dengan baik? tentu saja tidak! Karena Politisi itu harus punya kemampuan di atas rata-rata, punya feeling yang kuat dan tentu punya analisa yang kuat. Ini yang saya katakan bahwa semua orang bisa belajar bermain gitar dengan baik, tapi tidak semua orang bisa menciptakan lagu yang baik, dan tidak ada namanya sekolah menciptakan lagu yang baik! 

Di politik ada yang namanya sekolah politik. Sekolah politik adalah mempelajari politik bukan menciptakan politisi hebat, karena menciptakan sebuah karya itu tidak ada sekolahnya. Belajar menggambar ada pelajarannya, tapi belajar membuat gambar yang punya nilai seni tinggi itu tidak ada. Karena rasa dan kualitas sebuah ciptaan itu tidak semua orang bisa dapatkan. Itu sudah give dari yang Maha kuasa..

Sehebat apapun konsep dan strategi yang diberikan, jika dilaksanakan oleh orang yang tidak mampu dan tidak berbakat dalam politik, maka itu akan sia-sia. Di dalam menjalani proses politik di hidup saya, banyak hal yang sudah saya putuskan sebelum terjadi. Misalnya saya sudah tau bahwa kelompok saya akan kalah, sehingga saya tidak lagi fokus memikirkan bagaimana bisa menang tapi melakukan hal lain yang mungkin bisa menumbuhkan kepercayaan untuk persiapan kekalahan nanti.

Kenapa saya melakukan hal itu? karena saya tau bahwa kelompok saya waktu itu dipegang oleh orang-orang yang bukan pencipta lagu handal, bukan juru masak handal dan mereka tidak mampu menterjemahkan konsep dan strategi. Kelompok yang saya naungi waktu itu melaksanakan konsep dan strategi hasil dari pemikiran juru masak yang tidak handal. Jadi ketika terjemahan konsep dan strategi itu dilaksanakan dilapangan, semuanya habis terbabat. Hal yang sia-sia dan tentu saja saya tidak mau melakukan hal yang sia-sia itu, saya melakukan hal lain untuk mempersiapkan kekalahan, sehingga ketika kalah, mental kelompok yang saya naungi tidak jatuh. Cuma itu yang bisa saya lakukan dan berhasil menumbuhkan mental kelompok ketika terbukti kalah..

Jadi konsep sebagus apapun, ketika di terjemahkan oleh orang yang bukan politisi handal, maka kerusakan yang akan terjadi. Gitar sebagus apapun, ketika digunakan oleh orang yang tidak handal menciptakan lagu maka akan menghasilkan lagu yang jelek. Daging dan sayur semahal dan berkualitas tinggi pun, ketika di masak oleh tukang masak yang tidak handal, maka ketika di sajikan, orang akan membuangnya ke tempat sampah. 

Tidak semua orang mampu melakukan hal itu.. 

No comments:

Post a Comment