Breaking

Thursday, 11 January 2018

Jika saya pemilik Facebook, ini tanggapan saya ketika mendengar ada ormas yang mau demo Facebook.


Gue yang punya Facebook dan gue yang buat aturan di Facebook. Mau aturannya seperti apapun itu hak gue, mau gue buat aturan bahwa yang boleh daftar di Facebook hanya khusus perempuan saja, itu hak gue. Bahkan pemerintah Indonesia pun ngak berhak ngatur gue, Kalau Pemerintah gak suka aturan Facebook yang gue buat, itu bukan urusan gue, Kalau mau blokir silahkan, tapi jangan intervensi gue. 

Pemerintah Indonesia blokir Facebook di Indonesia, itu hak pemerintah Indonesia, gue gak berhak marah, kalau gue marah maka Pemerintah Indonesia bisa balikin omongan gue, Pemerintah Indonesia bilang, Negara-negara gue, apa urusannya sama elu? mau gue blokir mau gue usir kantor Facebook di Indonesia, itu hak gue, kenapa elu melarang? 

Ketika ada ormas menyerukan untuk boikot Facebook, gue gak anggap dan gak mikirin walaupun gue berhak untuk pidanakan mereka, tapi setelah gue pikir-pikir, mana ada yang mau dengerin mereka? karena Facebook buatan gue sudah menjadi kebutuhan masyarakat Indonesia. Saya yakin 100% bahwa anggota ormas itu 99,9% tidak akan boikot Facebook, jadi ngapain gue urusin mereka? 

Gue yang tokoh Internasional harus berhadapan dengan ormas lokal? enak banget mereka jadi terkenal, ogah.. itu sama saja bikin mereka populer. Lagian gue yakin 100% para tokoh yang teriak boikot Facebook, gak bakalan mau kalau dia menghapus akun Facebooknya. Yakin 1000% gue! 

Ternyata keyakinan gue terbukti, ketika sistem yang gue buat ternyata memblokir akun mereka yang teriak-teriak boikot Facebook, eh mereka marah-marah dan gak terima. Mereka bilang mereka dizolimi. Gue ngakak heboh dong.. Mereka yang dari awal yang menzolimi Facebook karena teriak-teriak dan menyebarkan untuk boikot Facebook, eh sekarang teriak-teriak terzolimi. hahaha!

Harusnya mereka intropeksi diri, kalau sampai akun mereka di blokir, pasti ada yang gak beres sama mereka. Simpel aja, gue itu sibuk dan gak mengurusi hal-hal yang sangat-sangat kecil begini. Pengguna Facebook itu hampir 2 Miliar orang, jadi kenapa gue harus mengurusi pihak yang masuk kategori sebagai pihak yang ada atau tidak ada tidak punya pengaruh apapun bagi gue? 

Tokoh-tokoh Internasional dan lembaga-lembaga berpengaruh di dunia gunakan Facebook buatan gue, gue ngak peduli, apalagi tokoh dan lembaga yang gak terkenal kayak mereka. Sakit jiwa kalau ada yang bilang gue terpengaruh.. 

Kalau pun yang blokir akun mereka bukan karena sistem tapi karena gue gak suka ormas model kayak mereka pakai Facebook gue, emangnya kenapa? suka-suka gue dong, mau gue blokir, mau gue hapus atau gue jadiin sate juga, itu hak gue. Karena gue yang punya Facebook dan gue berhak untuk berlaku apa saja. 

Inikan bukan perjanjian dua belah pihak. Lu mau gabung ke Facebook atau gak, gak ada paksaan. Ibarat lu tamu di rumah gue, mau gue suruh lu duduk di dapur atau suruh lu bersihin kamar mandi, suka-suka gue. Kalau lu gak mau ya keluar dari rumah gue. 

Kecuali kalau lu kerja sama gue, gue gak bisa seenaknya pecat elu. Karena kita terikat aturan, tapi kalau lu tamu, kalau lu gak mau gue suruh bersihin kamar mandi, ya sudah keluar dari rumah gue. Atau kalau gue gak suka ada lu di rumah gue, elu gak boleh marah. Rumah-rumah gue dan gue gak mau lu ada dirumah gue, Kenapa elu yang sewot?

Kalau lu sewot dan ngatur gue artinya gue berhak juga ngatur elu. Gue minta ormas lu jadi ormas yang mengurusi soal cacing tanah aja, gak boleh ormas lu bicara soal agama lagi. Kalau lu gak mau, gue akan ngotot dan gue akan bayar orang untuk demo di tempat elu. Duit gue banyak, jadi sampe 10 tahun pun gue bayarin orang demo tempat elu gak bakal bikin gue miskin, karena duit gue banyak. 

Jadi kalau lu gak mau diganggu, maka jangan ganggu gue, apalagi lu gak terkenal dan duit gue banyak. Pasti lebih banyak yang mau demo untuk gue.. 

Gue aja berkali-kali salah sebut, Gue pikir FBI. Kalau FBI yang komplain, gue masih anggap walaupun ogah-ogahan, lah ini F... apa namanya? gue lupa lagi. Mau dia jungkir balik sambil minum pipis onta pun gak gue anggap ada. Yang terkenal saja gue gak peduli apalagi yang gak terkenal? 

Bagi gue keberadaan mereka sama seperti ketiadaan mereka. 

1 comment:

  1. kembali kepada keyakinan kita untuk menjaga attitude

    ReplyDelete