Breaking

Tuesday, 15 May 2018

Teroris itu ada dan tampak di sekitar kita. Tapi karena berkedok label agama, maka ada saja yang melindungi mereka


Teroris itu bukan seperti preman yang bisa kita ajak berantem, teroris itu bukan maling yang bisa dikejar, tapi teroris itu bukan juga orang yang tidak terlihat, Teroris itu sangat terlihat dan sangat transparan, bahkan lebih terlihat dan transparan daripada maling dan preman.

Kalau begitu, kenapa preman dan maling bisa ditangkap tapi teroris bisa sampai ada yang kecolongan? Jawabannya adalah, preman dan maling pun ada yang kecolongan ada yang tidak kecolongan, begitu pun dengan terorisme. Jadi tidak bisa dibedakan kalau soal kecolongan, tapi soal transparan, lebih transparan teroris.

Kenapa bisa begitu?

Karena ada sekelompok masyarakat kita yang masih menganggap kaum teroris yang berpakaian agamis adalah para pemuka agama. Menangkap mereka sama saja mau melibas pemuka agama, mau melibas agama atau menghina agama. 

Baju, penampilan dan hafal ayat sudah dianggap orang paling tinggi imannya sehingga kalau mereka disentuh maka yang menyentuh dianggap menghina agama, melibas pemuka agama dan mau libas agama. Pemikiran itu sengaja ditanamkan para teroris ke masyarakat untuk melindungi mereka.

Kelompok teroris itu berkedok agama karena mereka tahu akan ada pembelaan. Coba kalau mereka berkedok bukan gunakan label agama, maka mereka tidak akan berkembang dan tidak akan dilindungi oleh masyarakat. Kalau dulu Partai Komunis Indonesia (PKI) memakai pakaian agamis dan hafal ayat, maka mereka pasti akan dibela. 

Kelompok radikal yang kelakuannya barbar ada di depan mata kita semua. Tampak dengan jelas dan bersosialisasi di sekitar kita. Kita tahu mereka kaum teroris, kaum radikal, kita tahu mereka sinting, tapi kita tidak bisa mengeksekusi mereka, karena selain mereka berpenampilan layaknya pemuka agama, kita juga tidak boleh bertindak seperti penegak hukum. 

Lalu apakah penegak hukum boleh mengeksekusi mereka? tentu saja boleh! Tapi ternyata tidak mudah.. 

Selain ada beberapa masyarakat bodoh yang membela mereka, ternyata UU Terorisme tidak memberikan kewenangan kepada aparat untuk menindak tegas mereka. Hal ini karena pasal-pasal tegas untuk menindak teroris dan para kaum radikal hingga detik ini tersandera di DPR. Pasal-pasal itu tersandera sehingga teroris dan kelompok radikal bebas melakukan kejahatan di negara ini

Jokowi harus perjuangkan revisi UU Terorisme dengan pasal-pasal yang bisa bumi hanguskan teroris dan kaum radikal. Kalau masih dikebiri, maka Presiden keluarkan Perppu saja agar bisa langsung dieksekusi oleh aparat penegak hukum untuk membumi hanguskan teroris dan kaum radikal sampai ke akar-akarnya. 

Hanya itu satu-satunya jalan untuk menyelamatkan bangsa ini, dan persetan dengan HAM yang disuarakan baik oleh Komnas HAM dan LSM HAM. 

No comments:

Post a Comment