Breaking

Wednesday, 20 June 2018

Antara saya, SBY dan Tim Hore


Saya kadang bingung, kalau saya kritik SBY atau AHY yang suka menyampaikan hal ngawur dalam mengkritik pemerintah, maka tim hore muncul dan ngamuk-ngamuk lalu bilang saya gak penting. Tapi anehnya, saya dibilang gak penting, tapi mereka urusin saya terus. Sakit kan? hehehe..

Ini statement saya yang membuat mereka marah. 

"Bandingkan dengan Prabowo, Teddy Gusnaidi Sebut SBY Mempermalukan Dirinya Sendiri" https://t.co/MWwnCfJjc4

"Usai Kritik Cuitan SBY, Teddy Gusnaidi: Gue Nyampein Analisis Berdasarkan Data dan Fakta" https://t.co/2YhQ7TKy7j

Begini..., saya kritik SBY yang mengkritik Jokowi, bukan seperti SBY mengkritik Jokowi. Saya kritik SBY berdasarkan data dan fakta. Faktanya jelas, Jokowi memperbaiki kerusakan di zaman SBY dan pencapaiannya lebih dari zaman SBY. 

Kalau SBY, faktanya SBY selalu mengatakan mendengar katanya-katanya, dan SBY tidak pernah berani menyatakan secara langsung misalnya si A ngak netral dan ini buktinya. Itu fakta yang tidak bisa dipungkiri oleh siapapun, bahkan termasuk SBY sendiri. 

Salah satunya berita ini, berani melemparkan statement, tapi gak bisa tunjuk orang, sehingga membuat gaduh. Ini khasnya SBY.

SBY: TNI, Polri, BIN Harus Bersikap Netral dan Tak Memihak di Pilkada

Jadi bedanya saya dan SBY dalam konteks ini, SBY ungkapkan sesuatu berdasarkan katanya-katanya, kalau saya berdasarkan data dan fakta. Dan faktanya lagi, Tim hore tidak ada yang membantah, yang ada cuma marah-marah gak terima. sakit kan? 

Selain ngamuk, dan memaki-maki, mereka juga membela SBY dengan cara membandingkan antara saya yang tidak pernah jadi Presiden sedangkan SBY pernah jadi Presiden. Atau SBY ketua umum Partai dan saya bukan. Sakit kan? sudah diluar konteks.. 

Kasihan SBY, ketika dia "dipermalukan", tidak ada yang membelanya tapi malah makin mempermalukan dirinya. Mereka secara berjamaah berlomba teriak paling kencang, tapi tidak ada yang bisa mematahkan statement saya ke SBY. Kasihan SBY..

Buat saya, Jokowi boleh dikritik, karena Jokowi bukan manusia sempurna. Tapi kalau yang kritik ngawur dan mengada-ada, tentu saya punya kewajiban untuk meluruskan dan kritik si pengkritik yang ngawur itu. Siapapun dia, bodo amat. 

Emang gue pikirin.. hehehee.. 

No comments:

Post a Comment