Breaking

Wednesday, 13 June 2018

Apakah tingkat kecerdasan politisi Partai Politik selalu sejalan dengan hasil Pemilu?


Apakah banyaknya politisi yang berkualitas di sebuah Partai itu mempengaruhi suara yang akan di dapat oleh Partai dalam Pemilu 2019? Tanya seorang kawan saat ngopi di suatu tempat. 

Saya jawab, tentu mempengaruhi tapi tidak dominan. Karena yang mempengaruhi suara sebuah partai itu adalah para caleg. Pemilih memilih Caleg yang mereka sukai. 

Dia tanya lagi, apakah Partai besar yang ada sekarang ini cenderung perolehan suaranya akan menurun? 

Saya jawab begini.. Partai politik yang telah melewati proses dan lulus menjadi Partai peserta Pemilu 2019, posisinya setara. Tidak ada yang namanya Partai besar dan partai kecil lagi, semuanya sama, sama-sama Partai politik peserta Pemilu 2019. Semuanya diuji nanti di TPS. Partai politik itu bisa dinyatakan sebagai Partai besar atau partai kecil setelah mereka mendapatkan sejumlah kursi legislatif di Pemilu 2019.

Lalu saya menjelaskan lebih lanjut terkait dua pertanyaannya itu. Saya katakan tidak ada yang namanya Partai politik hebat atau tidak hebat, karena Partai politik bukanlah orang tapi organisasi. Yang ada itu adalah politisi hebat dan tidak hebat atau caleg hebat dan tidak hebat di dalam Partai politik. Inilah yang akan menentukan perolehan suara Partai politik nantinya.

Partai politik yang sudah menempatkan anggota DPR di senayan pada Pemilu 2014, tentu kesempatannya untuk bisa mendudukkan lagi anggota DPR di Pemilu 2019 sangat terbuka lebar. Karena Anggota DPR 2014 sudah punya konstituen tetap dan terus dirawat karena tugas-tugas mereka sebagai anggota DPR. Ada reses, ada dana reses, ada dana aspirasi, ada pertemuan-pertemuan di luar reses dan sebagainya. Belum lagi mereka punya tingkat keterkenalan lebih di media daripada caleg yang baru, karena statement mereka sebagai anggota dewan dibutuhkan oleh media.

Tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi Partai baru dan Partai yang belum menempatkan anggota mereka di senayan. Harus caleg-caleg yang mumpuni dan spesial sehingga bisa merebut kursi anggota legislatif petahana. 

Tentu saja tidak mudah, karena untuk menjadi caleg, orang lebih memilih menjadi caleg di Partai politik yang sudah terbukti menempatkan anggota mereka di senayan daripada partai baru atau partai yang tahun 2014 tidak ada anggotanya di Senayan. 

Ada pola tersendiri untuk bisa merebut kursi dari petahana di DPR RI oleh Partai baru atau Partai yang belum punya anggota dewan di senayan. Selain harus meyakinkan bahwa Partai ini pasti lolos threshold kepada para bakal caleg, juga harus punya cara yang masuk akal untuk bisa merebut kursi petahana. Dan hal itu tidak mungkin bisa dilakukan oleh orang-orang yang hanya karena dianggap punya intelektual di Partai atau Politisi hebat di Partai. Karena ini ada seni tersendiri dan tidak semua orang bisa jadi seniman politik

Makanya jangan heran kalau ada Partai yang pengurusnya ternyata politisi kelas kambing tapi Partainya bisa lolos threshold. Itu karena selain mereka sudah punya anggota DPR Petahana, mereka punya seniman politik. Walaupun mereka tidak punya politisi hebat, tapi mereka punya seniman politik dan juga karena mereka memang sudah punya anggota DPR Petahana. Dan jangan heran kalau ada Partai politik yang memiliki politisi kelas wahid tapi partainya tidak lolos threshold. Karena ini memang berbeda.. 

Misalnya di Tahun 2014, Yusril Ihza Mahendra adalah politisi kelas wahid. Siapa yang meragukan kehebatannya? Dari Presiden hingga buruh miskin minta bantuannya. Tapi itu bukan jaminan bisa menempatkan anggotanya ke senayan. Mudah-mudahan Pemilu ini PBB bisa menempatkan anggotanya ke senayan. Begitu pun dengan Sutiyoso. Siapa yang meragukan kehebatan mantan Gubernur DKI tersebut? Beliau adalah politisi kelas wahid. tapi itu bukan jaminan bisa menempatkan anggotanya ke senayan. Mudah-mudahan Pemilu ini, PKPI bisa menempatkan anggotanya ke senayan melalui ketua umumnya yang baru, Diaz Hendropriyono. 

Jadi kemampuan politik seseorang, itu tidak bisa diukur dengan hasil suara Pemilu Partai politiknya. Karena itu dua hal yang sangat berbeda, karena pelakunya juga berbeda. Yang satu kemampuan individu sang politisi, sedangkan yang pemilu itu kemampuan secara berjamaah dari 575 caleg. 

Tentu tidak bisa karena ketidakmampuan 575 caleg, itu kemudian menjadi ukuran rendahnya kemampuan sang politisi. Begitu pun sebaliknya, kemampuan dari 575 caleg bukan berarti menjadi ukuran tingginya kemampuan sang politisi di sebuah partai. 

Saya sendiri secara pribadi banyak berdiskusi dan saling memberikan masukan dengan kawan-kawan politisi dari Partai yang ada di senayan, dan itu hal yang biasa. Karena tidak ada urusan soal hasil pemilu partai dengan kemampuan personal dari politisi Partai. 

Kawan saya manggut-manggut, tanda dia paham dengan penjelasan saya.

No comments:

Post a Comment