Breaking

Wednesday, 27 June 2018

Kekalahan Deddy Mizwar karena blunder SBY lagi. Setelah DKI, kini Jawa Barat


Yang mengejutkan dari pilkada Jabar adalah suara Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi, mereka itu bisa ada diurutan ketiga, tentu sangat aneh. Karena sebagai petahana paling tidak diurutan kedua. 

Pertarungan sengit di Jawa barat hanya milik Ridwan kamil dan Deddy Mizwar. yang dua lagi hanya "penggembira". Tapi analisa saya, kejadian Pilkada DKI terjadi lagi, warga tidak ingin memilih Deddy mizwar karena faktor SBY. SBY kembali melakukan blunder. 

Pilkada DKI menempatkan Anies Baswedan urutan paling buncit dan yang maju ke tahap selanjutnya adalah Ahok dan AHY. Di penghujung pilkada, SBY membuat "masalah" sehingga suara buat AHY terbagi ke Ahok dan Anies. 

Dengan sikap SBY yang dianggap berlebihan, Masyarakat tidak ingin SBY bahagia, mereka tidak ingin SBY jumawa, sehingga mereka menggeser pilihan ke yang lain. Faktornya bukan karena mereka tidak suka terhadap Deddy Mizwar, tapi mereka tidak suka dengan SBY. 

SBY jadi bahan bullyan secara massal, ketika Komjen M. Iriawan terus-terusan diserang SBY. Komjen Iriawan orang yang sangat dekat dengan masyarakat Jawa barat, beliau orang Jawa barat dan pernah jadi Kapolda jawa barat. Tentu sikap SBY sangat tidak disukai masyarakat.

Siapa yang tahu Sudrajat dan Akhmad syaikhu? gak banyak yang tahu. Mereka dapatkan urutan kedua bukan karena PKS atau Gerindra hebat, tapi karena suara buangan dari Deddy Mizwar. Suara pindah karena blundernya SBY. 

Kenapa analisa yang saya buat kemarin Ridwan kamil yang menang? ya karena blunder yang dibuat SBY. Sebelum SBY melakukan blunder, saya kesulitan menganalisa siapa yang unggul, karena Ridwan kamil dan Deddy Mizwar sama-sama kuat. Tapi ketika SBY blunder, saya langung katakan Ridwan kamil menang.

Tapi saya cukup kaget ketika Deddy mizwar diurutan ketiga, ini diluar dari ekspektasi saya. Terjadi perpindahan suara besar-besaran. Terjadi eksodus suara. Suara Deddy Mizwar berpindah ke 3 calon lainnya pasca blunder yang dilakukan SBY. Masyarakat bersikap.

Tentu akan berbeda jika SBY tidak melakukan blunder. Bisa saja Deddy Mizwar yang menang, karena persaingan Ridwan dan Deddy sangat ketat. Analisa saya kemarin bisa saja salah. Tapi bisa jadi tepat karena faktor SBY. Ridwan kamil harus berterima kasih ke SBY.

Sekali lagi, siapapun yang menang saya tidak punya kepentingan, karena saya pribadi tidak mendukung siapapun di Pilkada. Ini riil analisa secara objektif dan tidak mengatasnamakan Partai. Kebetulan saja analisa saya di Jabar betul. Di tempat lain analisa saya melesat. 

No comments:

Post a Comment