Breaking

Tuesday, 24 July 2018

Masalah ojek online sebenarnya bukan soal tarif, tapi..


Harus diakui bersama, ojek online bisa sebesar sekarang ini dan mengalahkan ojek pangkalan, bukan karena penumpang dijemput di rumah tapi karena harganya jauh lebih murah daripada ojek pangkalan. Bisa lebih murah 3-4 kali lipat. Kalau harganya sama saja, tidak akan sebesar ini. 

Masalah utama sebenarnya kalau mau di lihat bukan masalah standar tarif perkilometer seperti yang dipermasalahkan teman-teman ojek online yang akan demo pada saat pembukaan Asian Games, tapi masalah kuota pengemudi online tidak lagi seimbang dengan jumlah penumpang. 

Dulu tarif perkilometer lebih murah dari yang sekarang, tidak ada masalah, pendapatan pengemudi ojek online sangat menggiurkan. Jadi kalau masalahnya di tarif, seharusnya sudah dari awal mereka mengeluh. Ini bukan soal tarif, tapi kuota pengemudi yang tidak lagi seimbang dengan jumlah penumpang.

Selanjutnya, status pengemudi ojek online dengan perusahaan ojek online itu apa? Apakah PEKERJA Atau MITRA KERJA? Kalau dilihat dari model kerja, pengemudi ojek online adalah mitra kerja. Mereka tidak di gaji tapi mendapatkan uang menggunakan aplikasi Perusahaan ojek online. 

Tidak ada bipartit yang bisa diwakilkan melalui serikat pekerja seperti halnya para pekerja yang di gaji perusahaan berdasarkan UU Ketenagakerjaan. Kalau Pengemudi ojek online, itu mitra kerja yang di hitung pribadi-pribadi, tidak bisa atas nama organisasi. Karena ini Mitra kerja bukan Pekerja. 

Jadi Pengemudi ojek online harus memposisikan dari sekarang diri mereka sebagai mitra kerja dengan perusahaan ojek online, bukan sebagai Pekerja dari perusahaan ojek online. Lalu baca ulang hak dan kewajiban saat mereka memutuskan untuk menjadi mitra kerja. Itu yang dituntut..

Analoginya begini, Pengemudi ojek online ibarat warung dan Perusahaan ojek online diibaratkan Supplier roti yang harga jual rotinya sudah di cetak di bungkus roti. Harga jualnya Rp. 5000,-, harga buat warung itu Rp.4500,-., jadi kalau laku, warung mendapatkan untung Rp.500,-/bungkus. 

Warung minta kepada supplier agar harga dasar ke mereka jangan Rp.4500,- tapi Rp. 4300,- agar mereka bisa untung Rp. 700,-/bungkus roti. Supplier menolak karena secara hitungan bisnis tidak bisa. Tapi warung tetap ngotot agar harga dasar bisa berubah. 

Supplier bilang, dulu harga dasarnya Rp. 4700,-/bungkus roti, warung tidak komplain dan terus memesan, padahal keuntungannya cuma Rp. 300,-, Kenapa sekarang ngotot walau untung per roti semakin besar? 

Alasan warung karena semakin banyak penjual roti di sekitarnya sehingga pembelinya terbagi, tidak seperti dulu. Supplier bilang, kalau begitu seharusnya harga jual roti di turunkan agar orang mau membeli lagi roti di warung tersebut. Warung tidak setuju harga dikurangi, tapi tetap minta harga dasar menjadi Rp.4300,- atau harga jual roti dinaikkan. Supplier menolak kalau harga jual dinaikkan, karena harga yang sekarang saja sudah ada penurunan pembeli, apalagi dinaikkan. 

Warung masih tetap ngotot, Supplier tetap tidak setuju, lalu supplier bilang terserah warung, kalau masih mau jual rotinya atau tidak, yang pasti harga dasar dan harga jual tetap segitu. Tergantung si warung, mau diteruskan atau tidak. Yang dilakukan warung bukan malah tetap ngotot dan melaporkan supplier ke kementerian tenaga kerja. Karena hubungan mereka bukan antar pekerja dengan pemberi kerja, tapi Mitra kerja. 

Ini yang harus dipahami oleh pengemudi ojek online. Saya tidak sedang membela perusahaan ojek online, tapi menyampaikan fakta bahwa yang kalian tuntut itu sulit dilaksanakan karena posisi kalian itu bukan Pekerja tapi Mitra kerja. Dan kalaupun jadi harga naik, maka kerugian akan ada di kalian juga, semakin berkurang penumpang ojek online karena harga ojek online sudah mahal. 

Menurut saya solusinya adalah pembatasan jumlah driver online. Karena disitulah akar masalah sebenarnya, bukan soal tarif. Dulu harga lebih murah dari sekarang, pendapatannya besar karena jumlah ojek online normal, kalau sekarang, tarifnya lebih mahal dari yang dulu, pendapatannya berkurang karena jumlah ojek online sudah melebihi batas normal. 

Orang rela menunggu ojek online walaupun di depan dia ada ojek pangkalan, bukan karena pelayanannya, tapi karena harganya lebih murah dibandingkan ojek pangkalan. Kalau sama, tentu orang akan naik ojek pangkalan di depan mata dia daripada harus menunggu ojek online. 

Perusahaan ojek online sebaiknya mulai hentikan penerimaan pengemudi ojek online, biarkan terseleksi secara alam jumlah pengemudi menjadi normal. Dan para pengemudi ojek online coba baca ulang perjanjian kemitraannya dengan perusahaan ojek online, jangan sampai yang kalian lakukan malah membuat kalian diputus kemitraannya karena melanggar perjanjian. 

No comments:

Post a Comment