Breaking

Tuesday, 7 August 2018

Gerakan ganti Presiden, layu sebelum Pencapresan


Inisiator Gerakan ganti Presiden memang gak paham apa-apa soal strategi, mereka tidak tahu bahwa isu di Indonesia itu tidak akan bertahan lama. Masyarakat Indonesia jenuh dengan isu yang itu-itu saja dalam waktu yang cukup lama. Harusnya gerakan ini di mulai 3 bulan sebelum pemilihan.

Kini untuk membangkitkan isu itu lagi, mereka lakukan berbagai drama, tapi itu tidak berhasil. Mau tidak mau, karena tidak paham strategi, analisis saya, mereka akan comot cara lama dalam politik praktis, yaitu membuat konflik.

Mereka akan membuat efek konflik dengan harapan agar gerakan ini booming lagi di media. Mereka butuh penolakan dan benturan agar supaya isu ini naik lagi. Mereka hanya tinggal seonggok yang butuh efek itu dengan harapan dapat menggerakkan orang-orang yang tidak suka Jokowi.

Orang-orang yang tidak suka Jokowi sudah tidak bersemangat untuk ikut gerakan ini, melihat fakta di lapangan bahwa capres yang akan hadapi Jokowi tidak sebanding dengan jualan ganti presiden. Apalagi ulama-ulama (bukan ulama su’) begitu dekat dengan Jokowi.

Para cukong yang biasanya menggelontorkan dana untuk menjatuhkan citra Jokowi, kini pun sudah tidak mau bergerak, mereka sudah berhitung juga. Tidak mau mereka gunakan dana untuk hal yang menurut mereka sia-sia. Jadi citra positif Jokowi makin meroket..

Jadi biarkan saja gerakan ini, paling yang akan mendompleng gerakan ini tinggal HTI dan pihak-pihak pendukung ideologi khilafah. HTI butuh media, makanya paling mereka yang akan ikut serta dalam gerakan ganti Presiden ini, selebihnya gak ada lagi. 

Orang sekarang sudah sibuk dengan pencalegan. Namanya caleg, maka setiap orang harus berkompetisi. Baik dengan rekan di satu Partai maupun diluar partai. Mereka butuh dana untuk itu dan tidak mungkin mereka keluarkan dana dan waktu untuk hal-hal yg tidak bermanfaat langsung bagi mereka.

Setiap caleg butuh tim sukses yang akan bekerja untuk pemenangan. Para caleg walaupun satu ideologi, mereka tidak akan mungkin bekerjasama, karena sesama mereka adalah lawan. Mereka akan bekerja masing-masing dengan cara mereka masing-masing.

Gerakan ini mati sebelum mereka punya capres. Walaupun nanti tetap ada, ini hanya masalah harga diri saja, agar terlihat bahwa mereka masih konsisten dan tidak mati. Mari kita lihat bagaimana drama pendukung khilafah kolaborasi dengan gerakan ganti Presiden.

1 comment: