Breaking

Monday, 6 August 2018

Jokowi, berantem dan gebuk!


Apakah hina jika kita berani menghadapi, ketika ada pihak yang mengajak ribut? tidak kan? Kenapa di framing bahwa yang berani menghadapi adalah perbuatan hina dan yang mengajak ribut bukan perbuatan hina?

Di agama saya diajarkan jika ada musuh yang mengganggu, maka pantang kita lari. Tapi tentu saja tidak sembarangan, jika musuh itu punya daya rusak, tentu harus berani kita hadapi. Di agama saya juga diajarkan untuk sabar dan mawas diri. Gak asal juga.. 

Jokowi katakan, kalau diajak berantem tidak boleh takut. Salahnya dimana? Jika ada yang bilang karena dia Presiden, tidak pantas. Saya jawab, karena dia Presiden, makanya jangan juga diartikan seperti orang berantem fisik di jalanan. Bodoh kalau ada yang mengartikan begitu.

Sama ketika Fahri Hamzah mengatakan, “Berantem dulu di putaran pertama”, terkait permasalahan Pilpres. Bukan berarti para capres di suruh berantem FISIK, tapi saling berantem VISI untuk memperebutkan kursi Presiden. 

Begitupun ketika Jokowi mengatakan GEBUK jika masih ada PKI dan para pihak yang menggerakan anti Pancasila. Bukan berarti kalau ada kaum anti pancasila lalu masyarakat di suruh untuk gebuk, tapi menolak dan laporkan, sehingga aparat keamanan turun untuk menindak kaum tersebut..

Lalu siapa yang dimaksud Jokowi pihak yang harus berani dilawan? 

Jokowi jelas mengatakan dalam pidatonya, jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah, tidak usah mencela, tidak usah suka menjelekkan orang. Semua sikap itu ada di pihak kaum anti Pancasila, yaitu kaum radikal. 

Kaum radikal anti pancasila adalah kaum yang selama ini di depan mata kita menyebarkan permusuhan, menyebarkan kebencian, mencela dan menjelekkan orang lain agar bangsa ini terus bermasalah. Mereka inilah yang harus berani kita lawan, merekalah yang mengajak kita untuk ribut.

Jadi jika ada yang marah atas pernyataan Jokowi yang ingin melibas kaum perusak bangsa, artinya mereka adalah kaum radikal atau kaum pendukung radikalisme. Karena mereka memang tidak pernah ingin pemerintah tegas dan tidak gentar hadapi mereka. 

Bangsa ini cinta damai, tapi ketika musuh menyerang ingin merubah ideologi bangsa ini, artinya mereka mengajak perang, maka harus berani dihadapi. Jangan hanya berpangku tangan dan biarkan mereka merajalela merusak bangsa ini.

Kalau gunakan logika kaum radikal dan pendukung kaum radikal, berarti jika ada negara lain mengajak ribut, datang dan menjajah negara ini, maka yang salah adalah rakyat Indonesia yang berani melawan penjajah, bukan penjajah itu. Sakit jiwa kan? 

Tentunya seruan Jokowi bukan berarti harus berantem secara fisik. Tapi berani bersikap dan tidak acuh terhadap berbagai kebencian yang disebarkan oleh kaum radikal dan di manfaatkan para oknum politikus, untuk kepentingan politik praktis.

Saya juga ajarkan anak-anak saya untuk tidak mencari masalah, tapi jika masalah datang jangan lari. Itu kan ajaran semua laki-laki di seluruh dunia. Kenapa ajaran laki-laki jadi masalah di negeri ini? Jangan-jangan yang tidak setuju, kelaki-lakiannya perlu dipertanyakan.

Jadi jika masih ada yang mempermasalahkan, cuma ada dua pihak. Kalau bukan kaum radikal, ya oknum politikus bodoh yang terindikasi pendukung kaum radikal, memelintir hal ini untuk kepentingan politik Praktis. Itu aja sih.. 

No comments:

Post a Comment