Breaking

Thursday, 2 August 2018

PKS sengaja ngotot, agar terusir dari Koalisi Prabowo


Ketika analisis awal, saya katakan bahwa PKS akan keluar dari barisan Prabowo agar bisa jadikan Jokowi Capres tunggal, dianggap ngak mungkin. Sekarang terbukti, PKS membuka opsi untuk tidak mendukung Prabowo, dan pastinya akan 'mendukung' Jokowi walaupun tidak berkoalisi. Ujungnya jelas.. PKS ingin dapatkan posisi Menteri..

Setelah terbongkar strategi awal mereka, PKS langsung merubah strategi. Mereka mau berkoalisi dengan Gerindra tapi Capresnya bukan Prabowo. Analisis saya waktu itu, PKS sudah berhitung, kalau Prabowo jadi Capres, maka mereka pasti akan berpuasa lagi. Hitungan PKS Prabowo kalah..

Tujuan PKS tetap sama, gagalkan koalisi. Mereka tahu bahwa keinginan mereka pasti akan di tentang Gerindra. Tujuan mereka bukan ingin ganti Capres, tapi berharap ada penolakan dari Gerindra. Nanti di ujung mereka tidak sepakat dan ada alasan di menit terakhir tinggalkan Gerindra hingga Jokowi jadi Capres tunggal.

Strategi PKS kembali gagal ketika Partai Demokrat terusir dari barisan Jokowi dan bergabung dengan Gerindra. PKS tetap dengan strategi ngotot ganti capres, sudah gak mungkin. Maka PKS kembali merombak strategi. Mereka yang tadinya ngotot Capres jangan Prabowo, kini setuju Capres Prabowo, tapi ngotot Cawapres harus dari mereka.

PKS tahu, ketika mereka ngotot, maka akan ada penolakan dari Gerindra, PAN dan Demokrat. Penolakan itu yang memang mereka inginkan, bukan karena ingin Cawapres dari mereka. PKS berharap tidak ada kesepakatan sehingga mereka ada alasan untuk tidak berkoalisi dengan Gerindra.

PKS juga tidak akan berkoalisi secara resmi dengan Jokowi, tapi mereka akan ada di barisan Jokowi. Mereka akan melemahkan Prabowo dan tentu 'kampanyekan' Jokowi dengan cara mereka. Akhirnya mereka punya jasa ke Jokowi..

Tujuan PKS cuma satu, Jokowi menang dan mereka mendapatkan bagian kue kekuasaan. Mereka sangat sangat tidak yakin dengan Prabowo dan juga capres lain yang akan melawan Jokowi. 

Kalau PKS yakin dengan Prabowo, maka sudah dari tahun lalu mereka berkoalisi dengan Prabowo. Sudah setahun lebih, PKS selalu menggantungkan masalah dan tidak selesai-selesai. Padahal waktu itu hanya Gerindra dan PKS, belum ada Demokrat dan PAN. Tentu sangat mudah cawapresnya dari PKS. Iya kan?

Lihat Koalisi Jokowi.., karena yakin dengan Jokowi, maka dari awal sudah sepakat dengan Jokowi. Kalau tidak yakin, pasti koalisi Jokowi akan sama dengan Koalisi Prabowo, berantakan, ribet dan gak jelas.

Hati mereka ingin ke Jokowi, tapi terpaksa harus ada di koalisi Prabowo.

Sekarang kita pantau, apakah analisis saya akan membuat PKS mencari strategi baru lagi? kita lihat..

Yang pasti keanehan sikap PKS ini terjadi karena mereka sangat ingin mendapatkan kekuasaan. Sayangnya mereka sangat tidak yakin akan menang melawan Jokowi. 

1 comment:

  1. Kalau ingin tetap eksis, baiknya PKS, PAN dan PKB bersatu membentuk poros baru dengan Capres Gatot Nurmantyo dengan Cawapres Zulhas atau Cak Imin, bisa dipastikan semua koalisi akan bergetar...

    ReplyDelete