Breaking

Friday, 8 December 2017

Pemuka agama gadungan jadi kaya raya, kalian jadinya di penjara!


Waktu masih aktif di federasi buruh, saya bilang ke anggota, kalian itu buruh! kami juga buruh! bedanya adalah kalau kalian melawan perusahaan, kalian di pecat, kalau kami melawan perusahaan kalian, kami tetap di bayar. Kami di bayar untuk memberikan saran. Saran kami itu mau benar atau tidak, tidak ada pengaruh buat kantong kami. Karena kami masih di bayar. Kalau kalian??

Saya masih ingat sekali ketika mereka mendengarkan saran dari oknum federasi untuk melawan pengusaha tanpa melihat kondisi mereka sendiri, tanpa mengukur kekuatan mereka. Saya dengan keras bilang, kami lebih tau dari kalian kondisi perburuhan walaupun kalian yang ada dilapangan. Kami melihat banyak kondisi, sedangkan kalian hanya tau kondisi dan permasalahan di internal kalian sendiri. Saya katakan begini karena kami banyak melihat kegagalan dari buruh di perusahaan lain. Apa yang kalian dapatkan!? kebanggaan? Makan tuh bangga! Keluarga kalian butuh makan bukan butuh kebanggaan! Jangan terprovokasi dengan bahasa penyemangat! 

Ingat.. semakin kalian bermasalah maka semakin bagus untuk kami, karena kami bisa dapatkan lebih banyak dana dari funder. Dengan alasan banyak masalah perburuhan sehingga harus adakan banyak kegiatan motivasi, harus ada kegiatan advokasi dan sejenisnya. Kami akan nyaman tapi kalian? Kalian dapat apa? Sebulan doang kalian bisa bernafas dan bangga, bulan selanjutnya? Jangankan untuk ongkos berjuang, untuk makan keluarga saja kalian kelabakan! bagaimana mau berjuang kalau di rumah bermasalah? 

Sekarang ini, banyak sekali masyarakat awam terkena doktrin ideologi di luar pancasila tapi dibungkus dengan label agama dan yang menyampaikan berpakaian dan berperilaku layaknya pemuka agama. Mereka mengajarkan agama lalu perlahan-lahan memasukkan unsur kebencian. Masyarakat awam merasa bahwa itulah perintah agama karena disampaikan oleh orang yang berpakaian seperti pemuka agama, padahal itu bukan perintah agama. Karena dianggap perintah agama maka masyarakat awam itu menganggap memperjuangkan kebencian adalah bagian dari ibadah dan membela agama. Ini penyakit nyata di kita sekarang ini..

Saya menganalogikan soal perilaku ini dengan permasalahan perburuhan agar supaya mudah dipahami. Masyarakat awam itu ibarat buruh dan orang yang berkedok pemuka agama itu adalah saya. Jadi semakin banyak buruh yang bermasalah, maka semakin banyak pundi-pundi yang saya dapatkan. Kalau tidak banyak yang bermasalah, maka saya hanya makan gaji bulanan saja. Tidak ada ruginya bagi saya. Tapi bagi oknum Pimpinan buruh, tentu ingin mendapatkan uang lebih, maka semakin banyak masalah, semakin tidak tuntas masalah perburuhan, maka semakin banyak pundi-pundi yang masuk ke kantong, maka harus dibuat masalah! masalah adalah uang!

Lihat apa kerja mereka para pemuka agama gadungan itu? mereka tidak bekerja tapi bisa punya uang banyak? tentu saja selain dana kalian yang diambil, mereka juga dibayar untuk melakukan kerja doktrin itu. Logika paling mudah dan paling masuk akal adalah itu, bagaimana mereka bisa hidup mewah dan bisa melanglang buana ke berbagai negara sedangkan kerjaan mereka hanya menyebarkan ideologi sesat dan menyebarkan kebencian dengan berkedok agama? 

Dari situ saja sudah bisa kalian nilai. Mereka tidak ada pekerjaan selain menjalankan kedok itu. Dari mana mereka hidupi keluarga? kalau cuma jual obat timur tengah misalnya, itu cuma kamuflase. Tentu mereka dibayar untuk melakukan itu dan tentu saja tidak murah. Anehkan? tidak kerja tapi hidup mewah?

Masyarakat awam itu sama seperti buruh yang di doktrin sesat oleh oknum pimpinan buruh. Demo, teriak perjuangan, tapi tidak ada yang mereka dapatkan sama sekali, rugi malah iya. Oknum pimpinan buruh kobarkan semangat perjuangan melawan pengusaha. Buruh terprovokasi, lalu kehilangan pekerjaan. Kalau sudah begitu dengan mudah oknum pimpinan buruh bilang, ini bagian dari perjuangan. Sama seperti Masyarakat awam, pemuka agama gadungan itu kobarkan semangat perlawanan, lalu masyarakat turun kelapangan, berkeringat membela ajaran sesat, saling pukul, lalu ditangkap. Coba lihat apa jawaban mereka ketika masyarakat di tangkap? Mereka malah memanfaatkan untuk menambah pundi-pundi uang dengan menuding pemerintah benci agama dan anti agama. Yang ditangkap merasa pejuang karena sudah di doktrin ini bagian dari perjuangan membela agama. Tapi coba lihat para pemuka agama gadungan itu, mereka asik duduk di singgasana dan hidup mewah.

Ingat, mereka berjuang bukan untuk agama, tapi untuk kepentingan mencari nafkah, mereka dibayar untuk merusak negara ini oleh elite dunia, sedangkan kalian berjuang sampai kehilangan harta dan kebebasan hanya untuk menambah pundi-pundi mereka, bukan untuk agama. Itu pasti!  

No comments:

Post a Comment