Breaking

Wednesday, 29 August 2018

Kelompok Prabowo terindikasi kuat ingin menciptakan benturan di masyarakat. Ini berbahaya, bisa berujung Makar.


Saya melihat begitu banyak kekonyolan dari kubu prabowo-sandiaga. Baik Prabowo-sandiaga sendiri maupun pendukung mereka. Itu bukan hal baru. Mereka hanyalah bunyi tanpa irama. Tidak ada satupun yang bisa dijadikan panutan dari mereka. 

Setelah saya luruskan informasi Mardani sera yang berbahaya sehingga orang bisa melawan hukum dan bisa terjadi keributan di lapangan soal kebebasan berpendapat, kini saya harus meluruskan kekonyolan Eggi sudjana dan Prof. Haryati tentang Jokowi harus mundur karena jadi Capres. 

Dalam video ini, Eggi sudjana mengatakan berdasarkan UUD 45 pasal 27, maka Jokowi yang jadi capres harus mundur. Eggi lalu menuding PKPU mengecualikan untuk Jokowi boleh tidak mundur sedangkan Sandiaga uno harus mundur. Menurut Eggi, harusnya Presiden mundur, tunduk dan patuh pada UUD 45. 

Ini videonya.. 



Eggi mungkin berhalusinasi, yang dia baca buku Kho ping hoo bukan UUD 45. Selain pasal 27 itu gak ada hubungan dengan mundur seperti yang eggi ucapkan, ternyata pasal 7 UUD 45 juga ikut membantah ucapan Eggi. Pasal 7 UUD 45 Menyatakan bahwa Presiden dan wakil Presiden memegang jabatan SELAMA 5 TAHUN dan sesudahnya DAPAT DIPILIH kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan.

Jokowi diamanatkan UUD 45 untuk memegang jabatan selama 5 tahun dan boleh dipilih kembali. Kalau ikuti bacaan Kho ping hoo Eggi sudjana, artinya Eggi menentang amanat UUD 45, karena jabatan presiden harus kurang dari 5 tahun. Apalagi di UUD 45 sendiri tidak mengatur Presiden harus berhenti. Konyol kan?

Lalu benarkah PKPU mengatur Presiden tidak mundur saat jadi Capres dan Kepala daerah harus mundur saat jadi Capres? Saya rasa Eggi sudjana bukan baca PKPU tapi baca komik kera sakti. Karena di PKPU tidak mengatur seperti yang dituding Eggi. (Ini orang salah minum ya?)

Di PKPU 22 Tahun 2018 Pasal 9 ayat 3 menyatakan bahwa pejabat negara yang ingin maju dalam pencapresan wajib mengundurkan diri, TERKECUALI Presiden/wakil Presiden, Gubernur/wakil Gubernur dan ada beberapa pejabat lainnya. Jadi Jokowi dan sandiaga tidak harus berhenti atau mundur ketika ikut nyapres.

Sandiaga kenapa mundur kalau di PKPU menyatakan tidak mundur? Soal mundur, itu keinginan pribadi sandiaga bukan perintah PKPU seperti tudingan dari Eggi Sudjana. Eggi mungkin kurang piknik, jadinya ngelantur kemana-mana. 

Belum lagi di UU 7 Tahun 2017 tentang Pemilu tepatnya di pasal 170, bahwa pejabat negara yang ingin maju dalam pencapresan harus mundur, TERKECUALI Presiden/wakil Presiden, Gubernur/wakil Gubernur dan ada beberapa jabatan lainnya. Sama seperti PKPU yang dituding Eggi. 

Bagaimana dengan Prof. Haryati? Seperti yang terlihat di video, tidak kalah konyolnya dengan Eggi, tidak ada satupun kalimat ilmiah yang keluar dari mulutnya selain hanya ngomel kayak petasan, lalu mengklaim bahwa saat ini kita tidak punya Presiden, karena Jokowi jadi Capres dan demokrasi harus hidup di negara ini. 

Demokrasi harus hidup, tapi anehnya minta Presiden harus mundur dengan alasan jadi Capres. Demokrasi mana yang hidup jika negara tanpa presiden? agak aneh, dia Profesor, gak tahu arti demokrasi tapi bicara demokrasi. Tambah lagi tudingan soal korupsi. Jadinya malah makin konyol begini..

Demokrasi itu pemerintahan rakyat yang diwakilkan. Nah kalau gak ada Presiden berarti gak ada Pemerintahan rakyat. Jadi saya heran, kok ada Profesor yang bicara tanpa ilmu tapi kayak emak-emak ngamuk karena kakinya kejepit pintu angkot. 

Dan konyolnya lagi, yang disekeliling mereka gak tahu apa-apa tapi teriak takbir. Ini jadi kayak penonton bayaran yang disuruh teriak dan tepuk tangan untuk acara di tv. Salah benar yang penting teriak dan tepuk tangan. Mereka adalah Relawan Nasional Prabowo-sandiaga. 

Penjelasan ini saya paparkan karena ini berbahaya dan masuk dalam unsur provokasi yang bisa menjebak pendukung Prabowo bertindak bodoh, karena menganggap Jokowi tidak sah sebagai Presiden. Dan ini sebuah framing yang cukup berbahaya, bisa mengarah ke makar dan berpotensi besar melanggar hukum. 

Saran saya kepada Eggi sudjana yang katanya orang hukum dan ibu Haryati yang katanya Profesor, untuk lebih banyak membaca daripada membacot. Ingat.. benci boleh, bodoh jangan.

3 comments:

  1. Tapi sayang rasa benci mereka bikin mereka jadi bodoh.

    ReplyDelete
  2. Arogansi yg tak terkontrol,
    Perlu di kasihani,😉

    ReplyDelete
  3. Orang2 yg ngakunya jenius tp blo'on .. ketawa ngeliatnya....hahaha

    ReplyDelete