Breaking

Saturday, 18 August 2018

Pertarungan antara Capres anti asing (Jokowi) dengan Capres Pro asing (Prabowo)


Hashim adik Prabowo yang juga Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Gerindra pernah mengatakan bahwa Amerika akan mendapatkan perlakuan khusus di dalam Pemerintahan Negara ini jika negara ini dipimpin Gerindra. Alasannya karena Prabowo sangat Pro Amerika..

Pemerintahan Jokowi adalah pemerintahan yang berhasil mengembalikan harkat dan martabat bangsa ini menjadi bangsa yang disegani bangsa-bangsa lain termasuk Amerika. Rekam jejak sikap tegas Jokowi untuk tidak tunduk pada Amerika, bukan isapan jempol. Kita semua sudah melihatnya

Yang fenomenal itu ketika Jokowi berhasil merebut lapangan minyak raksasa Blok Rokan dan pertambangan raksasa Freeport dari Amerika. Tentu tidak mudah merebut Blok Rokan dan freeport, tapi untuk hal ini jokowi tegas. Segala upaya chevron dan Freeport membujuk, sama sekali tidak digubris.

Rekam jejak Prabowo, dia tidak punya nyali seperti Jokowi. Salah satunya ketika dia "kabur" ke Yordania dan tidak pulang-pulang. Takut hadapi masalah. Karakter itu gak bisa dirubah. Jokowi itu bukan pengecut, masalah apapun dia hadapi tanpa rasa takut.

Jokowi itu berani hadapi masalah dan tidak takut menghadapi para raksasa. Dia berani mengeluarkan tindakan yang tidak populer walau berimbas pada elektabilitasnya. Salah satunya ketika dia melihat Partai politik terlarang Hizbut Tahrir dibiarkan di Indonesia.

Ketika para politisi lain sibuk merebut simpati Hizbut Tahrir untuk dapatkan suara, Jokowi malah bumihanguskan Hizbut Tahrir di Indonesia. Dia tidak mau merangkul Kelompok yang sudah jelas-jelas anti pancasila. Orang mau ngomong apa, dia tidak peduli. Ini untuk bangsa..

Sebaliknya Prabowo melalui Gerindra bersama-sama PAN dan PKS mendukung Partai politik anti Pancasila, Hizbut Tahrir. Jokowi tidak mau memanfaatkan Hizbut Tahrir untuk keuntungan dirinya. Berbeda dengan Prabowo cs, mereka malah membela kelompok anti NKRI.

Jadi kalau Prabowo bicara soal keberanian dan nasionalisme, dia sedang mengigau, karena rekam jejaknya tidak seperti apa yang dia ucapkan. Kalau Jokowi jelas punya nyali dan nasionalismenya terbukti. Ucapan dan nyali Jokowi selaras dengan tindakannya. Tidak seperti Prabowo..

Belum lagi ketika Jokowi marah terhadap negara china soal Natuna dan Jokowi meledakkan berbagai kapal china yang mau mencuri kekayaan bangsa. Jokowi mau bekerjasama dengan negara manapun, asal sama-sama menguntungkan. Tapi jika kurang ajar, beliau tegas dan punya sikap.

Tegas dan berani itu tidak perlu berbaju ksatria dan bicara meledak-ledak sambil ngotot. Jokowi orangnya kalem, bicara tidak ngotot tapi punya nyali. Berbanding terbalik dengan Prabowo, banyak bicara, ngotot, tapi tidak punya keberanian.

Kalau soal nasionalisme, tentu Jokowi dan Prabowo ibarat langit dan bumi. Jokowi terbukti nasionalis, sedangkan Prabowo terbukti tidak nasionalis. Prabowo mengakui bahwa kiblatnya ke negara asing dan Indonesia mau di westernisasi oleh Prabowo. Itu fakta yang tidak bisa dipungkiri.

Jelas ya.. Kalau Prabowo menjadi Presiden, maka Amerika akan terlibat dalam pemerintahan Prabowo. Hizbut Tahrir kelompok anti pancasila akan kembali hidup di negara ini dan apa yang sudah diperjuangkan Jokowi menjadi sia-sia. Bangsa ini terjajah kembali..

Lalu bagaimana dengan Sandiaga? Sudahlah.. dia cuma ATM yang dipakein baju Cawapres. Kasusnya banyak dan rekam jejak kegagalannya dalam pemerintahan di DKI bertumpuk. 

Yang pasti, Pilpres ini pertarungan antara Capres anti asing (Jokowi) dan Capres pro asing (Prabowo)

1 comment: