Breaking

Thursday, 23 August 2018

Sandiaga butuh berapa banyak emak-emak untuk branding menjadi idola emak-emak? Ada harganya loh..


Saya gak paham ketika sandiaga mulai membangun branding didukung emak-emak. Karena emak-emak itu tidak bisa mewakili sebuah komunitas atau sebuah generasi. Emak-emak itu adalah gender dan gender itu bukanlah komunitas atau generasi. Jadi sangat bias untuk dijadikan alat ukur.

Saya yakin tim pemenangan koalisi maupun internal Partai pendukung Prabowo sama gak pahamnya seperti saya, bahkan saya yakin mereka menertawakan ide sandiaga tersebut. Tentu tidak dihadapan Sandiaga. Karena yang punya uang sandiaga dan dia berhak mau buat program seaneh apapun, seperti di DKI.

Seorang calon kepala daerah ketika turun untuk kampanye di sebuah daerah pada pagi, siang atau sore hari, maka mayoritas yang calon kepala daerah itu temui adalah emak-emak. Baik emak-emak muda, dewasa, setengah tua hingga lanjut usia. Aneh jika calon itu berkoar-koar menyatakan dia didukung emak-emak. 

Karena siapapun calon yang datang, pasti bertemu dengan emak-emak, Pasti berinteraksi dengan emak-emak. Apalagi jika calon yang datang itu sering mereka lihat di TV, tentu makin heboh. Siapapun calon yang datang dan terkenal, sambutannya sama.

Jadi ketika sandiaga turun ke lapangan lalu ketemu emak-emak, itu hal yang sangat biasa. Aneh kalau cuma modal foto dengan emak-emak lalu sandiaga klaim dia didukung emak-emak. Bahkan di tempat yang sama sandiaga datangi, jika didatangi Jokowi, emak-emak yang datang bisa puluhan kali lipat lebih banyak daripada saat kedatangan sandiaga. Tapi Jokowi tidak pernah mengklaim 

Apalagi di dalam kampanye, bukan barang baru akal-akalan tim kampanye mempersiapkan orang-orang untuk menyambut atau meramaikan kedatangan calon. Analisis saya, jika dilihat dari foto-foto sandiaga dalam membangun image aneh ini, sepertinya pola ini dilakukan sandiaga.

Ada emak-emak tapi berseragam, atau ketika calon datang sudah ada panggung dan sound system, atau calon datang sudah ada spanduk dan sejenisnya. Yang model begini jelas bukan respon otomatis masyarakat, tapi dibentuk. Jadi misalnya Sandiaga mau branding seolah-olah dia didukung emak-emak, maka dikumpulkan emak-emak lalu emak-emak itu menyambut sandiaga dan di foto untuk keperluan branding. Cara tersebut bukan hal baru lagi, itu cara klasik..

Dan tentu cara tersebut tidak gratis. Ada biayanya dan ada yang mengorganize. Mau berapa banyak yang datang tentu harganya juga mengikuti sesuai dengan berapa banyak yang dibutuhkan. Mau pakai baju biasa atau mau dikasih seragam, terserah sang calon. 

Analisis saya, Sandiaga gunakan jasa tim hore untuk membranding ide anehnya itu. Buktinya dari berbagai survey, Prabowo-Sandiaga prosentasenya sangat kecil dibandingkan Jokowi-Ma’ruf. 

Jadi kalau sandiaga tidak gunakan jasa tim hore, paling emak-emak anggota Partai dalam sebuah acara dikumpulkan, foto bareng sandiaga lalu di branding seolah-olah didukung emak-emak. Begitupun dengan branding di masyarakat. Dibuat acara, ada keramaian, emak-emak datang mau lihat ada keramaian, lalu sandiaga datang, foto-foto dan dibranding seolah-olah dia didukung emak-emak. 

Euforia itu tidak bisa dibentuk, dan Sandiaga itu coba untuk membentuk. Ariel Noah itu fans emak-emaknya banyak, karena mereka menikmati lagu-lagu noah yang dinyanyikan Ariel. Ada alasan mereka menyukai Ariel. Kalau Sandiaga, tidak ada alasan sama sekali. Dia gagal dalam memimpin Jakarta. 

Ahok itu tegas dan apa adanya. Dia banyak disukai emak-emak karena emak-emak itu merasakan langsung perubahan positif dengan kebijakan Ahok. Jadi ada alasan. Sandiaga itu kebijakannya gagal dan merusak. Jadi tidak ada alasan emak-emak untuk mengidolakannya. 

Entahlah ide aneh ini usul sandiaga sendiri atau timnya, tapi buat saya, secara akal sehat manusia, tidak mungkin emak-emak mendadak idolakan sandiaga. Tidak ada sesuatu hal yang dibanggakan, tidak ada historis jadi idola emak-emak, tidak ada gebrakan yang menarik perhatian banyak orang, lalu bisa jadi idola. 

Jadi silahkan sandiaga keluarkan dana lebih besar untuk dapatkan label idola emak-emak. Semakin besar dananya, tentu semakin banyak pemeran emak-emak yang mau berakting mengidolakan sandiaga. 

No comments:

Post a Comment