Breaking

Tuesday, 28 August 2018

Tujuan Hizbut Tahrir: Chaos, Pemilu gagal dan terjadi kekosongan kekuasaan.


Pengakuan sandiaga uno bahwa kelompok gerakan ganti Presiden itu memang tidak menginginkan Prabowo jadi Capres, menjadi jawaban kenapa gerakan ini sempat mati ketika calon dari PKS tidak terakomodir menjadi Capres dan kenapa gerakan ini tidak pernah mau mengkampanyekan Prabowo sebagai Capres mereka hingga detik ini.

Gerakan ini hidup kembali bersama dengan pentolan Hizbut Tahrir, mereka menyuarakan ganti sistem. Gerakan ini dari awal jelas anti Prabowo, makanya ketika mereka muncul kembali, tentu menjadi tanda tanya, apa tujuan mereka kembali? ternyata ada Hizbut Tahrir di sana.. dan ini fakta yang sudah dilihat banyak orang di dalam video.

Jadi jelas ya.. Gerakan ganti Presiden adalah gerakan yang anti Prabowo, maka tidak akan mungkin mereka hidup lagi hanya untuk memperjuangkan Prabowo. Padahal Capres cuma ada dua, hanya ada Jokowi dan Prabowo. Untuk apa mereka lakukan gerakan ini kalau mereka anti Prabowo?

Rekam jejak PKS tidak inginkan Prabowo menjadi Capres sudah tersebar dimana-mana. Mereka inginkan Gatot Nurmantyo atau Anies Baswedan. Tarik ulur berbulan-bulan soal penentuan capres terjadi. Makanya tidak heran kalau gerakan ini memang dari awal tidak untuk prabowo, bahkan sampai detik ini..

Jadi sangat masuk akal ketika masyarakat dari berbagai daerah bergerak menolak gerakan ini, karena gerakan ini bukan gerakan untuk Pemilu Presiden, tapi gerakan untuk mengganti sistem. Gerakan mengganti sistem tidak akan pernah bisa tanpa kudeta, dan Hizbut Tahrir sangat berpengalaman dalam melakukan kudeta..

Gerakan ganti sistem bukan fitnah, tapi itu diucapkan langsung dan disebarluaskan pentolan Hizbut Tahrir di Indonesia bersama pengurus PKS. Setelah itu anggota Hizbut Tahrir terlibat dan banyak ditemukan spanduk-spanduk Hizbut Tahrir dalam kegiatan gerakan ini. Ini fakta bukan fitnah..

Turki, Irak, suriah, Arab, Yordania Pakistan dan Mesir adalah negara-negara yang disusupi Hizbut Tahrir untuk melakukan kudeta. Maka tidak heran kalau banyak negara bersepakat melarang hizbut Tahrir hidup di negara mereka. Hizbut Tahrir adalah kelompok teroris. Kini mereka menyusup ke gerakan ini.

Narasi yang dibangun pendukung Hizbut Tahrir dan orang-orang bodoh pendukung gerakan ini adalah, rezim ini panik, mereka menuding Jokowi takut kalah. Tentu ngak nyambung, karena kalau soal Pilpres, suara Jokowi di atas 55% dan Prabowo cuma 29%. Apalagi Jokowi adalah Incumbent, apa yang panik? aneh..

Mosok mentang-mentang Jokowi bakal menang, lalu ada kelompok teroris di depan mata yang sudah secara terang-terangan menggunakan gerakan ini untuk mengganti sistem, dibiarkan? Kelompok yang berpengalaman melakukan kudeta di berbagai negara, lalu mau dibiarkan bergerak? Tentu saja harus dibasmi..

Sekali lagi ya, ini point pentingnya. Pertama, Gerakan ganti Presiden adalah gerakan yang tidak mendukung Prabowo. Itu Fakta dan diamini oleh Sandiaga uno. Kedua, Gerakan ini adalah gerakan Hizbut Tahrir. Gerakan ini terang-terangan mengatakan akan mengganti sistem. Itu Fakta dan ada buktinya..

Jadi kalau ada yang mengatakan ini fitnah, maka dapat dipastikan mereka adalah anggota atau simpatisan Hizbut Tahrir. Mereka adalah orang-orang yang ingin mengganti Pancasila dengan sistem radikal. Ini tidak dapat dibantah lagi..

Semua sudah sepakat bahwa Pancasila dan NKRI sudah final. Jadi ketika ada yang terang-terangan ingin mengganti, sudah pasti itu kelompok anti Pancasila. Cara mengganti Pancasila di Indonesia cuma dengan kudeta. Dan Hizbut Tahrir berpengalaman melakukan kudeta di berbagai negara.

Gerakan yang ditolak kemarin, bukanlah gerakan ganti presiden yang sempat mati beberapa bulan lalu. Gerakan yang ditolak kemarin adalah gerakan hizbut Tahrir untuk mengganti Pancasila. Mereka tahu dilarang, mereka sebarkan informasi sesat ke pendukung dibawah soal kebebasan menyuarakan pendapat, agar chaos hingga terjadi kerusuhan di berbagai daerah. Ini pola Hizbut Tahrir..

Ketika terjadi kerusuhan dimana-mana, maka Pemilu terancam gagal dan gerakan kudeta yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir di berbagai negara bisa mereka lakukan di negara ini. Ingat, ketika Pemilu gagal, jabatan Presiden sudah lewat, maka terjadi kekosongan kekuasaan. Tidak ada UU yang mengatur perpanjangan jabatan Presiden, tidak ada lembaga yang diberikan kewenangan untuk menunjuk pejabat Presiden. Terjadi kekosongan kekuasaan dan kekosongan aturan, sehingga terjadi perebutan kekuasaan dan Pancasila bukan lagi menjadi Ideologi negara. Itu tujuan Hizbut Tahrir.. 

Kalau ada yang bilang ini berlebihan, tentu mereka salah. Kenapa? Karena gerakan untuk ganti sistem itu bukan omong kosong, itu disuarakan sendiri oleh pentolan Hizbut Tahrir. Fakta selanjutnya, mereka sengaja melawan larangan sehingga terjadi keributan. Untung aparat berhasil mengatasinya sehingga tidak terjadi benturan berkepanjangan. Dan di tahun 1998, banyak yang bilang gak mungkin akan terjadi kerusuhan di Indonesia, terlalu berlebihan. Faktanya kerusuhan terjadi dan semua kaget, karena tidak siap. 

Sekarang sudah jelas-jelas di depan mata kelompok Hizbut Tahrir gunakan topeng agama melakukan kekacauan, kalian bilang gak mungkin? Ingat! Gerakan ganti Presiden tidak pernah mendukung Prabowo, Ini murni gerakan Hizbut Tahrir, gerakan untuk mengganti sistem. 

3 comments:

  1. Kasian Bung Teddy. Tulisan ini ngaco. Mungkin memang ada beberapa pendukung dari HTI. Tapi ngaco banget jika dikatakan bahwa ini gerakan HTI. Padahal setahu saya, sejak lama, HTI hanya main di area opini. Mungkin ada beberapa spanduk berlogo HTI tapi itu tak signifikan jika dibandingkan dengan total atribut yang ada. Menghubungkan tagar ini dengan kudeta adalah ngaco. Untuk kudeta, diperlukan dukungan militer yang gak dimiliki HTI. Dan dari tagarnya jelas ada termaktub angka 2019 which is tahun pemilu. Dan HTI sejati gak bakal pake 2019 di tagarnya. Ayolah, kalo memang Anda yakin dengan hal itu, lengkapi tulisan ini dengan bukti, atau mungkin ada laporan dari BIN? (Saya pernah baca sebuah berita bahwa BIN mohon maaf telah salah info ttg deklarasi di Surabaya). Jadi menurut saya HTI memang ingin menegakkan khilafah. Aktifis HTI masih ada di indonesia (setidaknya mantan aktifisnya) Namun mengidentikkan tagar #2019 GantiPresiden! dengan HTI adalah keserampangan. Dan menghubungkan gerakan ini dengan kudeta adalah keserampangan yang lebih parah lagi. Meningan Anda kupas, kenapa di kampus papua ada ospek yang menyanyikan "kami bukan merah putih tapi kami bintang kejora"? Mengapa anda dan banyak orang sepertinya mendadak bisu? Terimakasih. Salam damai selalu....

    ReplyDelete
  2. Menurut saya tidak ada salahnya kalau Bung Teddy membuat tulisan ini. Ini bentuk kewaspadaan kita yang masih mencintai NKRI. Apalagi di tengah isu Agama yang massive seperti sekarang, sangat mudah untuk disusupi oleh ide, oknum dan golongan tertentu yang ingin merusak bangsa ini.

    ReplyDelete
  3. Analisanya abal-abal bung Tedy ini... Kurang baca kayaknya...

    ReplyDelete