Breaking

Sunday, 2 September 2018

Bagaimana cara mudah untuk melihat panah fitnah yang ditujukan ke Jokowi tentang ekonomi dan kemiskinan?


Para elit politik framing atas nama rakyat bahwa ekonomi Indonesia anjlok, rakyat jatuh miskin. Apakah benar? sebenarnya mudah melihat apakah benar rakyat jatuh miskin atau tidak di zaman Jokowi. Lihat saja diri kita dan sekeliling kita, tanpa harus melihat data BPS.

Benarkah sekarang ini banyak rakyat Indonesia jatuh miskin? apa ukurannya? Jika 5-10 tahun lalu kalian tidak mampu membeli telor dan sekarang masih tidak mampu membeli telor, itu masalah ekonomi negara yang lemah di zaman jokowi atau memang ekonomi kalian yang lemah?

Mari kita lihat, apakah Prabowo jatuh miskin? Ternyata tidak, dia masih bisa makan enak dan bisa pergi kemanapun dia mau. Lalu yang dimaksud rakyat itu siapa? Apakah rakyat yang dulunya bisa makan sekarang tidak bisa makan? ternyata masih bisa makan dengan layak. 

Kalau begitu rakyat yang mana yang dimaksud Prabowo? Kalau bicara sulit, maka semua orang sesuai dengan standar hidupnya, pasti akan ada kesulitan. Kecuali kemampuannya baru bisa beli motor, tapi dia teriak sulit karena tidak mampu beli kuda seperti Prabowo. Itu memaksakan diri namanya. 

Lihat di sekeliling tempat tinggal kita, seberapa banyak yang sebelumnya punya banyak uang lalu jatuh miskin karena ekonomi negara? tidak ada kan? kalau pun ada, karena dia melakukan kesalahan memilih jenis bisnis, kesalahan kerja atau kalah main judi. Itu gak ada hubungannya dengan ekonomi negara.

Lihat dalam lingkup pergaulan kita yang lebih luas, berapa banyak kawan-kawan kita yang jatuh miskin berdasarkan tudingan kelompok Prabowo bahwa rakyat jatuh miskin karena ekonomi bangsa lemah? tidak ada kan? Yang jatuh miskin mungkin karena kalah main judi, kesalahan kerja atau salah berbisnis.

Jatuh miskin dengan pendapatan berkurang itu beda. Dari zaman Soekarno hingga SBY, apakah hidup ini stabil terus? tidak kan? ada naik turunnya. Namanya hidup memang seperti itu. Karena setiap orang punya peran masing-masing untuk berusaha atas hidupnya. Pasang surut, itu biasa

Makanya tahun lalu saya berikan pemahaman terkait tudingan para politikus ngawur ke Jokowi soal ekonomi, saya bilang, apakah sebelum Jokowi menjadi Presiden, Negara ini dipimpin oleh para Dewa? Ini tulisannya..

Tahun lalu juga saya menjelaskan hal yang sama. Saya katakan, Kenapa harga cabe di zaman Soekarno murah, tapi di zaman SBY Mahal? ini tulisannya..

Dari dulu kita sering mendengar pedagang bilang, “wah lagi sepi nih, zaman sekarang ekonomi susah”. Sudah bertahun-tahun kita dengar pedagang bicara begitu, tapi sampai sekarang mereka masih berdagang dan masih hidup dengan layak. 

Lihat lagi sekeliling kita dan ruang jaringan pergaulan kita, seberapa banyak yang tadinya belum punya kendaraan, sekarang sudah punya kendaraan misalnya? Banyak kan? lebih banyak perubahan positif daripada negatifnya. Tapi apakah mereka masih kesulitan? ya masih saja..

Standar hidup mereka menjadi naik. Yang tadinya bergaji UMR sekarang bergaji diatas 5 juta, tetap akan merasakan kesulitan. Karena itu tadi, kebiasaan sudah berubah dan ingin dapat pencapaian lebih. Itu manusiawi dan tidak ada urusan dengan ekonomi negara. 

Kawan saya yang dulu naik motor butut, sekarang sudah mampu membeli mobil dan punya rumah lagi, tetap saja bicaranya soal ekonomi lagi sulit. Dulu waktu masih naik motor butut dia bicara soal ekonomi sulit, sekarang sudah tidak naik motor butut dia masih bicara ekonomi sulit. Itu manusiawi..

Tapi bukan karena ucapan dia dan banyak orang seperti dia lalu dijadikan ukuran bahwa rakyat jatuh miskin. Jatuh miskin kok masih bisa hidup layak? Masih bisa isi bensin dan jalan kesana kemari? Yang teriak rakyat jatuh miskin itu berhalusinasi, karena gak ada rakyat yang jatuh miskin karena ekonomi negara. 

Zaman krisis moneter yang dimulai tahun 1997, saat itu harga rokok masih seharga 1000-1500 rupiah dan naik terus hingga diatas 10 ribu rupiah. Tapi sesulit-sulitnya, ternyata harga rokok yang naik hingga 10x lipat masih terbeli oleh masyarakat. Sangat minim yang memutuskan berhenti merokok karena harga rokok melonjak.

Rokok saja yang tidak bisa jadi daging karena tidak bisa dimakan, masih mampu terbeli. Apalagi bagi perokok, rata-rata setia dengan merek tertentu. Jadi kalau harga rokok X naik, dia tetap akan membelinya, bukan mencari rokok yang harganya lebih murah dari rokok X. Ini soal rasa..

Apalagi di zaman Jokowi, perubahan besar sudah terjadi. Semua kerusakan yang diwariskan, satu persatu dibenahi, baik infrastruktur, sistem maupun ekonomi rakyat. makanya Indonesia itu menjadi negara ketiga terbaik pertumbuhan ekonominya setelah cina dan India. 

Jika cuma Prabowo yang kesulitan karena tidak mampu membayar karyawan misalnya, itu bukanlah salah negara, itu salahnya sendiri, tidak mampu mengurus bisnis. Apakah ini akan dipakai alasan oleh Prabowo untuk tidak membayar karyawannya? tentu tidak bisa begitu..

Para pemain yang dulu bisa mendapatkan proyek lewat jalur belakang, di zaman Jokowi tidak bisa lagi. Apakah itu yang dinamakan kesulitan ekonomi? tidak kan? lalu yang mereka tuding ke Pemerintah Jokowi soal rakyat jatuh miskin itu apa dan siapa? 

Prabowo mungkin kebanyakan nonton film india dan film horor. Karena dia sendirian dan tidak punya kegiatan lain, maka dia hidup dalam khayalan dan ketakutan yang dia ciptakan sendiri. Dan konyolnya, khayalan dan ketakutannya dia ucapkan dan diamini oleh para pengikutnya. Ini jelas tidak sehat..

Jadi mengukur kebenaran dari halusinasi para elit politik, itu mudah. Lihatlah diri kita dan sekeliling kita, maka kita akan melihat bagaimana fitnah dan kebohongan yang secara masif mereka panahkan ke Jokowi. Simple kan? 

No comments:

Post a Comment