Breaking

Monday, 17 September 2018

Bisnis baru.. Menerima pesanan Ijtima Ulama


Kemarin Ijtima minta Prabowo angkat ulama sebagai cawapres, prabowo ogah. Karena Prabowo ogah artinya Prabowo tidak mau dengar ijtima ulama, malah Jokowi yang jadikan ulama cawapres. Apalagi kata mereka hasil Ijtima itu adalah keinginan Allah. 

Buat saya ini dagelan sekelompok orang yang gunakan nama Allah dan Ijtima untuk kepentingan politik. Maka, kalaupun Prabowo pilih sandal jepit jadi cawapresnya, pasti akan diaminkan oleh Ijtima-ijtimaan ini. Buktinya muncul Ijtima II yang hasilnya bertentangan dengan Ijtima pertama.

Hasil Ijtima awal katanya keinginan Allah, tapi sayangnya keinginan Allah gak mau diikuti oleh Prabowo. Makanya direvisi jadi keinginan Prabowo. Dagelan kan? Mosok keinginan Allah direvisi? Jadi mereka lebih percaya Prabowo daripada Allah? begitukah? 

Apalagi dari awal mereka ngotot bahkan memberikan nama yang mereka anggap ulama untuk jadi cawapres Prabowo. Bahkan nama alternatif mereka berikan. Eh, nama itu oleh Prabowo gak dianggap. Sekarang mereka Ijtima ulang, untuk ikuti maunya Prabowo. 

Sayangnya saya gak nyaleg, kalau saya nyaleg saya pasti mau main Ijtima-ijtimaan. Agar supaya saya bisa bilang, pilih saya, karena saya hasil dari Ijtima ulama. Hasil Ijtima ulama itu keinginan Allah. Sehingga semua orang bodoh percaya dan memilih saya. Mereka takut dosa dan masuk neraka.

Apakah panik dengan Ijtima-ijtimaan ini? tentu tidak, karena setiap orang boleh buat ijtima-ijtimaan kayak gini, cuma masalahnya hanya segelintir orang yang mau melakukan itu. Saya malah jadi terpikir mau buat bisnis Ijtima. Saya tulis “MENERIMA PESANAN IJTIMA. HALAL DAN BERKAH. INI IJTIMA ASLI!”

Ulama itu bukan jabatan, hanya gelar yang diberikan oleh sekelompok orang. Kalau saya anggap si A, B, C yang bisa sholat dan bisa ngaji sebagai ulama, maka ulamalah mereka. Maka saya kumpulkan mereka, yang sevisi dengan saya, lalu putusan mereka saya publikasikan.

Atau kalau saya mau curang karena saya mau dapatkan uang, maka saya cari orang dari timur tengah (maaf ini bukan sara) lalu saya dandanin. Tidak boleh ada yang protes bahwa itu bukan ulama, karena tidak ada lembaga yang diberikan kewenangan mengeluarkan SK untuk jabatan ulama. 

Maka saya bisa buka bisnis ijtima. Para calon kepala daerah, calon legislatif, calon presiden bahkan calon ketua RW pun kalau mau dapat suara , silahkan gunakan jasa ijtima. Nanti calon Ketua RW bisa pasang spanduk dengan tulisan, calon ketua RW yang didukung ulama. 

Saya punya hak sebagai seorang muslim untuk kritisi hal ini. Label ulama jadi murahan dan jadi bahan lucu-lucuan. Padahal ulama itu gelar untuk orang yang dihormati. Putusan pakai label Ulama apalagi pakai label keinginan Allah, kok bisa direvisi? Ini jelas tidak dapat dibenarkan..

Sekali lagi, saya menyesal ngak nyaleg, kalau saya nyaleg, pasti saya undang mereka agar nama saya bisa terpublikasi sebagai caleg yang didukung ulama, apalagi sampai mengeluarkan Ijtima. Kalau tidak, saya buat aja sendiri ijtima-ijtimaan, agar saya bisa publish bahwa saya caleg yang didukung ulama. 

Toh ijtima-ijtimaan ini cuma buat kebutuhan pencitraan politik. Yah namanya pencitraan, ini tentu kerjaan tim kreatif. Makanya jika ingin gunakan jasa ijtima-ijtimaan ini, tentu tidak gratis. Karena saya harus membayar para pemeran ulama dan tentu saja kebutuhan pendukung lainnya. 

Sepertinya bisnis Ijtima-ijtimaan ini bisnis yang cukup menggiurkan. Gak perlu banyak modal, cuma dandanin orang jadi kayak pemuka agama, labelkan jadi ulama, gunakan kata Allah, lalu nakut-nakutin pemilih. 

Wah! bisa kaya raya gue!

No comments:

Post a Comment