Breaking

Tuesday, 25 September 2018

Di Pilpres, melawan hoax itu harus dengan cara menyerang, bukan bertahan.


Apakah dengan menjelaskan secara detail berdasarkan bukti dan aturan hukum bisa membuat pendukung Prabowo beralih mendukung Jokowi? tentu saja tidak. Kalau ada paling cuma 1-2 orang. Tidak sebanding dengan energi dan waktu yang dikeluarkan. Sebenar apapun infonya tentu sia-sia.

Diluar sana masih banyak pemilih yang belum menentukan pilihan. Mereka adalah pihak yang membutuhkan penjelasan berdasarkan bukti dan aturan hukum terkait berbagai fitnah. Mereka inilah yang menjadi sasaran penjelasan oleh kubu Jokowi, bukan untuk menyadarkan pendukung Prabowo. 

Karena walau sudah dijelaskan berkali-kali, tetap saja pendukung Prabowo akan katakan hal yang sama seolah-olah belum dijelaskan. Jadi setelah dijelaskan, penjelasan itu lalu di sebarkan. Agar supaya pemilih yang belum menentukan pilihan bisa bedakan mana fitnah dan mana yang bukan.

Ketika para pihak menyebarkan fitnah ke Jokowi, pendukung Jokowi sibuk bertahan dengan mengklarifikasi fitnah, lupa menyerang. Dan memang itu tujuan mereka, agar pendukung Jokowi lupa menyerang dan dibuat sibuk membuat klarifikasi sana sini.

Mereka merasa sah dan etis untuk menyerang kubu jokowi. Tapi ketika kubu dan pendukung Jokowi menyerang balik, mereka akan bilang, itu tidak etis dan minta untuk berkampanye yang etis dan manusiawi. Mereka mengatakan begitu agar kubu dan pendukung Jokowi berhenti menyerang dan hanya bertahan.

Mereka itu rapi, kalau diperintah untuk bilang info ini basi, maka semua bilang basi. kalau diperintah untuk bilang info ini fitnah, maka semua bilang ini fitnah. Mereka itu berjamaah menyebarkan satu isu dan berjamaah menjawab satu isu, walaupun jawaban mereka ngawur. 

Yang tidak ada, mereka opinikan seolah-olah ada, agar Jokowi dianggap punya cela lalu mereka sebarkan secara berjamaah. Jadi jangan gak enak menyebarkan hal negatif lawan politik Jokowi, toh yang disebarkan bukan fitnah, tapi fakta. Dan harus secara berjamaah juga menyebarkannya.

Sayangnya ada segelintir pendukung jokowi yang termakan omongan lawan politik, lalu mereka ingatkan sesama pendukung Jokowi untuk berlaku etis. Mereka lupa, ini bukan pengajian, ini perang. Perang melawan fitnah dan kelompok radikal. 

Tentu pendukung Jokowi jangan menyerang dengan fitnah juga, karena tanpa harus membuat fitnah, Pendukung Jokowi bisa misalnya membuka rekam jejak Prabowo-sandiaga yang tidak ada positifnya. Apalagi mereka didukung kelompok anti Pancasila dan Prabowo tidak anti pada mereka. 

Buka ke publik bahwa Prabowo sekolah diluar negeri karena bapaknya kabur ke luar negeri, takut hadapi persoalan hukum korupsi. Apakah itu fitnah? tidak.. Bapaknya Prabowo orang yang terlibat dalam pemberontakan PRRI. Apakah itu fitnah? tidak.. ada catatan sejarahnya.

Jadi jika ada fitnah soal Jokowi PKI dan orang tua Jokowi PKI, jangan hanya berhenti klarifikasi, tapi serang juga rekam jejak keluarga Prabowo. Bahwa ayah Prabowo diperiksa atas kasus korupsi dan kabur ketika akan diperiksa. serang balik.. itu salah satu contoh tema serangan. 

Mereka pasti bilang ini hoax walaupun yang dikatakan itu berdasarkan bukti. Mereka sudah diatur untuk bilang hoax, lalu melemparkan fitnah baru. Jangan debat, minta saja mereka buktikan fitnah itu dan serang lagi dengan fakta-fakta negatif Prabowo-sandiaga. Jangan hanya bertahan..

Mereka menyebarkan fitnah berulang-ulang setiap hari dan setiap saat. Maka jangan malu untuk menyebarkan bukti negatif Prabowo-sandiaga berulang-ulang. Kalau mereka katakan basi, jangan hiraukan, serang terus dengan data yang sama. Itu artinya mereka tidak punya jawaban lagi.

Kalau mereka bilang basi, becandain saja, lebih basi mana kejadian zaman firaun dengan rekam jejak Prabowo? artinya kalau ustadz menceritakan kejadian di zaman firaun untuk mengingatkan umat, pendukung Prabowo akan protes dan bilang, ah cerita basi! 😄

Modal kubu dan pendukung Prabowo itu tebal muka. Bahkan sampai mereka merasa hina dengan sikap mereka pun, mereka lakukan asal bisa dapatkan reaksi. Bahkan Sandiaga, saya yakin muntah membaca berita dia diangkat jadi ulama, tapi dia telan demi strategi.

Beda dengan kubu Jokowi, yang masih memanusiakan diri mereka. Tentu saja Kubu Jokowi tidak harus menghinakan diri mereka, karena menyerang itu bukan berarti hina. Menyerang untuk membuka sifat asli Prabowo-sandi, itu sah-sah saja. Jangan sampai rakyat tertipu dengan polesan kampanye.

Saya masih ingat ucapan Jenderal AM. Hendropriyono dalam suatu kesempatan, yaitu “Pertahanan yang paling ampuh itu adalah menyerang!”. Maka serang terus Prabowo-sandiaga dengan membuka rekam jejak mereka yang memang sudah negatif. Gak perlu malu dibilang tidak etis, hoax atau basi. 

Mereka intimidasi pendukung Jokowi untuk tidak berlaku seperti mereka. Ketika pendukung Jokowi berkelakuan seperti mereka, mereka bilang itu tindakan tidak etis. Padahal merekalah yang selama ini menyerang Jokowi dengan cara yang brutal dan sangat tidak etis. Mereka mendadak alim.

Makanya banyak yang heran, kenapa mereka selalu mempermasalahkan hal-hal yang kecil? Karena mereka butuh banyak hal untuk dilemparkan, agar pendukung jokowi sibuk menanggapi hal-hal kecil itu dan lupa menyerang rekam jejak Prabowo-sandiaga. Itu strategi mereka.

Saran saya, hal-hal kecil dijadikan bahan jokes dan fokus membuka rekam jejak Prabowo-sandiaga dan tentu saja prestasi Jokowi. Misalnya Prabowo itu anti Nasionalisme dan lebih pro ke asing. Prabowo itu membiarkan bangsa ini dirongrong oleh kelompok anti pancasila hanya demi suara pilpres.

Karena semua ucapan Prabowo-sandiaga hari ini, sangat bertentangan dengan rekam jejak mereka. Jadi sebarkan hal itu, jangan sampai rakyat tertipu dengan polesan kampanye. Ingat., pertahanan yang paling ampuh, adalah menyerang! 

1 comment:

  1. Apakah ada daftar berita2 negatif yang bisa kita serang di kampanye ini Bang?

    ReplyDelete