Breaking

Wednesday, 5 September 2018

Harga dolar Rp. 2.000, rakyat beli rokok ketengan. Harga dolar Rp. 14.000, rakyat beli rokok sebungkus. Lalu masalahnya dimana?


Harga dolar naik saat ini bukan karena ekonomi negara kita lemah, tapi karena terimbas defisit perdagangan Amerika serikat. Ditambah lagi perseteruan dagang antara Amerika dan china. Soal ini bisa kalian googling untuk mendapatkan penjelasan kenapa dolar menguat terhadap rupiah. 

Saya mau jelaskan bahwa krisis moneter tahun 1997 itu terjadi dan bisa diatasi. Tapi dolar kembali menguat hingga tembus 16.650 pada bulan juni 1998 dikarenakan terjadi kerusuhan massal dan jatuhnya rezim orde baru. Ekonomi internal tumbang pada titik rendah. 

Jadi harus dipahami bahwa krisis moneter itu terjadi bukan karena kesalahan urus negara tapi karena terimbas masalah dunia. Negara tinggal mensiasati bagaimana kenaikan dolar tidak begitu berimbas besar pada kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat. 

Krisis ekonomi yang berdampak sangat besar pada harga-harga kebutuhan pokok saat itu karena kerusuhan dan jatuhnya rezim orde baru. Bukan lagi masalah dunia, tapi masalah internal bangsa ini. Hal tersebut tidak terjadi di rezim Jokowi. Keamanan stabil dan ekonomi stabil.

Begini perbandingan simpelnya.., di tahun 1996, sebelum harga dolar naik, mayoritas masyarakat hanya mampu beli rokok ketengan. Makanya di berbagai warung zaman itu, rokok Sampoerna misalnya banyak dijual ketengan. Daya beli masyarakat ada tapi terbatas. 

Di era ini, harga dolar tinggi, tapi warung sudah jarang menjual rokok ketengan, karena masyarakat mampu membeli rokok perbungkus. Ini perbandingan yang paling mudah dan paling menyentuh kondisi riil di masyarakat. Sebelum harga dolar melonjak dan setelah harga dolar melonjak.

Artinya, ekonomi masyarakat di zaman orde baru sebelum krisis moneter tahun 1997, dimana harga 1 dolar masih Rp. 2000,- lebih rendah dibandingkan ekonomi masyarakat zaman sekarang yang harga 1 dolar di atas Rp. 14.000,- 

Melonjaknya nilai tukar dolar hingga Rp.16.650,- di tahun 1998 bukan masalah eksternal tapi masalah internal. Kerusuhan massal dan jatuhnya rezim orde baru membuat ekonomi nasional anjlok hingga harga-harga kebutuhan pokok melonjak tinggi. Itu masalah utamanya.

Rezim Presiden Habibie, Gus dur dan Megawati berhasil menurunkan kembali nilai tukar dolar dibawah Rp. 10.000,-. tapi bukan itu yang terpenting.., yang terpenting adalah mengembalikan ekonomi negara yang anjlok pasca kerusuhan dan pergantian rezim. Dan mereka berhasil. 

Dolar kembali bermasalah ketika kebijakan Presiden SBY melakukan impor BBM dalam jumlah besar dan melakukan subsidi BBM besar-besaran ke masyarakat, membuat neraca perdagangan Indonesia defisit sehingga dolar menembus Rp.12.000,-, ini terjadi karena keteledoran pemerintah.

Di zaman Jokowi, subsidi BBM dicabut, kebijakan-kebijakan era SBY yang melemahkan perekonomian nasional diperbaiki sehingga ekonomi masyarakat kembali menguat dan perekonomian negara sehat. Kenaikan dolar saat ini terjadi karena persoalan eksternal, bukan seperti di zaman SBY.

Walau harga dolar melonjak karena masalah eksternal, tapi tidak akan berpengaruh besar seperti pasca kerusuhan dan jatuhnya rezim orde baru, karena ekonomi internal sehat. Masalah eksternal ini bisa disiasati dengan perbanyak ekspor, meminimalkan impor dan negosiasi pembayaran yang jatuh tempo.

Tahun 1998, masyarakat merasakan lonjakan kenaikan harga, bukan karena krisis yang diciptakan external, tapi karena saat itu kondisi ekonomi negara rapuh ditambah terjadi kerusuhan dan tumbangnya rezim orde baru. 

Siapapun Presidennya, pasti harga dolar akan seperti sekarang ini, kecuali Presidennya bisa menghentikan perang dagang antar negara-negara besar. Yang dilihat itu adalah apakah ekonomi negara ini sehat atau tidak. Kalau sehat, gak begitu pengaruh besar kenaikan harga dolar. 

Jadi kalau ada yang teriak-teriak kenaikan harga dolar karena salah pemerintah, itu bodoh, karena ini tidak ada hubungannya dengan pemerintah. Pemerintah salah kalau membiarkan ekonomi rakyat terganggu karena kerusuhan dan mengganggu stabilitas keamanan negara.

Karena kalau sampai terganggu stabilitas keamanan negara seperti tahun 1998, maka itu akan berdampak pada ekonomi internal negara ini. Itu yang menyebabkan kenaikan harga melonjak tinggi. Bukan masalah perang dagang amerika dan china. 

Lihatlah, harga dolar sejak Jokowi menjabat di atas Rp.12.000,- hingga hari ini di atas Rp. 14.900,-, apakah harga-harga melonjak tinggi dan berimbas pada perekonomian masyarakat? tidak kan? Karena ekonomi negara ini sangat sehat dan stabil. Lalu kenapa diributkan? 

Bakwan yang saya makan pagi tadi harganya satu Rp.1000,- saya tanya istri saya, katanya harga ini sudah dari tahun lalu. Padahal dolar tahun lalu Rp. 13.000,-. Kenapa masih sama? karena ekonomi kita sehat. Stabilitas keamanan masih terkendali dengan baik.

Kenaikan dolar berdampak pada perusahaan yang membayar tagihan atau membeli barang dengan dolar. Biasanya ada negosiasi bisnis karena kenaikan nilai tukar ini, agar kerjasama terus lancar. Apalagi ekonomi nasional stabil seperti sekarang, membuat negosiasi bisnis lancar.

Jadi dengan ekonomi masyarakat yang stabil, bisa beli rokok sebungkus, bukan lagi ketengan seperti tahun 1998, maka jika ada kenaikan harga, bukan berarti kiamat, karena tidak terlalu berimbas seperti pada tahun 1998. Selama ini ada kenaikan harga pun tidak berpengaruh besar.

Karena ini masalah eksternal, maka semua warga negara harus bekerjasama. Paling tidak bersama-sama tetap menjaga stabilitas negara, jangan sampai terjadi huru-hara sehingga ekonomi negara rusak seperti tahun 1998. Ini yang sangat penting yang harus dilakukan kita semua sekarang ini.

Para pihak yang berpotensi memanfaatkan kenaikan dolar agar terjadi kerusuhan, perlu ditindak tegas. Di saat pemerintah berusaha mensikapi gejolak dunia (eksternal), mereka malah sibuk menggerogotinya agar ekonomi bangsa yang stabil menjadi terpuruk.

Saya pikir cukup jelas ya.. dan mari kita bekerjasama untuk membantu pemerintah. Paling tidak kita tidak memanfaatkan kenaikan dolar ini dengan tindakan yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan negara kita tercinta. 

No comments:

Post a Comment