Breaking

Thursday, 6 September 2018

Kalau 1 Dolar sampai 100 ribu, baru ekonomi kita anjlok seperti tahun 1998


Katanya jangan sampai dolar menyentuh 13 ribu, ekonomi bisa anjlok. setelah 13 ribu, ternyata ekonomi makin stabil. Lalu direvisi, jangan sampai 13.500,- ekonomi anjlok. Eh, gak juga. Revisi lagi 14.000, 14.500, sampai 15 ribu, ternyata ekonomi gak anjlok juga. Ini gimana sih? 

Lalu kalau gak anjlok, apa dibiarkan harga dolar meroket? tentu saja tidak. Pemerintah sekarang ini bekerja sangat keras. Mereka harus menyiasati bagaimana efek kenaikan dolar karena masalah external dunia, tidak merugikan para pelaku ekonomi di Indonesia dan tentu menjaga stabilitas keamanan. 

Kok bisa gak anjlok? Sejak pemerintahan dipegang pak Jokowi, dolar naik terus karena gempuran masalah dunia yang berimbas ke semua negara termasuk Indonesia. Kenapa Indonesia tetap terjaga ekonominya, walaupun dalam rentang kepemimpinan Jokowi, tentu ada kenaikan harga walau tidak signifikan?

Begini.. dulu harga dolar tahun 1998 di angka 16.650,- harga rokok naik menjadi 4-5 ribu. Harga rokok saya dulu di harga sekitar 4 ribu. Saya terpaksa harus beli, karena saat itu rokok adalah kebutuhan pokok saya. Tapi pas lagi kering, terpaksa ngeteng beli rokok. 

Harga rokok saya sekarang 20 ribu dengan kurs dolar 15 ribu (saya sudah berhenti merokok). Perbandingannya dengan yang dulu adalah, di Tahun 1998, ketika saya punya uang 1 dolar, maka saya bisa beli 4 bungkus rokok. Kalau sekarang, saya punya 1 dolar, saya tidak bisa beli rokok sebungkus. 

Artinya apa? artinya jika untuk mencapai KONDISI ekonomi masyarakat yang terpuruk seperti di tahun 1998, maka harga dolar harus ada di angka 80-100 ribu per dolar. Hitungannya sederhana saja, kondisi hari ini, perokok tidak masalah membeli rokok sebungkus bahkan 2 bungkus per hari

Tahun 1998, di saat harga dolar 16.650, masyarakat hanya mampu membeli rokok sebungkus seharga 4 ribu. Jadi kalau sehari 4 ribu, maka untuk kebutuhan rokok 4 hari, kita baru keluarkan 1 dolar. Kalau sekarang harus keluarkan 5,5 dollar untuk 4 hari. Bahkan bisa sampai 8 dolar. 

5 Tahun lalu, dengan uang 2 ribu, saya bisa beli bakwan 3. Sekarang dengan uang 2 ribu saya dapat bakwan 2. Jika dolar mencapai 18 ribu lalu bakwan jadi 1500 per buah, masih masuk akal. Karena saya beli tahu jeletot (tahu pedas) satunya 2 ribu. Dan tahu pedas itu selalu habis dibeli masyarakat. 

Kemampuan ekonomi masyarakat sekarang ini sangat tinggi jika dibandingkan tahun 1998, puluhan kali lipat. Indonesia adalah pasar yang paling bagus bagi negara lain untuk menjual produknya. Dari produk elektronik, makanan, entertainment dan sebagainya. Kita ini surga bagi negara lain. 

Maka mari kita sama-sama dengan pemerintah berjuang untuk menghentikan laju dolar dengan meminimalisir kebutuhan terhadap dolar. Kita tidak membeli produk impor dan tunda dulu jalan-jalan ke luar negeri. Perkuat membeli produk Indonesia. Itu yang paling mudah kita lakukan.

Ingat, kenaikan dolar saat ini karena efek dari pergerakan ekonomi dunia, bukan karena lemahnya ekonomi bangsa ini. Buktinya dari awal pergerakan dolar naik, ekonomi bangsa ini malah sangat sehat. Masyarakat tidak begitu terpengaruh besar dengan kenaikan dolar yang selama ini terjadi.

Karena ini adalah “invasi”.. “Invasi” dolar terhadap rupiah, maka semua pihak harus bekerjasama. Karena ini masalah kita bersama. Jangan malah di manfaatkan untuk kepentingan politik. Itu hina sehina-hinanya manusia. Saat bangsanya diserang, dia malah ikut menyerang bangsanya.

Ingat, dolar naik sampai 16.650 di tahun 98, bukan karena “invasi” dolar terhadap rupiah. Masalah eksternal sudah berhasil diredam, tapi dolar melonjak karena terjadi kerusuhan 98 dan turunnya rezim orde baru. Makanya masalah stabilitas keamanan sangat berhubungan dengan ekonomi.

Dolar mau sampai 20 ribu pun tidak akan menggoyahkan ekonomi bangsa ini. Tapi, jika stabilitas keamanan terganggu, maka itulah yang akan menggoyahkan ekonomi bangsa. Jadi jika ada yang mau mengganggu stabilitas keamanan saat ini, maka harus segera dilibas untuk kemaslahatan banyak orang.

Jelas ya.. 1 dolar tahun 1998 bisa membeli 4 bungkus rokok. Saat itu kebanyakan agak berat membeli rokok sebungkus, sehingga membeli ketengan. Sekarang ini, 1 dolar tidak bisa membeli sebungkus rokok, tapibkita mampu membelinya. Beda kemampuan ekonomi sekarang dan dulu. 

Mari kita bersama-sama melawan “invasi” dolar dengan berbagai hal yang bisa kita lakukan. Yang lebih mudah lagi adalah, dengan tidak memprovokasi dan tidak menyebarkan kebencian soal kenaikan harga dolar. Itu sudah sangat membantu.. 

Kalau bisa kita jadikan dolar sampai dibawah 10 ribu rupiah, agar para pelaku ekonomi di Indonesia bisa semakin sehat sehingga ekonomi masyarakat dan bangsa bisa lebih sehat dari sekarang ini.

No comments:

Post a Comment