Breaking

Sunday, 23 September 2018

Lawan terbesar Partai Demokrat adalah SBY. Selain gak paham aturan, ambekan lagi!


SBY itu perasaannya selembut salju, gak boleh ketiup sedikit, langsung lumer. Jadi semua pihak harus menjaga agar supaya perasaan halusnya SBY tidak lumer. Kalau perlu Presiden Jokowi membuat Keppres khusus, yaitu Keppres menjaga perasaan SBY.

Ditambah lagi dengan ketidakpahaman SBY terhadap aturan, membuat dia mudah terprovokasi sehingga mengambil keputusan berdasarkan perasaan halusnya bukan berdasarkan aturan. Kalau dia paham aturan, tentu dia tidak akan walkout pada acara kampanye damai..

Kan aturan dari KPU itu untuk Partai dan Pasangan capres/cawapres, masing-masing menghadirkan rombongan minimal berjumlah 34 orang dan maksimal 100 orang. Aturan itu untuk Partai dan Paslon bukan untuk masyarakat umum dan relawan. Jadi jika ada masyarakat umum berkampanye, itu bukan salah Partai/Paslon.

Apalagi dalam aturan kampanye, tanggal 23 September 2018 adalah dimulainya masa kampanye. Artinya pendukung Jokowi mau kampanyekan Jokowi, itu sah-sah saja. Aturan khusus yang dibuat KPU agar partai dan Pasangan calon tidak membawa atribut, itu hanya untuk saat deklarasi saja. SBY gak paham itu.

Kalaupun ditemukan ada rombongan dari Partai atau pasangan calon yang sudah terdaftar sebagai peserta deklarasi kampanye damai melakukan pelanggaran itu, maka SBY dan Partai Demokrat laporkan saja ke Bawaslu, bukan malah ngambek dan curhat ke media. Udah gak paham, ambekan lagi! 😄

Tapi ternyata yang membuat perasaan halus SBY terusik itu bukan rombongan resmi, tapi rombongan pendukung Jokowi. Mereka membawa atribut untuk mendukung Jokowi, dan itu sah-sah saja dan tidak melanggar UU! Ngawur kalau ada yang ngotot bilang melanggar UU. Udah salah, kenceng lagi.. 😄

Saya cukup prihatin dengan kondisi Partai Demokrat, punya pimpinan yang gak paham aturan tapi mudah tersinggung. Kasihan para pengurusnya, mereka harus menerjemahkan perasaan halus SBY, walaupun mungkin mereka tahu yang mereka lakukan itu ngawur. Tapi apa boleh buat??

Kalau ikuti logika dan perasaan halus SBY, artinya jika ada Partai lain melakukan pelanggaran di Pemilu Legislatif, maka yang dilakukan SBY adalah me-walkout-kan seluruh caleg Partai Demokrat dari pemilu legislatif, bukan melaporkan ke Bawaslu. 😁

Ketakutan Partai Demokrat sekarang ini, baik dalam Pemilu atau Pilkada bukan pada Jokowi, Prabowo, Partai politik lain atau pada lawan politik lainnya, tapi pada SBY. Demokrat makin tergerus karena sosok SBY. 

Sekali lagi, lawan terbesarnya Partai Demokrat adalah SBY.

Kalau ada yang bilang, ini strategi SBY seolah-olah terzolimi, maka saya yakin, seluruh pengurus Partai Demokrat akan mengatakan, sikap inilah yang membuat Demokrat semakin terpuruk. Diamnya SBY saja salah, apalagi bicara. Tapi tentu ini gak mungkin diucapkan di hadapan SBY.

Sebaiknya SBY dan Partai Demokrat belajar aturan pemilu dengan baik sebelum bertindak. Dan saran saya SBY, mulai belajar bersikap seperti layaknya lelaki sejati. Jangan mudah tersinggung..

Sudah gak paham aturan, mudah tersinggung lagi. Ya jadi bahan tertawaan masyarakat..

3 comments:

  1. Berarti belum dewasa penuh nih, masih suka ngambek secara politik. Itulah kalau partai disetting sebagai partai keluarga. Harusnya yg bukan keluarga tahu diri, jangan jadi pengurus partai.

    ReplyDelete
  2. Jendral baper, malu sama tukang kayu banyak prestasinya.

    ReplyDelete
  3. Saya sekeluarga gak bakal milih partai modell beginian ...

    ReplyDelete