Breaking

Friday, 14 September 2018

Statement AHY soal dua kaki, jadi Kampanye buruk bagi Caleg Demokrat


Sebenarnya yang terjadi adalah, ketika para tokoh penting Partai Demokrat mendukung dan akan memenangkan Jokowi menjadi Presiden 2019-2024, Partai Demokrat tidak berani memberikan sanksi pada para tokoh tersebut. Jadi ini gak ada urusannya dengan Pemilu Legislatif. 

AHY mengamini politik dua kaki ini, dia mengatakan, kaki kanan mereka ingin Pilpres menang, kaki kiri Pileg juga tidak boleh ditinggalkan. Pernyataan ini tidak nyambung dengan pertanyaan terkait adanya para tokoh Demokrat yang mendukung dan akan memenangkan Jokowi. 

Tapi anehnya jawaban ini dipakai untuk menjawab perihal politik dua kaki dimana para tokoh besar Demokrat mendukung Jokowi. Mungkin karena alasan itu keluar dari mulut AHY, jadi dianggap jawaban yang paten. Padahal ngak nyambung sama sekali. 

Faktanya, Partai Demokrat tidak bernyali menindak kadernya. Akui saja itu karena memang begitu faktanya. Apa yang diucapkan oleh AHY, itu hal yang berbeda, beda kasus. Dan jika hal itu dilakukan dalam konteks Pemilu Legislatif yang dihubungkan dengan dukungan Kader demokrat ke Jokowi, jelas sangat tidak pantas.

Kok tidak pantas? Begini.. Caleg Partai Demokrat sama saja diajarkan untuk menang dengan cara yang tidak pantas. Kalau di daerah basis Jokowi, maka mereka mengaku pendukung Jokowi. Kalau di daerah basis Prabowo, maka mereka mengaku pendukung Prabowo. Ini jelas tidak pantas..

Caleg seperti diarahkan memanfaatkan situasi ini agar bisa memenangkan Pemilu Legislatif. Caleg tidak diajarkan bagaimana meyakinkan masyarakat memilih Prabowo di basis pendukung Jokowi, tapi seperti diarahkan untuk bermain dua kaki, yang penting bisa memenangkan pemilu legislatif.

Statement AHY bisa jadi kampanye buruk bagi Caleg Demokrat. Ketika mereka datang ke masyarakat di basis Prabowo, mereka tidak akan dipercaya, karena pendukung Prabowo akan bilang, disini kalian bilang dukung Prabowo, disana kalian akan bilang dukung Jokowi. 

Masyarakat akan bilang, Caleg lain berjuang mengkampanyekan Prabowo atau Jokowi dimanapun mereka berada, sedangkan Caleg Demokrat tidak perlu berjuang. Disini mereka bilang dukung Prabowo, disana mereka bilang dukung Jokowi. Tidak jelas identitasnya..

Hal ini akan digunakan oleh Caleg dari Partai lain untuk mengalahkan Caleg Partai Demokrat. Mereka akan kampanyekan, jangan pilih caleg Demokrat yang bermain dua kaki. Pendukung Prabowo dan Jokowi jangan pilih caleg Demokrat, Karena mereka gak punya identitas yang jelas.

Kan begitu membacanya.. Karena AHY ngak bilang bahwa seluruh Caleg Partai Demokrat akan diarahkan untuk memenangkan Prabowo-sandiaga, tapi malah mengakui dua kaki untuk memenangkan Pileg dalam konteks kader demokrat mendukung Jokowi di berbagai daerah. 

Semakin AHY beralasan untuk menutupi ketidakmampuan Demokrat untuk bertindak tegas pada kadernya, maka semakin tidak jelas identitas Demokrat, dan tentu menjadi mimpi buruk bagi caleg demokrat di lapangan. Mereka akan dikenal sebagai caleg bunglon, caleg tanpa identitas. Dan tentu itu buruk. 

Masyarakat pendukung Prabowo, akan memilih caleg dari Partai yang identitasnya jelas. Dan masyarakat pendukung Jokowi akan memilih caleg dari Partai yang identitasnya jelas. Kalau identitasnya gak jelas, siapa yang mau memilih? 

1 comment:

  1. Ga heran Bang Ted..kadernya ada yg udah main kaki tiga bahkan kaki lima dgn menjual kisah asia sen**nel.

    ReplyDelete