Breaking

Tuesday, 16 October 2018

Prabowo meninggalkan koalisi??


Analisis saya, Prabowo telah memutuskan untuk “berkoalisi” dengan Jokowi. Ini yang membangkitkan amarah Partai koalisi lain dan tentu saja sandiaga. Mereka seperti terjebak dalam bus yang sopirnya melarikan diri ke tengah hutan sambil membawa kunci bus.

Prabowo telah mengangkat bendera putih, bahkan mungkin sudah mengirimkan bendera putih ke Istana. Dengan harapan Gerindra mendapatkan posisi di Pemerintahan Jokowi Periode 2019-2024. Masyarakat awam mungkin tidak membaca hal ini..

Alasannya apa? tentu Prabowo tidak sebodoh peran yang dia lakukan sekarang, tentu dia punya hitungan politik, Jokowi bukan Ahok yang bisa dikalahkan dengan isu agama. Sedangkan jika dibandingkan dengan Jokowi, Prabowo sadar, soal agama, tentu dia tidak sehebat Jokowi.

Tentu Prabowo tidak bisa berharap banyak lagi, karena mau gunakan isu apapun sudah sulit, sedangkan dia sendiri punya rekam jejak yang sulit diterima masyarakat. Mau berharap dengan sandiaga sulit, selain punya rekam jejak buruk, apa yang diharapkan dari orang yang suka bersikap aneh?

Sandiaga dan Partai koalisi tentu merasa ada strategi dalam strategi di internal. Mereka merasa Prabowo sedang memainkan peran lain untuk kepentingan Gerindra, bukan lagi untuk kepentingan Pilpres. Prabowo memberikan ruang bagi Jokowi untuk menang mudah. 

Berani tidak Prabowo dan Gerindra menyatakan mereka tidak akan pernah mau diberikan jabatan apapun di dalam pemerintahan Jokowi? baik diminta apalagi meminta? Saya yakin Prabowo tidak akan mungkin berani menyatakan itu. Dia telah “berkoalisi” dengan Jokowi untuk kepentingan Partainya.

Makanya Prabowo terus melakukan hal konyol dalam berbagai statement di mana-mana. Dia terus memproduksi umpan yang mudah untuk bisa dipatahkan para pendukung Jokowi dan dianggap statement aneh oleh masyarakat pemilih. Sikap Prabowo tentu membuat koalisi dan Sandiaga curiga.

Hal terbaru yang menguatkan analisis saya adalah ketika banyak yang curiga bahwa Prabowo gunakan pola Trump, dia malah mengamini dalam pidato. Tentu ini jadi dagelan, karena strategi itu biasanya terbuka setelah selesai, bukan malah terang-terangan. Dan ini memang disengaja oleh Prabowo. 

Prabowo ibarat orang yang hanya sekedar makan saja agar bisa hidup, karena takut mati kelaparan. Tentu dia tidak ingin terlalu menunjukkan keengganan dalam berkampanye. Dia sesekali muncul hanya untuk mengeluarkan pernyataan konyol yang makin menjatuhkan elektabilitasnya.

Prabowo berhitung secara politik, Jokowi sulit dikalahkan, dan prabowo juga tahu bahwa setelah kekalahan, Partai koalisi lain akan merapat ke Jokowi meninggalkan Gerindra yang menjadi oposisi. Adalah kerugian besar bagi Gerindra jika menjadi oposisi lagi saat Pemilu 2024.

Pemilu 2024 adalah Pemilu bebas petahana. Kalau di bola, Pemilu bebas transfer. Maka menjadi bagian dari kekuasaan untuk menapaki Pemilu 2024 adalah suatu keharusan dalam perhitungan politik. Prabowo tentu menyadari hal itu, dia ikut atau dia ditinggal sendiri..

Prabowo telah belajar dari Pemilu ke Pemilu, tentu dia meyakini bahwa mengeluarkan dana pada Pemilu 2019, sama seperti dia menabur garam di air laut. Harus ada cara agar bisa masuk dalam kekuasaan walau kalah di Pemilu 2019. Biarkan Sandiaga yang membiayai kampanye ini..

Tentu setelah analisis ini saya sampaikan, Prabowo akan memodifikasi sedikit polanya agar tidak terlihat sama dengan analisis ini. Tapi yang pasti Prabowo tidak akan berani menyatakan tidak akan pernah mau masuk ke pemerintahan baik ditawarkan apalagi meminta. Tidak akan..

Prabowo bukan orang bodoh. Kebodohan yang dia lakukan adalah bagian dari strategi yang didasari akal sehat. Akal sehatnya menyatakan tidak untuk Pemilu 2019, tapi ini untuk Pemilu 2024 tanpa petahana. Dan Gerindra harus ada di dalam kekuasaan sebagai investasi menuju 2024.

No comments:

Post a Comment