Breaking

Friday, 19 October 2018

Untuk apa diperdebatkan?


Kenapa saya gak mau ikut berdebat tentang kenaikan harga BBM? wong harga BBM gak jadi naik, kenapa harus berdebat untuk sesuatu yang tidak ada? Harga Premium masih sama seperti beberapa minggu lalu, jadi untuk apa diperdebatkan?

Kenapa saya gak mau ikut berdebat tentang kenaikan dolar yang sampai 15 ribu? wong harga krupuk, gado-gado dan buah yang saya beli, masih sama seperti sebelum dolar naik sampai 15 ribu. Jadi kenapa saya harus berdebat untuk sesuatu yang tidak perlu diperdebatkan? 

Kenapa saya gak perdebatkan ada yang bilang Prabowo bukan penculik dan bukan pelaku kejahatan HAM? Wong Prabowo sudah mengakui bahwa dia penculik, jadi kenapa saya harus berdebat untuk sesuatu yang tidak perlu diperdebatkan lagi? hanya buang-buang waktu..

Kenapa saya gak perdebatkan ada tudingan miring bahwa Jokowi tidak benar mengembalikan kekayaan Indonesia dari pihak asing? Wong ada bukti secara hukum sudah kembali ke Indonesia kok, jadi kenapa saya harus berdebat untuk sesuatu yang sudah pasti kebenarannya?

Kenapa saya tidak ikut dalam perdebatan terkait tudingan Jokowi anti ulama? wong Cawapres Jokowi itu Ketua Majelis ulama, “mbahnya” para ulama, bukan ulama jadi-jadian. Lalu untuk apa saya berdebat hal yang tidak perlu diperdebatkan lagi? 

Kenapa saya tidak ikut dalam perdebatan yang menyatakan peristiwa Penculikan yang dilakukan Prabowo basi? Wong peristiwa Nabi dan rasul saja sampai detik ini gak ada basinya, apalagi Peristiwa penculikan yang belum lama? Lalu untuk apa saya ikut berdebat tentang basi tidak basi?

Kenapa saya tidak ikut dalam perdebatan tentang kriminalisasi dan Persekusi? Wong yang melakukan "persekusi" dan "kriminalisasi" bukan Jokowi. Tidak seperti Prabowo yang terbukti sebagai pelaku. Lalu untuk apa saya berdebat terhadap sesuatu yang tidak dilakukan oleh Jokowi?

Kenapa saya tidak ikut dalam perdebatan tentang salah benar dengan pendukung Prabowo? Wong mau Prabowo anti agama pun, mereka tetap gak akan berubah mendukung Prabowo. Lalu untuk apa saya habiskan energi? Mending saya sebarkan rekam jejak Prabowo-Sandi yang memang tidak ada positifnya. 

Kenapa saya tidak ikut dalam perdebatan soal ulama pendukung A lebih hebat dari ulama pendukung B? Wong mereka itu bukan Prabowo atau Jokowi yang nanti akan dipilih di Pilpres. Lalu untuk apa saya berdebat tentang hebatan mana kalau mereka tidak ada di kertas suara? 

Kenapa saya tidak ikut berdebat dalam pro kontra penyerapan tenaga kerja dan daya beli turun? wong paling simple di depan mata saja, makin banyak ojek/mobil online, artinya bisnis jual beli makin makmur. Maka makin banyak yang bekerja dan makin banyak yang belanja. Jadi untuk apa berdebat? 

Jadi saya hanya akan berdebat untuk hal yang perlu diperdebatkan bukan untuk hal yang tidak perlu diperdebatkan. Hal-hal yang sudah pasti, saya sebarkan untuk para pemilih yang belum menentukan pilihan, bukan yang sudah punya pilihan, karena hanya menghabiskan waktu. 

No comments:

Post a Comment