Breaking

Sunday, 2 December 2018

AMPAS 212 (Alumni Prabowo-Sandiaga 212)


Reuni 212 dilaksanakan ada yang panik? tentu tidak, karena acara itu adalah acara internal pendukung Prabowo-sandiaga. Saya dan mungkin yang lain menanggapi karena acara ini membawa-bawa nama umat dan agama, apalagi saya tidak pernah minta diwakilkan oleh reuni 212.

Yang hadir di Reuni 212, semuanya pemilih dan tim sukses Prabowo - sandi. Sayangnya mereka malu bahkan cenderung minder untuk mengakui bahwa mereka orang-orangnya Prabowo. Mereka berlindung dibalik kata agama dan umat untuk menjual Prabowo. Tentu ini hal yang tidak sehat.

Pemilih Prabowo di seluruh Indonesia ada 28% dari total pemilih di Indonesia. Peserta reuni 212 adalah pemilih yang termasuk dalam 28% itu. Ini yang saya katakan mereka syur sendiri tapi tidak menambah pemilih. Mereka berkumpul hanya untuk bertemu kangen antar mereka saja.

Saya pernah katakan, kalau Prabowo akui dia seorang komunis, mereka tetap akan memilih Prabowo. Jadi tidak perlu bersusah payah meyakinkan 28% itu untuk beralih ke Jokowi. Nah Reuni 212 adalah bagian dari 28% yang akan tetap memilih Prabowo walaupun Prabowo mengaku Komunis.

Reuni 212 walau tidak resmi, adalah sayap Tim Kampanye Nasional Prabowo-Sandiaga. Sekelompok orang yg tidak menyukai Jokowi. Mereka akan memilih siapapun lawan Jokowi, mau benar atau tidak yg penting ada nafasnya. Jika lawan Jokowi kudanil, mereka pasti akan memilih kudanil. 

Kalau saya Prabowo, saya akan minta Reuni 212 berani mengkampanyekan dirinya, jangan berlindung dibalik umat dan agama, karena tidak bisa menambah pemilih. Peserta reuni itu sudah jelas pemilih dia, untuk apa habiskan dana dan waktu jika membuat acara tapi tidak bisa menambah suara?

Hingga bulan Desember 2018, suara untuk Prabowo-sandiaga tetap bertahan di 28%, Padahal sudah didukung oleh alumni 212, sudah didukung dengan isu Jokowi PKI, bahkan sampai ada yang memaki-maki Jokowi, tetap saja segitu. Bisa dibilang, Alumni 212 tidak berguna dalam memenangkan Prabowo.

Kalau Prabowo ikut membiayai acara reuni ini, tentu secara hitungan politik dan ekonomi rugi. Karena acara ini sama seperti acara Ijtima ulama, tidak menambah pemilih untuk dirinya. Reuni ini acara syur-syuran sendiri. Tetap saja pemilih Prabowo berada di angka 28%.

AMPAS 212 (Alumni Prabowo sandi 212) harus segera dibentuk. Jangan gunakan nama agama dan ulama untuk kegiatan politik, itu tindakan pengecut. Saya dan yang lain berhak membela agama kami yang dijadikan sebagai alat politik oleh para pihak. Agama kami bukan untuk bahan jualan dan bualan.

Jadi kalau Alumni 212 sudah menjadi AMPAS 212, tentu saya dan yang lain tidak akan menanggapi, karena yang mereka jual bukan agama saya dan ulama, yang mereka jual adalah Prabowo-Sandiaga. Mau 10 juta orang yang hadir di acara AMPAS 212, gak ada yang peduli. 

Tentu dengan adanya AMPAS 212, bisa membantu Prabowo-Sandiaga mendapatkan pemilih tambahan. Menjual agama dan ulama hanya menutup pintu penambahan pemilih. Karena bagi umat Islam itu hal yang memalukan, bagi umat beragama lain apa lagi. 

Saya berharap AMPAS 212 segera terwujud, sehingga pertarungan politik yang sehat terjadi di negara ini. Dan tentu saja, Prabowo - Sandiaga tidak lagi merugi jika mengeluarkan dana untuk AMPAS 212. 

Di tunggu segera deklarasinya!

No comments:

Post a Comment